Follow Me

Saturday, June 15, 2013

Celah Paving Block


(foto hasil googling dengan keyword : boulevard ITB)
 
Bismillah..

Ini catatan liburan kedua-ku. Mencoba kembali peka, pada sekitar.

***

Hari itu, Kamis, setelah lama berkutat di sekitar masjid salman aku memaksakan diriku melangkahkan kaki ke kampus. Berencana mengaktifasi akun AI3 (akun internet mahasiswa ITB, --a lupa kepanjangannya apa).

Melangkah cepat, namun tetap aware pada sekeliling. Melintasi paving blok gedung PLN dan TVST sembari mengamati dua orang bapak yang sedang berjongkok. Langkahku sedikit diperlambat, memperhatikan mereka.. yang sepertinya membersihkan lumut atau tumbuhan kecil di sela-sela paving blok yang berjajar rapi.

Tap, tap, tap. Aku kembali mempercepat langkahku. Menuju Comblabs dan mengaktivasi akun AI3. Keluar dari gedung Comlabs aku berjalan lebih santai. Sengaja memperlambat langkah, sungguh.. ingin memperhatikan dua bapak yang sedang membersihkan lumut dan tumbuhan kecil.


Awalnya, aku iseng berpikir. Apa yang mereka bisa lakukan sembari membersihkan lumut di sela paving blok? Mereka mungkin bisa mengerjakan itu sembari mendengarkan murotal, atau murajaah. Eh, ah! Mungkin lebih tepat sembari berdzikir.. ya, mereka bisa membersihkan lumut dan tumbuhan di celah paving blok sembari berdzikir.

Kemudian.. somehow, aku berpikir bahwa paving blok di antara 4 gedung itu begitu luas. Pikiranku menerawang, ah.. padahal area tersebut tidak bisa disebut luas jika aku berjalan sebagai mahasiswa pada umumnya. Namun... melihat pekerjaan bapak tadi. Aku jadi ikut membayangkan jika diri menjadi salah satu dari mereka. Harus membersihkan setiap celah antarpaving blok yang terpasang. Ya Rabb.. luas sekali. Apakah aku sanggup? Ada perasaan tidak bernama di sini (baca: di hati). Aku menoleh ke belakang, melihat dua bapak paruh baya yang berjongkok itu. Mereka tidak menggunakan alat sama sekali. Perasaan tak bernama di sini menguat. Membuatku tak bisa berhenti memikirkannya.

Maka ketika kaki menjejaki paving blok di depan Campus Centre. Aku masih bertanya-tanya, tidak adakah alat yang bisa menggantikan pekerjaan mereka untuk membersihkan lumut dan tumbuhan kecil itu? Karena memang aku sadar, lumut dan tumbuhan kecil itu memang perlu dibersihkan. Jika tidak, maka akan ada lapisan pavingblok yang terkikis. Dan hasilnya? Akan ada banyak "ranjau" seperti yang sudah tercipta di boulevard.

Perasaan tak bernama ini. Menyesak dadaku. Kuperhatikan lumut dan tumbuhan kecil di celah pavingblock boulevard. Area paving block seluas ini... harus ada orang-orang yang berjongkok dan meluangkan waktunya untuk membersihkan satu demi satu lumut dan tumbuhan kecil di setiap celah paving blok ini.

Perasaan tak bernama ini. Menyesak dadaku.
Ya Allah.. jaga kepekaan hati ku, aku takut suatu hari nanti. Aku terlalu sibuk dengan duniaku. Hingga tidak peka pada hal yang terkesan remeh ini.

***

Perasaan tak bernama ini. Mungkin seharusnya aku mengabaikannya. Karena bisa jadi, mereka enjoy melakukan pekerjaan itu. Toh pekerjaan itu halal. Yang terpenting adalah.. mereka bisa mendapatkan nafkah halal untuk istri dan anak-anak mereka.

Bukankah hidup ini, adalah bahagia jika kita dedikasikan sepenuhnya untukNya? Seperti kutipan Sayyid Quthb:
Semua akan menuju Allah setelah wafatnya,
tetapi yg berbahagia, adalah yg menuju Allah sejak masa hidupnya
 Allahua'lam bishowab.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya