Follow Me

Monday, September 14, 2015

Scroll and Scroll

September 14, 2015 0 Comments

-Muhasabah Diri-

Bismillah.
sumber gambar dari sini
"Salah satu hambatan menulis adalah lebih suka scrolling sosmed daripada baca buku atau nulis" -kirei




***

Ada yang tahu kenapa blog ini jarang diisi? Salah satu penyebabnya adalah hambatan yang aku tulis di atas. Ada yang merasakan hal sama? *cari temen hehe



Di era sekarang ada kecenderungan dari kita (baca: saya) memilih scroll sosmed daripada menulis. Ya, sosmed memang sifatnya dua arah, kita menulis (tweet, status, dkk) dan kita mendapat respon dari orang lain baik dalam bentuk like maupun komen, atau sekedar seen. Hal ini juga berarti sebaliknya, orang lain yang menulis dan kita yang memberi respon.


Pertanyaannya kita lebih sering yang mana? Menjadi yang menulis atau yang memberi respon? Oke kalau jadi yang menulis, isi tulisannya apa? Sekedar share kah? *menyindir diri sendiri. Kalau jadi yang respon, apakah yang kita baca membuat kita jadi punya konten untuk menulis? Atau kalaupun jadi tahu kabar teman, apakah ukhuwah kita dengannya baik, atau cuma sering komen-komenan di sosmed tapi di dunia nyata malah jadi jauh? Hehe.


Tolong jangan salah paham ya, tidak ada maksud menyindir siapa-pun, ini murni evaluasi untuk diri, yang saya beranikan share di blog karena siapa tahu bermanfaat buat orang lain.


***


Suka tidak suka, sadar atau tidak, sosmed menyita waktu kita. Jujur saya pribadi sering ga sadar menelusuri baris demi baris ribuan pesan di WhatsApp dalam sehari misalnya. Atau kalau buka sosmed lainnya, baik line, facebook atau tumblr pasti suka ga sadar tiba-tiba sekian banyak menit sudah berlalu. Padahal cuma scroll, sebagian di baca dan sebagian di skip. Ah, bener deh.. Bagiku scroll dan scroll sosmed mengurangi jatah asli membaca buku atau menulis. Dan jadilah semakin kering dan sepi blog ini dari tulisan.


Terakhir, untuk diri dan untuk siapapun. Mari kurangi waktu scroll sosmed kita, dan alokasikan untuk membaca buku dan menulis. Ada sebuah quote yang mengatakan, dua hal yang dilakukan penulis: membaca, menulis, setelah itu? Membaca lagi dan menulis lagi.
 

Yeay! Semangat membaca dan menulis! Fighting^^

Menjadi Bukit

September 14, 2015 0 Comments

-Muhasabah Diri-
 
Bismillah.

Menjadi Bukit
Bukan, aku bukan ingin cerita tentang 'andai aku menjadi bukit'. Aku ingin cerita tentang satu frase yang mungkin kita sudah jarang dengan.

"Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit"

Tentang Menabung

Ya, aku mendengar pertama kali frasa itu berhubungan dengan menabung. Aku lupa apa kalimat lengkapnya, mungkin sebuah nyanyian, atau apa ya? benar-benar lupa -.- kalau ada yang tahu tolong komen ya? penasaran hehe.

Monday, August 24, 2015

My Heart Is Not That Strong

August 24, 2015 0 Comments
diambil dari sini
Bismillah.

"My heart is not that strong..." lirih suara berbisik pada diri.

***

Ya, seringkali untuk memotivasi diri kita sering berkata pada diri kalau kita quwwat, ya kita kuat. Namun tidak setiap waktu cara itu berhasil membuat kita menjalani hari-hari.

Terkadang, kita justru harus jujur pada diri bahwa kita tidak sekuat itu. Hati kita lemah, itulah mengapa dalam bahasa arab hati disebut 'qalb'. Qalb adalah sesuatu yang mudah terbolak-balik, seperti sebuah koin yang digantung. Begitu mudah berbalik meski hanya oleh angin sepoi.

