Follow Me

Thursday, September 20, 2018

Bapak Tua dan Dua Karung Rumputnya

Bismillah.

Bapak itu... tubuhnya kecil dan kurus. Terutama kakinya, yang basah dan berhias tanah basah dan daun daun rumput. Ia meminta izin padaku untuk melewati lantai keramik, berulangkali minta maaf karena akan ada jejak tanah basah. Ia tidak beralas kaki. Kujawab mboten nopo-nopo. Tapi ia masih terus mengungkapkan ketidaknyamanannya harus menyisakan jejak coklat basah di keramik dingin berwarna krem. 

Sekitar dua puluh menit yang lalu, sebelum hujan deras membasahi bumi tempatku berpijak, ia ada disana, di tanah sebelah timur yang dipenuhi pohon dan rerumputan. Ia mengisi dua karung putih dengan rumput. Ayahku yang mengajaknya mengobrol, aku hanya melihat dari jauh tanpa tahu apa yang sedang dibincangkan. Kemudian hujan deras mengguyur, membuatku berpindah posisi agar tidak terkena cipratan air pecahan saat hujan bertemu atap yang melingkupi tempat ini. 

Hujan membawa udara dingin, membuat ayahku menghampiriku menanyakan handuk merah bekas yang biasa digunakan sebagai lap. Kemudian Ayahku mencari gelas, dan membuat kopi. Entah mengapa tidak menyuruhku membuatnya. Mungkin karena aku sering tidak pas menakar bubuk kopi dan butiran gula, serta volume air untuk menciptakan rasa yang nikmat.

Kembali ke bapak tua, yang kaos dan celananya terlihat basah. Kakinya yang tidak mengenakan sandal dan terlihat sangat kecil menopang tubuhnya. Ia membawa dua karung berisi rumput, empat kali melewatiku. Lalu ia berdiri dibawah pohon kecil entah menanti apa. Aku bertanya - tanya sambil mengamatinya yang masih berdiri disebelah dua karung berisi rumput. Dengan apa ia akan membawa dua karung tersebut. Apa dengan becak, atau gerobak sampah? Atau..... 

Sampai sebuah bis kecil lewat dan berhenti di depannya. Warnanya biru tua, dan aku tidak tahu kemana bis itu biasa pergi. Aku masih memperhatikan bapak itu, menaikkan karung putih, yang diatasnya menyembul warna hijau segar rumput. Satu per satu. Supirnya menunggu sampai bapak itu selesai meletakkan kedua karungnya, kemudian bis itu pergi ke arah barat. Jalanan di depanku berganti pemandangan mobil dan motor. Hujan masih rintik-rintik, tapi tidak sederas dua puluh menit yang lalu. Sesekali motor menepi ke pohon kecil, kemudian sang pengendara mengeluarkan jas hujan dan memakainya. Sesekali, anak-anak sekolahan lewat dengan payung atau jaket di atas kepalanya. Dan aku.... mencoba menarasikannya di sini, dalam tulisan.

***

Hikmah apa yang hendak Allah titipkan? Hikmah yang harus aku temukan dari hal itu?


Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya