Follow Me

Monday, June 4, 2012

Which Way?


-sebuah cerpen-

Terik matahari mengembangkan senyum lebarnya pada pagiku. Meningkatkan suhu udara di sekolahku, yang terasa semakin panas oleh aktivitas siswa yang lalu lalang. Kupercepat langkahku, berharap aku akan segera mendapat kesejukkan. Di suatu tempat yang akhir-akhir ini sering dikunjungi siswa kelas XII seangkatanku. Ya… masjid sekolah, tempat segala harapan dan mimpi kami ungkapkan pada Sang Khaliq. Aku ingin mengambil air wudhu dan shalat dhuha untuk melancarkan ujian praktik pagi ini.

Kudengar suara tak asing memanggil namaku. Kuhentikan langkahku, mencoba mencari pemilik suara tadi. Aku tersenyum saat mengetahuinya, kulambaikan tanganku padanya. Tak sampai beberapa menit kami sudah berjalan beriringan menuju tempat yang sama. Tuk percikkan kesejukan, tak hanya di wajah kami, juga hati kami.
***
“Mau kemana, Ta?” ucap Dea, mengulangi pertanyaannya. Jujur, aku muak dengan bertanyaan itu. Ahh.. tidak! Itu hanya alasanku saja karena aku tak bisa menjawab pertanyaan Dea. Dea menyernyitkan keningnya, menyiratkan kebingungan di wajahnya. Ya.. itu pertanyaan pasaran yang akan kau dapat ketika kau duduk di kelas XII. Apalagi pada bulan-bulan menuju UAN. Aku tersenyum padanya, menghapus beberapa guratan keheranan di wajah ayunya.



“Aku belum yakin De, entahlah! Aku serahkan semua pada-Nya.” jawabku pasrah. Sedetik kemudian nasihat-nasihat meluncur deras dari bibirnya. Tentang pernyataanku yang separuh benar. Tentang keharusan kita untuk berikhtiar sebelum bertawakal. Tentang pentingnya memilih untuk masa depan. Tentang… segala sesuatu yang malah membuatku semakin ragu. Tiba-tiba Dea menghentikan ucapannya, seolah teringat sesuatu.

Sorry Ta… aku misunderstanding! Kamu ngomong kaya gitu karena sedang nunggu hasil SNMPTN Undangan kan?” tanya Dea dengan raut memohon maaf. Terlihat sekali, penyesalan di wajahnya. Aku menggeleng,

“Aku nggak pernah nyoba ikut SNMPTN Undangan, kamu nggak salah De!” yakinku. Ya… seminggu yang lalu guru BK memang memanggilku. Memberi saran agar aku mengikuti SNMPTN Undangan di fakultas dan universitas ternama. Sama, seperti saran kedua orang tuaku. Dan aku tolak saran itu, walau aku tahu hal tersebut akan mempermudahku masuk ke fakultas kedokteran. Maklum, nilai-nilaiku memenuhi syarat untuk itu.

“Kenapa, Lita?? Bukankah itu kesempatan emas?” Dea semakin keheranan. Bukan De, itu bukan kesempatan emas bagiku. Itu hanya sebuah tiket yang akan membuatku menjadi bolang alias bocah ilang. Ya… aku akan terdampar dan tersesat di fakultas kedokteran, yang notabene bukan tempat impianku berlabuh. Namun di sanalah harapan Ayah tertancap kuat. Mengakar.
***
“Ayah nggak habis pikir. Kenapa kamu lebih memilih SNMPTN Jalur Tulis ketimbang Undangan? Ayah tidak meragukanmu Lita, Ayah yakin melalui jalur tulis pun kamu akan tetap bisa masuk fakultas kedokteran. Tapi bukankah lebih pasti jika kamu mengikuti Undangan?” ucap Ayah dengan nada tinggi saat itu. Saat ia tahu aku tak mengikuti Undangan. Mataku berair saat itu, antara sedih membuat Ayah marah dan karena merasa Ayah tak pernah menghargai pendapatku.

“Ayah, Lita ingin mengukur kemampuan melalui SNMPTN Tertulis. Bukan Undangan yang kelulusannya ditentukan melalui nilai raport.” ujarku pelan. Mencoba meyakinkan Ayah bahwa aku tahu seberapa besar harapannya padaku. Harapan agar aku mengikuti jejaknya, menjadi seorang dokter. Ayah tak pernah mendengar kalimat itu. Karena sebelum aku mengucapkan sepatah katapun, ia sudah berlalu meninggalkanku. Membiarkan tetesan air mata mengalir lebih deras di pipiku. Tanpa seberkas pelangi di mataku.

Peristiwa tersebut terus menerus direplay di otakku. Membuat hidungku semakin basah dalam sujud Istikharah-ku.

“Ya Allah… haruskah aku mengesampingkan mimpiku masuk fakultas TI demi Ayah? Demi senyumnya, yang akhir-akhir ini jarang ditujukan padaku? Bantu aku Ya Allah… bantu aku memutuskan jalan mana yang akan kutempuh.”
***
Kutelusuri nama demi nama yang tertera di layar komputerku. Hasil SNMPTN Tulis yang beberapa hari lalu aku ikuti. Aku tersenyum puas. Aku diterima.
“Ya Allah… thanks for help me choose this faculty. You’re the best.”
***

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya