Follow Me

Sunday, July 31, 2016

Kata Ayah

July 31, 2016 0 Comments
Bismillah.

diambil dari erstudio.tumblr.com

Meski agak menyimpang dari projek yang diselenggarakan Erstudio, dan ga akan di submit juga, tapi karena liat postingan tersebut di dashboard tumblr membuat jemariku tergelitik untuk menulis di sini.

***

Berbeda dengan kakak atau adikku, aku bisa dengan percaya diri mengatakan aku lebih dekat dari ayah ketimbang kakak atau adikku. Sejak kecil, mungkin sejak SMP, aku yang paling nyambung kalau ngobrol dengan Ayah. Atau kalaupun dulu ada yang ga ngerti, setidaknya aku berani mengatakan dulu aku pendengar yang baik bagi ayah jika dibandingkan dengan kakak atau adikku.
"Ayah. Cintanya dalam diam. Biasanya seorang ayah minim sekali berkata-kata kepada anaknya. Namun sekalinya beliau berkata atau menasehati kita, biasanya akan teringat hingga dewasa." -bit.ly/KataAyahBookProject
Cinta Ayah bagiku tidak dalam diam, seperti di kutipan atas. Meski tidak sebanyak kata yang keluar dari bibir Ibu, aku juga merasakan banyak cinta dalam kata/ucapan Ayah. Percakapan, atau pertukaran pemikiran diantara kami banyak yang menancap dalam di memoriku, diantaranya akan kusebut dan sebagian kuuraikan di bawah ini.

***

Aku ingat, Ayah lah yang memotivasiku untuk sekolah di "luar". Saat lulus SD sempat hampir mendaftar SMP berformat sekaligus pesantren di kota X. Saat lulus SMP sempat hampir mendaftar di SMA boarding school Y. Saat SMP, aku kenal Universitas NanYang karena Ayah pernah berkata yang intinya, "kalau bisa nanti kuliah di sana di jurusan informatika".

I Just Need My "Me Time"

July 31, 2016 0 Comments
just a little

Bismillah.

29.07.16 17:20

Maaf karena pergi tanpa pamit. Aku berjalan menuju timur, mampir untuk sholat ashar di masjid kecil dekat trotoar saat iqamah terdengar. Berjalan lagi, melewati lapangan hijau luas yang dulu saat SD pernah jadi tempat berkegiatan pramuka. Berjalan lagi, mampir di pom bensin untuk beli roti pizza dan ke 'air'. Baru ingat kalau aku belum makan siang padahal sudah jam tiga sore. Kemudian berjalan lagi melewati rel kereta, berjalan lagi menyebrangi sungai. Saat menyebrangi jembatan, sempat ragu apakah harus memelankankan langkah, tapi akhirnya tetap menjaga kecepatan konstan, meski perut sebelah kiri agak sakit karena entah sudah berapa kilometer terlewati dengan kecepatan tetap. Mampir di kedai jus dan memesan jus alpukat, membuka laptop dan mulai menulis diari dengan mata yang berulangkali berpanas dingin karena efek konten tulisan dan slide memori yang berputar putar di otak.

Tuesday, July 26, 2016

Harapan, Doa dan Kebohongan

July 26, 2016 0 Comments
Bismillah

#fiksi

Bobby dibuat kaget, karena ibunya tiba-tiba masuk ke kamar saat ia sedang asik bermain video game di larut malam. Biasanya, di momen seperti itu ibunya akan mulai berceramah panjang dan menyuruh Bobby segera tidur dengan nada tinggi, namun kali ini agak berbeda.

"Jam segini, harusnya mendirikan shalat tahajud malah main game ga jelas. Pantes aja kamu ga keterima kerja terus," sang Ibu kemudian berlalu dan menutup pintu kamar anak keduanya.

Satu menit berselang, sebuah sms membuat Bobby mengalihkan pandangannya dari layar komputer ke layar hp. Sebuah pesan berisi harapan dan doa dari Ibu, sejenak nafas Bobby tertahan matanya memanas. Bobby sebenarnya tahu kalau bulan sudah memasuki bulan saat ia dilahirkan, namun malam itu ia sungguh tidak sadar kalau itulah hari yang sama dengan hari tiga puluh tahun lalu ia dilahirkan.

Rangkaian slide kehidupannya pun tanpa diminta otomatis terputar di otaknya, gambaran kerja keras sang Ibu sendirian membesarkan keempat anaknya. Kakak-kakak Bobby sudah mentas, tinggal ia seorang ragil yang kerjanya dirumah hanya menghabiskan uang dan bermalas-malasan. Slide-slide itulah yang akhirnya membuat ia mematikan komputernya dan berjalan perlahan menuju kamar ibunya.

Langkah Bobby lunglai entah karena ragu atau karena rasa bersalah yang seolah tiba-tiba berjatuhan memberati langkahnya. Ia dulu pernah menjadi anak bungsu yang manja, namun masih bisa membuat ibu tersenyum dengan tingkah lucu. Namun sekarang ia hanya seorang anak kecil yang terperangkap di tubuh dewasa, atau seorang dewasa yang mentalnya masih sangat kekanak-kanakkan. Jarak kamarnya dengan kamar ibu yang hanya beberapa langkah akhirnya berhasil dilewati, tinggal sebuah pintu yang menghalangi ia menemui ibunya.

Sebelum tangan Bobby berhasil mengetuk pintu kayu bercat biru muda, terdengar dering khas hp ibu. Bobby menarik tangannya ke bawah, berdiri dalam sunyi mendengarkan suara ibu yang terdengar makin menua dari hari ke hari. Rupanya telpon tadi dari kakak sulungnya, yang kini berada di negara lain karena ikut suaminya. Kak Nila memang sering menelpon ibu di waktu-waktu ini karena kak Nila tahu ibunya biasa mendirikan shalat tahajud, dan qadarullah waktu ini adalah saat anak-anaknya sekolah.

"Bobby sehat, sekarang alhamdulillah ia sudah rajin sholat lima waktu di masjid, sesekali shalat dhuha dan tahajud juga. Bobby udah ga pernah main game seharian kaya dulu. In syaa Allah sebentar lagi akan dapat kerja dan segera menikah."

Entah apa yang ada dipikiran ibu, Bobby perlahan melangkah mundur karena kaget atas kebohongan yang dikatakan ibunya. Ia berbalik menuju kamar pelan-pelan, berharap ibu tidak tahu kalau ia mendengar percakapan ibu dengan kak Nila. Setelah mematikan lampu kamarnya, ia merebahkan tubuhnya menelengkup di dipan dengan kasur empuk. Matanya memang terpejam, namun otaknya yang masih bekerja membuat ia berulangkali mengubah posisi tidurnya. Perasaannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, mungkin seperti ratusan orang sedang berdemo dan mendorong gerbang tinggi di hatinya agar bisa terbuka, atau mungkin seperti duri kecil yang masuk di jarinya namun tidak bisa dikeluarkan. Sebagian dirinya ingin tidur dan melupakan apa yang terjadi malam itu, namun sebagian lainnya ingin momen itu menjadi titik awal ia berubah menjadi anak yang bisa membuat ibunya tersenyum.


Thursday, March 3, 2016

Salah Satu Tanda

March 03, 2016 0 Comments
-muhasabah diri-
Bismillah.
untuk yang sudah, sedang, akan dan belum bertaubat
Salah satu tanda taubat kita diterima, aku mendengarnya di sebuah video ceramah ustadz Nouman Ali Khan. Ceramah itu menceritakan tentang kisah lama yang mungkin sering kita dengar. Kisah tentang Nabi Musa yang bersandar di sebuah pohon, berdoa agar Allah memberikannya kebaikan.

Saat itu kondisi Nabi Musa 'alaihi salam dalam keadaan lelah dan lapar. Ia telah berlari dan berjalan mungkin ribuan mil, ia lari dari kaumnya karena merasa bersalah pernah tanpa sengaja membunuh seorang anak Adam. Nabi Musa bertaubat, atas kesalahan yang ditakdirkan di hidupnya.

Setelah doa singkat nan jelas itu, ia bertekad untuk berbuat baik, melakukan hal baik sebagai penutup perbuatan buruknya. Dan ia kemudian melihat dua orang gadis yang bersusah payah menarik domba mereka agar tidak mendekat ke sumur air.

Ustadz Nouman menjelaskan dengan detail, bahwa pemandangan dua gadis dengan ternaknya tertangkap oleh mata Nabi Musa. Domba-domba dua gadis itu haus maka insting hewani mereka membuat domba-domba itu berusaha mendekat ke sumber air. Domba-domba itu tidak mengerti kalau dua gadis itu baru mau memberi minum saat semua peternak lain (semuanya laki-laki) selesai memberi makan ternak mereka. Ya, dari pemandangan itulah yang akhirnya membuat Nabi Musa bertanya pada dua gadis itu.

***

Langsung ke inti ya, ustadz Nouman menyebutkan bahwa salah satu tanda taubat kita diterima adalah, Allah memberikan kita kesempatan untuk berbuat baik. Allah memberikan situasi dimana kita berkesempatan untuk berbuat baik dan mendapat pahala. Bentuknya memang berbeda-beda, tapi selalu ada.

Aku awalnya tidak menyadarinya. Tapi setelah mengingat masa-masa aku jatuh dalam jurang dosa  kemudian mencoba untuk mendaki keluar dari jurang itu, aku merasa itu memang salah satu tandanya.

Mengapa ustadz Nouman menyebutkan tentang tanda itu? Karena saat kita bertaubat, kita seringkali bingung karena tidak tahu, apakah Allah menerima taubat kita. Kita seringkali hampir berputus asa, karena gunung-gunung dosa kita, rasanya tidak akan bisa dimaafkan. Tapi cobalah bertahan, teruslah bertaubat, niscaya Allah akan menghamparkan begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik.

Bentuknya bermacam-macam, entah itu seorang pengemis yang tiba-tiba ada di jalan yang biasanya tanpa seorang pengemis. Atau mungkin tiba-tiba seorang teman mengajak kita ke sebuah kajian islam. Atau mungkin seorang musafir/wisatawan yang bertanya arah. Atau duri yang berada di tentah jalan, dan banyak lagi bentuk lainnya.

Saat kesempatan berbuat baik itu datang, jangan ragu untuk menyambutnya. Semoga Allah benar-benar menerima taubat kita. Aamiin.

Allahua'lam.

***

PS: Aku ngembaliin tulisan ini ke draft lagi karena ragu dan takut salah inget. Alhamdulillah hari ini nemu potongan videonya, jadi tulisan ini aku publish lagi. Ini potongan videonya.

Latihan Menulis Lagi

March 03, 2016 2 Comments
Bismillah.

Maaf baru menyapa lagi, bulan Februari lalu lewat tanpa satupun tulisan. Bahkan buat draft tulisan juga tidak menyempatkan. Hehe.

***

Jujur, aku sedang latihan menulis lagi. Menulis dengan tangan #eh, ini juga dengan tangan ya? Maksudku tulisan tangan, latihan terbiasa menulis di kertas dan tinta. Teknologi memang mendukung untuk menulis rapi tanpa banyak usaha, cuma perlu asik menekan keyboard atau keypad. Hasilnya? Tulisan tangan kita semakin awut-awutan, kacau balau.

Pernah di kuliah Visualisasi Data (kuliah di jurusan IF) disebutkan fakta tentang menurunnya kualitas tulisan tangan pemuda di Jepang. Pemuda di Jepang tulisan tangannya mayoritas sulit untuk dibaca, karena mereka terbiasa menulis kanji di komputer/handphone.

Aku sekarang sedang latihan menulis lagi, di sebuah buku bersampul merah. Isi tulisannya bukan untuk umum, hehe, jadi tidak bisa kusalin di sini. Padahal bukan diary, tapi tetap saja menurutku belum pantas di post di sini.

Curhat ya, hehe. Jujur menulis di sini rasanya berat. Karena dibaca bukan olehku saja. Karena artinya orang akan berpersepsi, karena artinya tulisanku tidak boleh sekedar tulisan. Seharusnya juga dipraktikan dalam sehari-hari.

Aku akan tetap menulis di sini, in syaa Allah. Namun tidak akan sesering dahulu. Namun semoga sedikit tulisan di sini bermanfaat^^

Friday, January 29, 2016

Senang Berjumpa Kembali

January 29, 2016 0 Comments
Bismillah..

long time no see
Alhamdulillah akhirnya menyempatkan buka dashboard blog dan menulis di sini lagi. Terakhir post sebenarnya Oktober 2015 lalu. Takjub ternyata sudah satu tahun hehe, sudah beda tahun, tapi rentangnya sekitar tiga bulan.

Selama tiga bulan "vakum" di sini, aku tetep nulis kok. Ada beberapa draft di OneNote yang in syaa Allah hari ini akan di post sesuai tanggal draft. Biar ga kelihatan banget vakumnya hehe.