My heart is not that strong...

Backspace

August 24, 2015 0 Comments

Bismillah.

Ada yang bilang, backspace dan delete adalah salah satu musuh seorang penulis. Kau percaya? Ya, bisa dikatakan backspace bisa jadi teman namun terkadang juga jadi musuh. How?

***

Backspace is a friend

Ada yang pernah melihat mesin ketik? Pernah coba pakai? Ada backspace ga? Hehe. Kita harus bersyukur banget dengan teknologi sekarang. Jaman dulu, kalau salah ketik maka kertasnya harus diganti dan diketik ulang. Era sekarang, mengetik dengan komputer, jika ada yang salah maka tinggal gunakan tombol backspace atau delete.

Backspace is an enemy

Ada yang pernah berkata pada diri, bahwa backspace adalah musuh penulis. Dengan hitungan kurang dari sedetik, sebuah tulisan bisa terhapus. Backspace membuat penulis peragu tak pernah menyelesaikan tulisannya, mengapa? Karena penulis lebih sering menekan backspace dari pada menekan huruf-huruf di atas keyboard.

But in life, there is no backspace...

Sunday, July 5, 2015

Kemampuan Bahasa Kita

July 05, 2015 0 Comments
Bismillah.

Pernahkah kita merasa begitu takjub pada kemampuan bahasa kita? Kemampuan yang diajarkan Allah kepada Nabi Adam?

diambil dari sini
***

Karena kemampuan bahasa ini kita gunakan sehari-hari, kita jarang merasa takjub. Kita hanya takjub pada anak kecil, balita yang baru bisa berbicara dan mengerti kata-kata orang disekitarnya. Kita takjub, karena anak sekecil itu kita tahu awalnya hanya bisa menangis, tapi sekarang ia bisa mengenali kata-kata dalam sebuah bahasa, meski dengan keterbatasan lisannya yang masih begitu muda.

Aku juga begitu, aku sebelumnya jarang-jarang menyadari keajaiban kemampuan kita berbahasa, namun sebuah hal kembali mengingatkanku.

Beberapa waktu yang lalu, aku mulai tertarik mendengarkan ceramah dari ustadz-ustadz luar negri yang menggunakan bahasa Inggris. Awalnya begitu sulit menangkap kata-kata mereka jika tanpa subtitle bahasa indonesia. Namun aku ingin mendapat 2 ilmu sekaligus, isi ceramah dan juga belajar listening bahasa inggris, jadi aku paksa diriku mengakses video tanpa subtitle. Di awal-awal untuk memudahkanku menangkap apa yang pembicara sampaikan, aku biasa menggunakan fasilitas caption yang biasanya secara otomatis di create youtube menggunakan mesin Natural Language Processing (*asumsi hehehe).

Friday, July 3, 2015

Monday, June 8, 2015

Phobia Kamera

June 08, 2015 0 Comments

#fiksi

Bismillah.

Aku tidak pernah merasa sekhawatir seperti sore itu. Aku belum memiliki anak, namun hari itu aku seolah seorang induk yang kebingungan mencari anaknya. Kinan, bocah bisu itu tiba-tiba menghilang saat aku dan teman-teman sedang riweh mengatur anak-anak lain berbaris. Tidak ada yang menyadari ia tidak ada di sana, bahkan ketika jepretan kamera mengabadikan jajaran mahasiswa dan anak-anak panti.

Suasana mulai rusuh saat Ibu Pengurus Panti menelpon salah satu temanku, dan memberitahukan satu hal penting yang terlupakan.

"Kinan phobia difoto, tolong pastikan kinan ada teman yang menemani. Dia biasa menghilang saat sesi foto."

sumber gambar dari sini
Dan kami semua panik karena tidak menemukan kinan di barisan anak-anak panti. Kami berada di bukit Moko, tempat ini begitu luas, kami takut terjadi sesuatu yang buruk pada kinan. Dua belas orang terbagi menjadi empat kelompok pencarian. Dan tiga orang tetap di lokasi menjaga anak-anak dan memberi kabar siapa tahu Kinan ke sini lagi.

