Follow Me

Saturday, November 22, 2025

Percuma Kesindir Doang Kalau Geraknya Nol

November 22, 2025 0 Comments
Bismillah.



-Muhasabah Diri-



Beberapa waktu yang lalu aku nonton podcast dari channel Luminihsan. Kenal channel ini karena setelah dengerin podcast di channel lain tentang salah satu founder Luminihsan. Singkat cerita, kalau pengen dapat manfaat lebih banyak, langsung dengerin podcastnya aja ya. Di sini aku cuma ingin mengalirkan rasa sekaligus mengingatkan diri.  
 
 
 

Sesuai judul post ini, aku sejujurnya kesindir saat nonton podcast tersebut. Dari sana aku paham bahwa setiap orang punya jalannya masing2, perempuan ada yang sibuk dan fokus jadi IRT, ada yang fokus ke karir, ada yang fokus ke studi. Semuanya baik. Bagian kesindirnya sebenernya karena aku merasa selama ini begitu fokus ke diri, tenggelam dalam masalah diri, tanpa memberikan kontribusi lebih banyak ke orang lain. Gak banyak memberi manfaat, kecuali kecil. Ya masih nulis sih, masih jadi admin wa grup supporting baca buku, tapi ya cuma itu.



Mana semangatnya dulu untuk lebih dekat dengan Quran? Apa kabar interaksi dengan quran? Kapan melingkar lagi saling mengingatkan untuk bisa tadabbur, menghafal, dll.



Mana semangatnya untuk menulis buku? Apa kabar draft yang sudah berdebu itu? Ini tahun berapa dan udah akhir tahu pula ><



Mana semangatnya untuk cari temen dan bisa buat komunitas literasi di purwokerto, sebulan sekali lah, adain silent reading bareng, lalu sharing dan diskusi bacaan bulan tersebut? Katanya udah nemu temen yang bisa diajak, kenapa malah milih untuk diam dan tak berusaha menceritakan ide dan mengajaknya?



Mana semangatnya menuntut ilmu agama? Katanya mau bikin resume buku? Kok gak diterusin? Kajian tiap pekannya? Masa merasa cukup cuma ngariung tiap pekan, tapi di luar itu? Coba cek lagi FYP, cek lagi history youtube. Lebih banyak nonton konten yang sifatnya hiburan, atau konten belajar?



Mana semangatnya belajar bahasa? Katanya mau share catetan dan progres belajar bahasa? Kok ampleng? Kenapa? Kesangkut overthinking dan terhalang dinding-dinding yang dibangun sendiri?



Mana semangat rutin olahraganya? Gak perlu cari kondisi ideal. Padahal banyak juga olahraga sederhana yang bisa dilakukan di rumah, kalau pas lagi gak bisa jalan-jalan pagi. Itu aplikasi olahraga install kapan, cuma dipake sekali, habis itu dianggurin. Sampai masuk daftar aplikasi yang harus dihapus karena sudah gak dipake begitu lama.



Hei! Jangan cuma sekedar merasa kesindir, sensi, tapi geraknya nol. Kasihan hatimu! Kesindir itu bentuk sentuhan agar hati peka, kalau habis itu kamu cuma diem dan gak gerak. Hatimu bisa sakit. Bukankah harusnya hati adalah raja? Dan otak sebagai penasihat? Jangan sampai malah membiarkan si nafsu bodoh yang menyetir diri.



Halo! Tuh udah dibantu ditulis, dirinci, biar tahu dengan jelas gerak apa yang harus dilakukan. Ayo mulai, dari yang kecil, dari hari ini. Jangan menunda!!! 
 
 
 
 
 
 
Barangkali ada yang baca sampai sini, semoga sedikit kutipan buku di atas bisa memberikan lebih banyak manfaat ketimbang baca keluhanku pada diri.
 
"Sesungguhnya hal ini terjadi karena : (1) sifat menunda-nunda, (2) lemahnya keinginan, (3) ketergantungan kepada bantuan rang lain, (4) tidak adanya kesungguhan dalam diri, dan (5) tidak bersegera dalam melaksanakan perintah." 
 
Sekian. Mari memulai gerak! 

Saturday, November 15, 2025

Ujian Kejujuran

November 15, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Baru saja import tulisan quote & insight ke Medium. Trus seperti biasa buka twitter (it's still hard for me to call that web x wkwkwk. biarin aja ya, ketahuan banget umur udah tua). Anyway, buka twitter, share beberapa link tulisan yang belum di-share, lalu menulis caption ini untuk tulisan import dari medium berjudul kejujuran:

 

Pengingat kejujuran. Hal sederhana, yang sayangnya sudah terkikis pelan-pelan sejak kecil. I see other people fell 'the test', never knowing someday I would fall the test too. Have you fall into the sins of lies? How deep?
 

Selesai tweet. Ada rasa bersalah. Rasanya caption-nya begitu click bait, tidak sesuai dengan isi linknya. Isi linknya cuma tentang pengingat kejujuran, trus insightnya juga pendek, ayo jujur dan jangan jatuh ke dalam kebohongan. Tapi caption-nya... seolah-olah aku hendak menceritakan bagaimana aku melihat orang lain jatuh di ujian kejujuran. Dan bagaimana aku pun diuji hal tersebut.

 

Karena rasa bersalah itu, aku akhirnya menulis ini. Just in case someone felt disappointed after clicking that import post on medium.

 

***

 

Pengingat kejujuran. Hal sederhana, yang sayangnya sudah terkikis pelan-pelan sejak kecil. I see other people fell 'the test', never knowing someday I would fall the test too. Have you fall into the sins of lies? How deep? - @isabellakirei

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Aku teringat seorang teman SD yang mencontek demi nilai bagus, yang dicontek adalah sahabat SDku yang sangar, digigitlah itu anak yang mencontek. Yang dihukum siapa? Yang menggigit hahaha. I'm proud of her though. She's one of my real bestie. Alhamdulillah masih terjalin silaturahim, belum lama ketemu langsung, makan bareng dan "menangkap" momen bersama dalam ruangan kotak.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Aku juga teringat saat Ujian Nasional dan Ujian Sekolah di SMP. Bahkan guruku sendiri memberitahuku untuk tidak pelit memberikan contekan pada teman saat ujian. Guru TT >.< Pun aku ingat saat menangis kejer di kamar mandi SMP, saat merasa terkhianati, saat aku tahu teman dekatku ternyata memilih jalan beli kunci jawaban Ujian Nasional.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Masih sama, momen Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah kelas 12 dulu. Aku teringat ada segerombolan siswa yang memberi kunci jawaban, saat sebelum ujian yang lain sibuk belajar, latihan mengerjakan soal, mereka sibuk menghafal kunci jawaban. Aku juga teringat saat malam sebelum ujian kimia (entah ujian nasional atau ujian akhir sekolah), tiba-tiba tersebar kisi-kisi soal uraian. Semua orang sibuk berusaha mengerjakan soal kisi-kisi tersebut. Ada yang bertanya padaku cara mengerjakan dan jawabannya. Saat itulah hatiku berteriak tanpa suara, aku tidak bisa tidur sampai aku membuat catatan di Facebook dan membagikannya ke teman-teman kelasku. Aku gak mau ikut-ikutan. Pun sebelum masuk kelas, ada saja yang masih menanyakan soal-soal tersebut padaku, dengan halus aku menolaknya, aku takut, bagiku ada yang salah, meski orang lain berpendapat itu sah-sah saja karena cuma kisi-kisi. Kisi-kisi apa yang bentuknya jelas-jelas soal yang bisa dikerjakan? Pun aku merasa semakin yakin dengan pilihan sikapku, saat ujian berlangsung dan benar, soalnya begitu mirip, meski mungkin angkanya berbeda. Aku tidak tahu persisnya karena setelah perasaan tidak nyaman aku memilih untuk mengabaikan soal kisi-kisi meski sudah melihatnya.