Oke tak mau berpanjang kata, barangkali ada yang berkunjung, silahkan dibaca dan dikomentari. Terimakasih.

***

Terakhir untuk diri, semoga menjadi pribadi yang makin produktif.

PS: Tiap gambar/ilustrasi foto bukan milik saya, klik di captionnya in syaa Allah nanti menuju ke asal muasal gambar itu.

Thursday, January 28, 2016

Mana yang Lebih Sulit?

January 28, 2016 0 Comments
-Muhasabah Pribadi-

Bismillah.

merajut dengan rapi, tak terlalu renggang, tak terlalu rapat
Merapatkan yang renggang, menyambung yang putus, mana yang lebih sulit? Bagiku keduanya sulit. Tentu saja sulit jika dari awal tidak ada niat untu memulai. Tentu saja sulit karena yang dilakukan hanya diam dan tak bergerak. Tentu saja sulit... akan ada banyak alasan yang membuatku kesulitan, juga akan muncul beribu excuse dalam diriku.

Merapatkan yang renggang, menyambung yang putus, mana yang lebih sulit? Bagiku keduanya tidak mudah. Tentu saja tidak mudah merapatkan sesuatu yang jaraknya bukan selebar sela-sela jari. Tentu saja tidak mudah, perlu usaha lebih agar yang jauh mau mendekat, yang dekat mau merapat. Tentu saja tidak mudah... akan ada banyak alasan yang membuatku meragu, juga timbul berkali-kali pikiran negatif dalam diriku.

Sunday, January 10, 2016

Can't Change My Way

January 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

Ini tentang cerita jalan dan kendaraan yang berlalu lalang di atasnya. Ada yang tahu ada berapa jenis jalan? Jawabannya akan bermacam-macam, tapi itu tidak terlalu penting bagi Clara. Ia hanya teringat satu jenis jalan, jalan satu arah. Berada di situasi ini seperti ia ingin berbalik di jalan satu arah. Tidak bisa, bagaimana terpaksanya tetap saja tidak bisa.

Pagi itu karena sebuah acara, ia diminta membeli snack untuk pembicara. Ia memilih berjalan kaki karena memang hari Ahad adalah hari Car Free Day. Tidak ada masalah, karena memang tidak terlalu jauh dan ia memang senang berjalan. Clara melihat ke jam tangan dan mempercepat langkahnya karena sebentar lagi acara dimulai. Ini mudah, karena hari itu spesial, tidak banyak pedagang di trotoar, sengaja dikosongkan karena akan ada pawai Konferensi Non Blok kalau tidak salah. Tapi kemudahan itu perlahan menghilang saat tanpa sengaja ia melihat dari kejauhan sesosok ikhwan mengenakan jaket himpunan Clara.

Awalnya Clara mengira  itu adalah adik tingkatnya, namun semakin dekat ternyata bukan. Mungkin masih sekitar dua puluh langkah lagi untuk benar-benar berpapasan, namun langkah Clara makin melambat. Rasanya Clara ingin berbalik, berpapasan di jalan lebar dan sepi ini somehow membuatnya merasa tidak nyaman. Ia terus menundukkan kepala dan melanjutkan langkahnya dengan kecepatan maksimal. Baginya, jika harus berpapasan, maka lebih cepat lebih baik. Namun baru beberapa langkah, ia melihat sosok di depannya berbelok dan memilih menyeberang. Saat itulah Clara menghela nafasnya, dan pelan berbisik, "Terima kasih". Sebuah kata yang mungkin tidak di dengar sosok yang sudah berada di trotoar seberang jalan.

***

Udah selesai, hehe. Lagi pengen banyakin nulis hehe, maaf ya kalau dikit-dikit.

Pesan untuk tulisan ini: Aku tidak tahu tentang temen-temen perempuan lainnya. Tapi aku pribadi ga terlalu suka kalau berpapasan dengan orang yang kukenal dan bukan mahram. Antara males dan bingung harus bersikap gimana. Pengalaman disebut sombong soalnya karena sering pura-pura ga kenal. Biasanya kalau bisa menghindar, aku lebih memilih lewat jalan lain, jalan yang jarang dilalui orang. Jadi inget quotes-nya Robert Frost.

and that has made all the difference



Jadi panjang ya? J maaf..

Bukan Itu Maksudnya...

January 10, 2016 0 Comments
#fiksi

Bismillah.

please come to our house
Udara dingin makin mengepung ayah dan anak gadisnya di Stasiun Bandung malam itu. Mereka sedang menunggu kedatangan kereta yang akan mengantar mereka ke kampung halaman. Mungkin orang-orang menyangka orangtua mahasiswi itu begitu protektif, karena tidak pernah membiarkan anaknya sendirian selama perjalanan ke Bandung atau dari Bandung. Mungkin teman-teman mahasiswi itu menyangka gadis itu ikut aliran agama yang keras, karena tidak mau safar tanpa mahram. Tapi banyak juga yang tidak berprasangka, mereka hanya melihat seorang anak gadis yang begitu dekat dengan ayahnya.

Seperti biasa momen menunggu diisi dengan obrolan panjang. Obrolan yang menanti dibagi setelah hampir satu semester tidak bertemu. Obrolan tentang sang kakak yang sedang berproses menuju pernikahan dengan seorang ikhwan di Pulang Nusa Tenggara. Obrolan tentang hal-hal kecil sampai yang besar.

"Tadi siang Ayah ketemu sama kakak tingkatmu," ucap ayah dilanjutkan dengan deskripsi orang itu. Anaknya mengingat nama kakak itu, mahasiswa itu kenal dengan sang Ayah karena di suatu acara kakak itu menjadi LO Ayah sang gadis. Mungkin karena sering bertemu saat di Bandung, tanpa sengaja Ayah melontarkan pertanyaan yang tidak disangka sang kakak tingkat. Sebuah pertanyaan sederhana, "Kapan-kapan main ke rumah ya?"

"Mukanya langsung berubah dan ia terdiam," lanjut Ayah. Pertanyaan tadi memang bisa diartikan berbeda, sama seperti anggapan orang-orang tentang Ayah dan gadis tadi.

Maksud Ayah bukan "main ke rumah" yang artinya menuju ke pernikahan. Bukan itu maksudnya. Ucapan ajakan main ke rumah, cuma ucapan kebiasaan ayah sebagai dosen yang mengajak mahasiswanya main ke rumah.

Kereta yang datang menghentikan obrolan mereka. Obrolan mereka memang sudah selesai, tapi sang gadis terus memikirkan hal tersebut. Berdoa dalam hati, semoga kakak itu tidak salah menangkap, dan juga segera melupakan pertanyaan ayahnya.

***

Pesannya: Kita tidak bisa mengatur cara pandang orang lain, bagaimana mereka menangkap perkataan kita. Yang bisa kita lakukan jika ada miskomunikasi adalah dengan komunikasi juga. Namun tidak semua anggapan orang lain harus kita respon.

Friday, January 8, 2016

Berpisah Tanpa Pamit

January 08, 2016 0 Comments
-Muhasabah Diri-

Bismillah.

Mungkin sudah pamit, namun merasa kurang. Sedikit curhat, seperti kemarin malam saat masuk travel lupa mencium tangan Mamah. Seperti hari ini saat terbangun dan mendapat pesan dari Mamah kalau Papah sudah di bis menuju ke rumah. Dan karena dua kejadian itu hujan riuh menuruni kedua bola mataku.

rails
Aku mencoba untuk tidak baper tapi gagal. Saat kedua momen itu terulang di lintasan pikiran, maka mataku kembali memanas. Ada prasangka, yang harus di buang. Ada memori, bahwa aku dulu pernah merasakan hal sama, saat hendak study tour, sudah pamit, namun saat bis berangkat mata memanas dan rintik hujan turun. Masih memori, bahwa aku sekarang tahu mengapa waktu itu mamah dengan mata berkaca bertanya padaku, "Seneng ya balik ke Bandung?". Ada juga lintasan pikiran lain, mencoba mengambil hikmah.

Berpisah tanpa pamit, selain kejadian kemarin dan hari ini, aku juga teringat tentang kematian. Betapa masing-masing dari kita tidak bisa pamit karena tidak tahu kapan berpisah dengan dunia dan sanak keluarga. Beberapa orang mungkin diberikan kesempatan berwasiat, tapi yang ditinggalkan merasa belum siap. Beberapa bahkan... Tak sempat sekedar memberi tanda baik dalam kata maupun sikap bahwa mereka akan pergi.