Sederhanakan

June 08, 2015 0 Comments

#fiksi

Bismillah.

make it simple (sumber dari sini)
"Ternyata semakin sederhana, jadi semakin indah" ujar seorang gadis yang menggunakan khimar berwarna krem (K).

"Ya, jika bisa sederhana, mengapa harus diper-rumit?" sahut gadis lain disebelahnya, ia menggunakan khimar berwarna hitam (H).

K: "Sederhana artinya kau tidak mencari perhatian banyak orang."

H: "Sederhana artinya setiap hal ada pada tempatnya, ada zona masalah dan zona solusi."

Aku Ngikut Aja...

June 08, 2015 0 Comments
#fiksi #SensiMe

Bismillah.

"Gue ikut"
"Ikut Lis,"

bebek yang suka ngikut aja, hehe (sumber gambar dari sini)
Awalnya, kalimat-kalimat singkat itu tidak mengganggu pikiran Lisa. Namun saat diskusi berlangsung dan kata "ngikut aja" muncul, Lisa mulai geram.

Lisa menempatkan diri sebagai moderator. Seperti kebanyakan moderator, Lisa membuka diskusi, menyampaikan sedikit latar belakang, dan bertanya pendapat peserta diskusi.

Diskusi singkat itu berjalan lancar, sampai Lisa tiba-tiba menyadari, peserta seolah sedang mengubah peran Lisa. Peserta satu persatu berkata "ngikut aja", saat ditanyakan kesimpulan dari diskusi. Lagi, peserta satu persatu membeo, ngikut saja, saat ditanyakan keputusan apa yang harus dilakukan.

Wajah Lisa mengeras, dahinya berkerut, namun ia masih berusaha mempertahankan senyum pahit di bibirnya.

***

Thursday, June 4, 2015

Makna Ramadhan Bagiku

June 04, 2015 0 Comments
-Ramadhan, Musahabah Diri-

Bismillah.

Mungkin mudah mengeja kata Ramadhan, namun mengeja maknanya? Aku tidak yakin aku bisa mengeja maknanya dengan benar. -kirei-

***

Aku belum pernah mencoba memaknai Ramadhan dalam hidupku. Sebelumnya, makna Ramadhan bagiku sama seperti makna Ramadhan bagi kebanyakan muslim lain. Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, saat kita berpuasa sebulan penuh.

Namun kali ini, Ramadhan tahun ini, izinkan aku belajar mengeja maknanya.

Tahukah kamu mengapa Ramadhan begitu istimewa? Aku baru tahu beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin sudah tahu, namun kembali diingatkan lagi beberapa waktu yang lalu. Ramadhan istimewa bukan karena puasa 30 hari, Ramadhan istimewa karena pada bulan itu Al Quran turun.

Hal ini dituliskan begitu jelas dalam QS Albaqarah ayat 185. Ayat itu bermula dengan kata syahru ramadhan, namun kata-kata selanjutnya, Allah menggambarkan tentang Quran.

alladzii unzila fiihil quran - di dalamnya (Ramadhan) diturunkan Al Quran
huda linnas - petunjuk bagi semua manusia
wa bayyinatil minal hudaa wal furqan - di dalamnya (Quran) terdapat petunjuk dan pembeda (yang haqq dan bathil)

Hanya ada satu ayat yang bercerita tentang bulan Ramadhan, uniknya, setelah ayat dimulai dengan kata syahru Ramadhan, yang dijelaskan setelahnya adalah tentang Al Quran. Bukan alladzi kutiba fiihi shiyam.