 

Tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Pun saat di kampus dulu. Mulai dari dua mahasiswa yang dihukum karena tugas matkul TTKI (Tata Tulis Karya Ilmiah) membuat kalimat sama persis, lalu disuruh maju ke kelas. Atau saat aku dibuat kaget setelah tahu ternyata banyak mahasiswa yang memilih untuk mengerjakan PR pemrograman mencontek file tugas kakak tingkat nim 001 yang memang pintar. I don't know how they get the files though, never really seen the actual file, only heard about it. Atau saat aku dulu ikut kelas sama satu tingkat di bawahku, ada kuis dadakan, aku duduk di belakang, saat sudah selesai kuis dikoreksi bersama, tukeran gitu sama temen sebelah. Dan temen sebelahku memilih untuk memberi tahu nilai yang salah, aslinya 100 (benar semua), jadi salah satu. Kenapa? Karena dia takut ketahuan saling contek karena satu baris nilainya sama semua. Sungguh mengherankan >.< Mohon yang tahu almamaterku, jangan dijadikan ini sebagai stereotipe ya. Karena ya, pasti ada oknum seperti itu. Aku yakin banyak juga yang jujur.

 

Sekian tentang orang lain yang jatuh di ujian kejujuran. Kali ini setelah jari telunjuk selesai, empat jari lain mengarah padaku. Aku pun pernah jatuh di ujian kejujuran. Memang bukan seperti yang di contoh di atas. Tapi aku ingat beberapa kali berbohong pada orangtua, teman, dan dosen, perkara progres kepenulis tugas akhir. TT  Mungkin aku pernah menulis tentang itu di sini, atau di blog anonim lain. Intinya once you fall for this test, a small lies becomes bigger and bigger. It also makes you anxious all the time, afraid someone's gonna catch your lies. Pelajaran pahit banget untukku. Cukup untuk mengajarkanku lebih baik diam jika tidak bisa mengatakan kebenaran. Kuatkan dulu iman, lalu saat beranikan diri untuk jujur. Jujurlah pada diri dulu, dan tentu jujur juga pada orang lain.

 

Ujian kejujuran adalah ujian yang akan berulangkali hadir dalam hidup kita. Dan untuk bisa lulus dari ujian ini, terkadang kita harus remidial. Tak apa. Yang penting jangan memberi label pendusta pada diri. Teruslah berlatih dan belajar untuk jujur, pada diri dan pada orang lain.

 

Untukku saat ini, mungkin ujian kejujuran niat. Jangan sampai bilangnya ingin ini itu, tapi prakteknya nol. Itulah tantangannya kalau banyak nulis. Sama kaya orang yang banyak bicara. Ada ujian kejujuran juga di situ. Jangan sampai apa yang ditulis berbeda dengan kenyataan. Bukan berarti kita jadi tidak bisa menyampaikan kebenaran hanya karena kita masih berjuang meniti dan menegakkan kebenaran itu. Tapi jujurlah dalam usaha dan effort kita. Cause Allah sees our effort. Menuliskan ini jadi mengingatkanku pada manusia, bulan, fase bulan. We're all have the dark part, the back part of the moon. And We're going through phases like the moon, we're not always the beauty and full bright moon. Tapi bukan berarti itu menghalangi kita untuk menyampaikan kebenaran. Like what the old saying is, katakan kebenaran meski pahit,.

 

Sekian. Semoga Allah memudahkan kita untuk lulus ujian kejujuran. Aamiin. 

 

Terakhir, sebuah doa. Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnat-tiba'ah, wa arinal bathila bathila warzuqnaj-tinabah. Aamiin.

 


 

Wallahua'lam bishowab. 

Tuesday, November 11, 2025

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes

November 11, 2025 0 Comments

Bismillah. 

#SelfDiscovery

 


As someone who really quotes, it’s really difficult to answer. Ada begitu banyak kutipan yang esensinya kuhafal meski literal kata per katanya tidak aku ingat semua.



Aku awal suka mencatat quote dari buku dimulai dari buku Jalan Cinta Para Pejuang-nya Salim A. Fillah. Baru pernah aku menemukan buku non-fiksi dengan gaya bahasa yang puitis. Setiap kalimat dalam paragrafnya rasanya ingin aku catat dan hafalkan. Aku ingat dulu menyalin kalimat-kalimat dari awal bab sampai akhir bab, hanya karena buku yang kubaca tersebut adalah buku yang kupinjam dari temanku, jadi harus dikembalikan.



Beberapa diantaranya yang aku ingat, oh ya, ini gak literal kata per kata ya, aku menulis ulang dari ingatan, kalau ada yang salah, tolong dikoreksi,


"Bersyukur adalah mengejawantahkan nikmat, yang duduk jangan puas hanya duduk tapi berdirilah. Yang berjalan jangan puas hanya dengan berjalan, tapi berlarilah"


"Hati bicara tanpa kata, tapi ia terasa"

 

Juga quote,  


"Ajari kami bunda hajar, bagaimana iman melompati rasa suka tidak suka. Ajari kami ahli badar,… dst", ini suka banget.



Intinya kaya puisi minta diajari dan dikasih tahu, bagaimana agar iman kita bisa sekuat mereka. Seperti saat bunda hajar ditinggal berdua bersama bayi ismail di padang pasir antah berantah. Pun sahabat yang perang badar, bagaimana jumlah mereka sangat jauh dibandingkan lawan. Pun para penggali parit di perang Khandaq. 
 
Tapi berhubung kutipan di atas aku cari-cari di internet gak nemu--maybe it's a sign that I should buy the book and re-read it again. Untuk SelfD kali ini, izinkan aku cantumkan saja quote dari Ustadz Salim A Fillah yang sering banget aku ulang di sini. Qadarullah quote ini termasuk salah satu yang kupegang saat dulu berjuang keluar dari overthinking dan mencoba keluar dari "gua" setelah lama menghilang dari peredaran.


"Ketika kita mengubah sikap mental kita kepada Allah, dari tidak mau tahu menjadi peduli, dari berburuk sangka menjadi ber-husnuzhzhan, dan dari ragu menjadi yakin padaNya, saat itulah Allah akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita" - Salim A. Fillah


***


Ada sebuah quote ini terlintas saat sedang menulis draft ini. Aku lupa persisnya dimana, tapi seperti di kata pengantar bukunya Salim A Fillah. Kutipan dari Ustadz Fauzil Adhim, tentang niat. Semoga menyalin quote ini mengingatkan lagi diriku untuk semangat menulis dan terus memperbaiki niat.
 
I know for me publishing a solo book seems like dream far away, not because outer factors, but because I have my own "mountain" that I made myself. Anyway, gapapa perbaiki terus niat dan teruslah menulis. Someday, somehow, you will exit that self-sabotage phase. Ada banyak istighfar dan taubat yang harus terlebih dahulu dilakukan, sebelum memberanikan diri meninggalkan pantai dan berlayar jauh. Ini quotenya: 
 
 
"Awalnya dari niat, kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah sesuai dengan niatmu -M. Fauzil Adhim"


Untukku dan untukmu yang barangkali punya niat nerbitin buku tapi maju mundur kaya aku, Baca juga: Maukah Kamu Menjadi Penulis?



***


Sebelum ditutup, ada satu lagi quote. Pengennya sih yang bahasa inggris ya hehe. Tapi sebenarnya belum nemu, mungkin quote dari Ustadz Nouman, atau dari Yasmin Mogahed. Sudah coba cari dari highlight igs, dan blog. Tapi belum nemu yang pas. Tapi karena draft ini sudah harus rampung dan di publish. Mungkin aku hanya ingin mengutip dengan quote sederhana yang mungkin terkesan biasa saja bagi banyak orang. Tapi bagiku, quote ini berkali-kali mengingatkanku untuk lebih bersabar pada diri, yang terus menerus terpelanting dan jatuh, tergelincir karena kebodohan diri. 
 
"Don't give up on yourself"


Kenapa gak boleh menyerah pada diri? 

People will give up on you all the time. Parents will give up on you. A spouse will give up on you. Friends will give up on you. But Allah will not give up on you.

Allah never gives up on you.
- Nouman Ali Khan 
 
 
Terakhir, kututup dengan kalam-Nya,



۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Surat Az-Zumar (39) ayat 53]



Wallahua'lam.



***


PS: Aku baru nyadar saat hendak post, ternyata judulnya my top 5. Aku cuma ngehighlight 3 quotes: dari ustadz Salim, ustadz Fauzil Adhim, sama ustadz Nouman Ali Khan. Kurang dua. Ini dua tambahan, bukan top favorite quotes, tapi recent quote that stuck in my mind:  
 
When Allah exposes you, it means Allah loves you that you will stop the sin. -Mufti Menk 

Satu lagi, 
 
Since when did "small" means useless? 

 

Baca transkripnya untuk tahu konteks lengkapnya. Singkatnya pengingat framework pemikiran kita. Jangan sampai salah dan akhirnya memilih tidak melakukan sesuatu hal kecil hanya karena impactnya gak terlihat atau hasilnya belum terlihat. Jangan lupa bahwa Allah melihat dari usaha, dan Rasulullah pun mengajarkan kita, bahkan jika esok hari kiamat, tanamlah biji/benih pohon. 

 

Oh ya, what's your top 5 favorite quotes? 

 

***

 

Baca juga:

 



 

 




SelfD #21: What are my priorities?

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes 

Saturday, November 8, 2025

What Should I Do with This "Leak" Information?

November 08, 2025 0 Comments

Bismillah.

 

Judul di atas kubuat sudah agak lama. Sejak akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 24 Oktober lalu. Saat tanpa sengaja, dengan izin Allah, I got this "leak" information. Haruskah kutulis lebih gamblang, tanpa tedeng aling-aling, atau kubiarkan abstrak dalam selimut bahasa inggris dan perumpamaan "leak information"? Apakah harus kutulis dalam bentuk fiksi, atau kutuliskan lebih lugas dalam story telling kisah nyata?

 

***

 

Pagi itu, Allah tunjukkan padaku hal seharusnya tidak perlu aku tahu. Pemiliknya pun pasti sebenarnya ingin merahasiakannya. Pun aku tidak merasa ingin tahu. Tapi saat Allah memberikannya padaku, lewat satu dua detik saja. Otakku sampai sekarang masih memikirkannya. Pertanyaan yang kutulis sebagai judul tulisan ini: what should I do with this leak information?

 

Apa yang harus aku lakukan? Diam dan berpura-pura tidak melihat apa yang sudah kulihat? Atau aku harus bersuara, dan mencecar pemiliknya tentang "leak information" tersebut? Tapi... tapi... tapi apa aku berhak untuk bertanya dan memberikan padanya nasihat tentang itu? Sementara aku tahu, bahwa setiap orang punya hal-hal yang tidak ingin diketahui orang lain. 

 

Tapi diam dan pura-pura tidak tahu sungguh bukan pilihan yang tepat. Itu hanya menunjukkan betapa lemah imanku. Apalagi aku tahu persis, bahwa ada kedzaliman di sana, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. Bukankah sebagai seorang yang beriman, mengetahui kezaliman, kita harus membantu, baik yang jadi korban maupun yang jadi pelaku? Dan ia kini merangkap keduanya. Bukankah kita harus menolongnya di keduanya, baik dengan menghentikan kezaliman juga untuk melindunginya dari kezaliman?

 

***

 

I know deep inside he's struggling, He's in pain. But I'm afraid if I took a wrong step, I might scare him away. And he chose to be lost alone. But silent really don't solve anything. Allah might want to show it to me, cause he needs somebody else to step up and help him. And it should be from the closest one around him.

 

Remembering that leak information break my heart again and again. I see my old, or even me now. For now, I just want to remind him,

 


 

 Wallahua'lam.