Follow Me

Sunday, July 12, 2020

Mencari Kontak Kisah Fajr, Pembaca Angin dan...

Bismillah.


Buat apa nomer yang tidak pernah ganti? Kalau kau tidak menyimpan nomer mereka yang ingin kau hubungi?

***

Hanya ingin mencatat di sini. Saat aku mencari kontak kisah fajr, pembaca angin, dan satu orang lagi.

Kisah Fajr


It's not her name. It's her blog address. Saat itu aku meragu butuh seseorang untuk memberitahuku kemana langkah harus kuarahkan, maka aku mencarinya. Awalnya lewat komentar di blognya, yang dijawabnya untuk kontak via instagram.

Kemudian aku tanya ke temen, dapat kontaknya, terhubung. Mendapatkan jawaban lewat suara. Karena sulit untuk menuliskan saran di pesan chat. Barangkali ia takut tidak adanya intonasi membuat pesannya ambigu.

I hear her voice, I listen to her suggestion. Thanks to her I can stand firm again, knows my flaw, and learn to walk straight forward without leaving things behind.

Pembaca Angin


Pembaca angin, nama penanya. Kisah mencari pembaca angin ini tadinya mau jadi tulisan sendiri. Karena saat mencari kontaknya, aku banyak dibuat kaget. Kemudian teringat betapa pembaca angin banyak menjadi inspirasiku untuk menulis.

Salah satu tulisan di blog ini yang sering diambil google adalah tulisan blogwalking ke pembaca angin, tentang belajar tahsin. Hanya karena, dikutipan yang kusalin, ada tentang jokes nun mati ketemu 'ain. Dari tulisan itu, aku ingin menengok lagi tulisan-tulisannya. Tapi aku dibuat penasaran, karena alamat blognya bisa diakses, tapi isinya kosong.

Karena tidak punya kontak pembaca angin, aku membuka facebook dan mengetik nama lengkapnya, hanya untuk menemukan fakta bahwa akun facebooknya sudah tidak ada. Aku hanya menemukan jejak namanya dimention salah seorang teteh. Sekelebat prasangka hadir, jujur ada rasa takut. Aku akhirnya kirim chat ke messenger fb ke teteh tersebut. Memperkenalkan diri, barangkali beliau lupa kalau aku dulu roommate-nya pembaca angin, dan minta kontak pembaca angin.

Aku belum sempat membaca balasan pesan di messenger, saat sebuah pesan dm masuk ke instagram betterword_kirei, instagram blog ini. Pembaca angin menyapaku, memberitahu kabar bahwa aku mencarinya sampai ke telinganya. Kujelaskan dengan perasaan rindu tentang rasa kagetku saat tidak menemukan satu tulisan di blognya, juga akun facebook-nya yang ternyata sudah deactive. Ia kemudian memberiku alamat blog pembaca angin yang baru, serta instagram blognya, yang lebih sering ia buka.

Alhamdulillah kami terhubung lagi. Dan aku ingin bernostalgia, menyebutkan apa arti pembaca angin di hidupku. She teach me the true meaning of friendship and her existence let me taste the sweetness of ukhuwah. Aku ingin mencatat tulisan-tulisan mana saja di blog ini yang terkait tentangnya.

"Sama-sama Mendamba Ridho-Nya" yang hadir saat aku merasa orang-orang ingin memisahkan persahabatan kami, hanya karena perbedaan dan kotak-kotak yang mereka buat.

"Tulisan Seorang Teman" yang hadir setelah aku baca tulisan jarum pentul di blognya.

"Teman yang Datang Saat Butuh Saja" yang kutulis karena rasa bersalah, baru kontak pembaca angin saat ingin bertanya bahasa arabnya 'the pen has been lifted'

Ada banyak yang ingin ditulis tentang pembaca angin. Suara tilawahnya yang sering memenuhi kamar 12b, betapa rajinnya ia menuntut itu, menandai satu demi satu kitab berbahasa arab itu. Bahkan saat kami sudah tidak sekamar, sudah sibuk dengan dunia masing-masing, berpapasan dengannya selalu membuatku tersenyum. Aku tidak bisa lupa saat itu hujan, dan ia lengkap dengan jas hujan gamisnya, bertukar sapa pelan, untuk kemudian melanjutkan ke tujuan masing-masing.

Mencari Kontaknya


Dari dua pencarian itu aku menyadari bahwa harusnya kalau cari kontak orang cek instagram dulu.

Tapi... yang terakhir ini berbeda. Ia tidak punya blog yang bisa kubaca. Terakhir ia sebutkan di facebook-nya nomer hpnya ganti. Qadarullah aku baru bisa komentar beberapa bulan setelahnya. Dan sampai sekarang belum bisa terhubung. Her name is Usriyah Faqih. Nama belakangnya nama pena, seperti aku. She's two years older than me, all other people call her Teh Uus or Mba Uus. But I rather call just her name. Uus, atau Us. Bukan karena tidak menghormati, tapi aku ingin ia merasa masih muda.

Aku masih mencari kontaknya. Bertanya di grup asrama dan tidak menemukan jawaban. Berharap komentarku di facebooknya, atau pesanku ke messenger fb-nya, atau dmku ke ig-nya sampai, terbaca olehnya. Aku bahkan menghubungi nomer lamanya, berharap-harap. Selebihnya, aku cuma bisa berdoa. Sungguh aku khawatir, karena aku belum sempat bertanya kabarnya saat covid-19 mulai "membuat merah" daerah domisilinya. Aku belum bertanya, apa ia pulang ke cirebon atau masih di ibukota. Menulis ini, aku jadi teringat, mungkin aku harus mencari akun wattpadnya.
 
I do really miss her. Semoga Allah melindunginya dan melingkupi hidupnya dengan keberkahan. Aamiin.

1 comment:

  1. Sudah nemu kontaknya Teh Uus, baca di tulisan https://betterwordforlife.blogspot.com/2020/12/3-books-and-1-letter.html

    ReplyDelete

ditunggu komentarnya