Lewat ayat ini, Allah seolah ingin mengingatkan kita, bahwa Ramadhan tidak boleh terlepas dari Al Quran. Ini adalah bulan yang Allah berikan untuk merayakan turunnya Al Quran. Al Quran yang menyatukan kita sebagai muslim, Al Quran yang membuat kita sama-sama berdiri dalam satu shaff.

***

Jika aku boleh mengeja makna Ramadhan, izinkan aku belajar memaknai Ramadhan (lagi) sebagai bulan turunnya Al Quran. Sehingga Ramadhan kali ini -jika Allah izinkan bersua-, semoga menjadi bulan saat aku memperbarui dan memperbaiki interaksiku dengan Al Quran. Lewat membacanya, mentadabburinya, belajar tafsirnya, menghafalnya, dan tentu saja, belajar mengamalkannya.

Mungkin pembaca heran, atau bingung membaca tulisan ini. Maksudnya, bukankah semua orang sudah tahu kalau Ramadhan adalah Bulan turunnya Quran? Ya, semua orang mungkin sudah tahu. Namun aku belum merasa memaknainya dengan benar. Maka kali ini, izinkan aku belajar memaknai Ramadhan dengan baik, lewat interaksi dengan Quran. Sehingga saat pelatihan Ramadhan selesai, Al Quran tidak lepas atau terlalaikan. Semoga meski Ramadhan sudah usai nanti, semoga Al Quran masih menjadi teman setia kita menjalani 'medan perang' yang sesungguhnya.

Allahua'lam bishowab.

Banyak terinspirasi dari video : Month of Forgiveness - Nouman Ali Khan, yang sudah ada subtitle Indonesia-nya.

Menangkap Langit Lewat Lensa

June 04, 2015 0 Comments

-opini, Muhasabah Diri-

Bismillah

sumber gambar dari sini
Selalu gagal dan tak seindah yang dilihat mata. Kau tahu? Selalu begitu jika kau ingin menangkap langit lewat sebuah lensa buatan manusia. -kirei-
***

Aku tahu ini lucu dan tak logis, tapi itulah aku. Sejak tahu bahwa lensa kamera mana pun tak pernah mampu menangkap keindahan langit, aku memilih untuk menikmatinya saja dengan mata.

Dan gemintang atau bulan purnama, juga awan putih yang menemani biru langit, atau justru langit senja yang jingga atau ungu atau biru. Aku memilih untuk menikmatinya sendiri lewat mata yang begitu kompleks dan ajaib diciptakan oleh Sang Maha Pencipta. Aku tidak berusaha lagi untuk menangkap indahnya langit lewat lensa buatan manusia, karena seringkali hasilnya hanya timbulkan kecewa.

Karena pertama, aku memang tidak ahli dalam fotografi. 

Baik fotografi yang mudah dan simple, maupun fotografi yang nyeni, termasuk di dalamnya, fotografi langit. Cakrawala yang tidak pernah kita lihat retaknya ini, menjadi terbatas jika diabadikan lewat lensa kamera. Tidak utuh, hanya menggambarkan sebagian. Tidak nyata, karena warnanya terbatas pada RGB atau CMYK.

Karena kedua, aku tidak memiliki kamera secanggih kedua bola mata ciptaan-Nya. 

Pernah di suatu pagi, pagi yang begitu istimewa. Adzan shubuh saat itu sudah berkumandang, namun bulan masih tampat indah di peraduannya. Bulat sempurna tanpa ada sedikitpun awan menghalangi sinar yang muncul di dalamnya. Saat itu aku pikir, kamera hp bisa merekam sedikit keindahannya, namun ternyata aku salah. Tidak ada keindahan tersisa saat aku menangkap rembulan dan langit fajar itu. Tidak ada, hanya langit gelap dan satu titik bulat kecil mewakili rembulan istimewa fajar itu.

Ya, dua alasan tadi membuatku selalu mengurungkan niat mengambil kamera, saat mega terbentang begitu indah. Aku kini lebih suka terdiam menikmati sajian langit, dengan dua bola mata yang masih diizinkan Allah bekerja dengan baik.

***