Follow Me

Saturday, January 20, 2018

Burlian, Hadiah Novel dari Pecinta Alkahfi

Bismillah.
#buku
#serialbukukenangan

Saat SMA, seorang sahabat memberiku hadiah novel bercover biru dengan siluet kapal besar. Burlian, salah satu novel Tere Liye yang membahas tentang tokoh anak dan kehidupannya. Novel pertama yang mengenalkan saya pada Tere Liye.

***

from goodreads

Aku dulu pembaca fiksi, tapi biasanya berupa kumpulan cerpen, atau novel komik, atau novel terbitan DAR! Mizan atau novel remaja terbitan Gema Insani press yang ketebalannya berbeda, jauh lebih tipis dari novel Burlian. Aku membaca teenlit juga, mengikuti bacaan teman-temanku. Jujur, pertama menerima Burlian ada rasa deg-degan, karena ga yakin bisa mencerna novel tersebut. Terlebih, aku tipe yang sangat pilih-pilih bacaan.

Tapi membaca deskripsi di belakang novel, memulai bab pertama, membuatku tak bisa berhenti untuk membaca. Kisahnya unik, gaya bahasanya juga enak dibaca, aku banyak mengenal hal-hal baru dari novel Burlian, mengingat setting cerita bukan di Pulau Jawa, bukan di Ibukota Jakarta.

Aku sudah lupa garis besar ceritanya, tapi bagi yang belum baca, saya sarankan baca~ baguus^^

Dari novel Burlian, saya jadi baca novel Tere Liye yang lain (Moga Bunda Disayang Allah). Saya tidak mengikuti banyak novel Tere Liye, alasannya sederhana, lepas SMA, minat membaca saya turun. Membaca buku cuma dilakukan jika ada tugas. Selain itu, saya juga mulai beralih lebih prefer membaca non fiksi. Bahkan saya baru baca novel lagi, the Kite Runner, empat atau tiga tahun selepas lulus SMA.

***

*warning* curhat semua

Buku ini saya pilih karena yang memberikannya orang yang istimewa. Seorang sahabat yang saya temui di kelas IPA 5, dua tahun sekelas. Namanya Gisella Arnis Grafiyana, suaranya tidak nyaring, namun tegas dan khas. Sampai sekarang saya masih mengingat suaranya, ketika ia bercerita dengan nada menggebu-gebu. Aktivis SMA, mulai dari OSIS, Rohis, PMR juga ya Sel? Hehe. 

Aku teringat pintu pertama yang membuat kami tidak sekedar teman biasa. Suatu siang lepas jam sekolah, saat aku menangis di mushola Ulba berdinding hijau, dengan karpet hijau. Gisella punya cara unik merespon tangisku, ia tidak bertanya kenapa, tidak pula mencoba menghibur, she was simply just being there beside me. Melakukan aktivitas lain, tapi tetap disampingku.

Pintu kedua, yang membuat kami makin dekat, adalah ketika kelas 12, tiba-tiba ia mengatakan padaku, tekadnya menghafal surat Alkahfi. She loves Al Kahfi. Aku saat itu belum hafal, dan belum tahu keutamaan surat Alkahfi, belum tahu sunnah membaca Alkahfi setiap jumat, belum tahu keutamaan menghafal 10 ayat pertama atau terakhir Alkahfi. I know nothing. Tapi lewat Gisella, aku jadi ikutan 'menghafal' Alkahfi. Sebenarnya, aku cuma dimintai tolong menyimak hafalannya. Seorang yang sangat audio sepertiku, yang saat memperkenalkan gisella, suaranya yang pertama muncul di memori. Ya, seorang audio sepertiku, menyimak sahabat jelita melantunkan surat Alkahfi berulang, satu ayat, besoknya tambah lagi dan lagi, membuatku tanpa sadar ikut belajar menghafal Alkahfi. Belum sampai keseluruhan surat, baru sampai ayat ke 20 kalau ga salah, tapi hal itu membekas dalam di memoriku. Aku ga pernah tahu, sampai saat kuliah, kalau karena permintaan Gisella untuk menyimak hafalannya, aku jadi dimudahkan menghafal ayat-ayat awal Alkahfi, yang berefek pada jaket unit pertama yang kumiliki. Setiap kulihat jaket biru itu, yang kuingat surat Alkahfi, kemudian aku mengingatnya, Gisella, muslimah shalihah yang merantau ke Malang untuk kuliah.

Persahabatan kami pernah mengalami renggang. Saat suatu hari, dari orang lain, aku mendengar keburukannya. Saat itu aku memilih bungkam, dan berusaha sekuat otak dan hati agar tidak percaya, sampai ia yang cerita sendiri. Kami sempat tanpa sadar berjeda, ada sekat yang tidak terlihat. Kami sibuk dengan persiapan masing-masing untuk Ujian Nasional. Namun renggang itu hanya sebentar, dan aku dibuat terharu lagi, pintu ketiga yang membuat Gisella salah satu sahabat istimewa dalam hidupku. Perempuan pecinta Alkahfi itu membuktikan padaku, kalau ukhuwah itu nyata, kalau sahabat yang baik itu ada, dan kejujuran itu, mungkin pahit, namun ia akhirnya berani mengatakannya, lewat sepucuk surat.

Ya, sepucuk surat yang kubaca terlambat beberapa hari, atau bahkan satu pekan setelah sampai. Dikirim ke Asrama Kanayakan. Saat itu, aku tidak tahu, surat ke asrama disimpan dimana, ternyata di ruang belajar lantai 1 gedung lama. Aku menemukan satu surat dan satu paket, dari dua orang berbeda. Dua-duanya dari sahabat cantik nan shalihaat in syaa Allah. Suratnya dari Gisella, she told me the truth, and I relieved by that.

Saat ini, meski sudah tidak terjalin komunikasi, semoga ukhuwah tidak terputus. Salahku memang, yang masih belum memberanikan diri membuka jalan komunikasi. I can't promise to contact her soon, tapi lewat tulisan ini. Izinkan aku mengirim salam rinduku padanya, muslimah yang mencintai surat Alkahfi. Semoga Allah memberkahi hidupnya, melancarkan segala urusannya. Aamiin.

***

Sekian, maaf banyak curhat. Niat bahas buku kenangan, tapi malah kebanyakan nostalgia hehe. Oh ya, aku menulis ini karena terpancing rasa senang karena masuk grup ITBMh Book. Rasanya sesuatu, antara excited, tapi khawatir, tapi seneng, karena nemu tempat buat sharing tentang buku. Sebuah kebiasaan lama yang sedang aku pupuk lagi. Mungkin aku bukan kutu buku, bukan pecinta buku juga, tapi karena menulis dan membaca adalah kekasih, aku tidak ingin memisahkannya hehe

Maaf, .. bukannya ditutup malah dilanjut curhat 'behind the scene' hehe.


Setiap orang punya buku kenangan sendiri. Entah itu buku yang dibaca, atau mungkin buku pramuka waktu SD. Siapapun punya, mungkin akan baik kalau kau menulisnya, baik itu sekedar ditulis untuk diri sendiri, maupun kemudian di publish di blog/sosmed. Selamat menulis tentang buku kenanganmu, bagi yang mau hehe. Bye..

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya