Follow Me

Tuesday, October 31, 2017

Jalan Menulisnya

Bismillah.

Setiap penulis punya kisah jalan menulisnya sendiri, yang unik, yang menceritakan awal mula dan perjalanannya menulis. Izinkan aku menceritakan jalan menulis seseorang. Sudut pandangnya cuma dari seorang pendengar saja, tidak detail, bisa jadi banyak yang salah dan keliru. Izinkan aku menuliskannya di sini, semoga minimal diriku bisa mengambil hikmah dari jalan menulisnya.

bukan iklan faber castel hehe ^^
***

Kami duduk berhadapan, menyantap ayam geprek di sebuah kantin di timur jauh. Ia terlebih dahulu menyelesaikan makannya, sedangkan aku masih perlahan menikmati satu demi satu cabe yang terpotong besar dengan sisa ayam dan nasi di piringku. Aku membuka percakapannya, penasaran.. kisah awal ia memulai hobi menulisnya.

"Sejak kapan teh? Mulai tertarik nulis sampai berhasil menelurkan buku? Buku kolaborasi dengan beberapa orang," tanyaku.

"Aneh ya? Masih inget dulu diingetin Kadiv karena aku ga setor-setor tulisan," ucapnya mengenang masa ketika kami satu organisasi. Aku tersenyum mengingat itu. Obrolan berlanjut jadi kisah nostalgia kami dengan organisasi yang tidak sekedar organisasi di hati kami. Tentang betapa banyak konflik, namun dari sana, muncul banyak pelajaran, banyak karya, dan juga banyak kenangan yang tertanam di hati.

Kuulangi pertanyaanku lagi, tentang awal mula perjalanan menulisnya. Ia kemudian menyebut nama sebuah tempat. Sebuah negara, tempat ia menempuh setengah dari pendidikan double degree-nya.

"Inget kan? Sore itu.. waktu aku cerita tentang keinginan buat kajian di lingkungan yang kering dakwah islamnya," kata-katanya mengingatkanku pada sebuah sore saat ia baru kembali dari negeri itu, membagikan kartu pos.

"Dari sana ngerasa butuh untuk nulis sebagai media syiar dan dakwah," jelasnya. Aku mengangguk pelan, sembari masih berusaha menghabiskan makanan di piringku.

Obrolan kemudian berlanjut ke buku-buku, ke ustadz Salim A. Fillah, cara menulisnya, non fiksi namun berhias sastra. Ia menceritakan padaku, bahwa ia sering mencari kata yang unik, yang lebih indah daripada kata umum untuk dimasukan dalam kalimat yang ia tulis. Ia juga menyatakan keheranannya, saat ia mulai membuat puisi, sesuatu yang mungkin orang lain tidak tahu tentangnya.

"Aku juga ga tahu, kalau ternyata aku bisa buat kalimat-kalimat yang puitis seperti itu", ucapnya. Aku tersenyum, dalam hati mengiyakan kalau menulis bisa mengeluarkan sisi lain dari diri kita. Sisi yang mungkin tidak bisa dilihat dari keseharian kita.

"Tapi sekarang aku udah ga puas dengan kata-kata puitis. Aku mulai baca-baca buku-buku "berat", dengan bahasa semacam bahasa politik atau bahasa litelatur," ucapnya.

"Semacam text book?" tanyaku. Ia mengiyakan. "Tapi wajar sih Teh, soalnya yang puitis-puitis itu lebih banyak menggunakan otak kanan, teteh kan akademisi banget," tambahku. Piringku sudah hampir kosong, aku menyudahi makanku, meski ada sisa satu dua, mungkin tiga cabe yang masih utuh.

"Terus gimana teteh bisa ikutan nulis buku itu Teh?" tanyaku, masih penasaran dengan jalan menulisnya. Yang ia ceritakan baru awal, aku ingin tahu bagaimana ia berjalan dan memulai menapaki satu batu pijakan di jalan menulisnya.

"Ada temen Teteh yang ngajakin Bel. Dia sering liat tulisan teteh, dan menurut dia, tulisanku bisa dibukuin," jelasnya. Aku masih berusaha menyimak, menahan diri untuk berkomentar, belajar menjadi pendengar yang baik.

"Awalnya ragu, ngerasa belum pantes juga. Tapi aku kan golongan darah B, pengen ada pencapaian-pencapaian baru," lanjutnya. Ia kemudian menceritakan bagaimana ia selalu suka memulai mengerjakan hal-hal baru. Pengalaman organisasinya, pengabdian, penelitian, dan banyak aktivitas lain. Aku beberapa kali menanggapi dan mengiyakan, karena aku tahu betapa ia selalu sibuk dengan berbagai macam aktivitas. Meski jujur, saat itu.. sampai sekarang, aku tidak tahu apa hubungannya itu semua dengan golongan darah.

"Dan nyusun buku, itu salah satu hal yang belum pernah aku coba kerjain," tegasnya. Aku tersenyum, jalan menulisnya unik bagiku, rasanya senang bertemu dengan seseorang yang mulai suka menulis, dan menemukan dirinya ternyata suka menulis. Aku teringat betapa banyak yang merasa tidak suka menulis, padahal pernah aku menemukan satu dua tulisannya yang bermanfaat, yang sayang kalau ia tidak menulis hanya karena alasan tidak suka. Walau memang itu pilihan masing-masing orang, aku juga tidak pernah memaksa, meski sering mengingatkan orang lain untuk menulis.

"Selain itu, aku juga mendedikasikan buku ini untuk salah seorang sahabatku, Bel" ucapnya. Aku kemudian bertanya, ingin tahu lebih detail tentang salah satu yang memotivasinya menyusun buku tersebut.

Ia menceritakan padaku, ia memiliki seorang teman dekat, sahabat, yang sangat dekat. Ia tidak menyebutkan padaku namanya, toh aku juga tidak akan mengenalnya. Aku pun tidak bertanya, karena aku tidak perlu tahu namanya. Aku cuma ingin tahu ceritanya, motivasi apa, perasaan apa yang membuat ia menulis buku untuk sahabatnya tersebut.

Ia menjelaskan panjang lebar tinggi, tidak dalam. Terlalu sulit menceritakan perasaan ingin merangkul sahabatnya tersebut dalam kalimat lisan. Tapi aku bisa merasakannya, mengapa ia memilih menulis untuknya.

Sejujurnya, saat itu.. aku ingin sekali memberikan opini A, dan B. Namun akhirnya aku memilih diam dan mendengarkan. Aku belum pernah punya sahabat dengan situasi sepertinya. Jadi aku merasa, tidak punya hak untuk mengutarakan opini. Bagian ini seharusnya tidak perlu ditulis ya? Maaf.

"Aku gatau sih, temenku itu responnya gimana. Tapi aku beneran nulis itu untuk dia," tegasnya. Aku tersenyum dan mengangguk.

"Aku tahu kok teh, kita kan sama-sama orang syiar, yang punya perasaan sayang dan ingin merangkul banyak orang, ketika kita melihat sedikit kebaikan di orang lain." ucapku. Lalu aku bercerita tentang Strawberry dan Lemon. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, sebenarnya aku menyesal. Aku bohong, mungkin aku bohong, kenyataannya aku bukan anak syiar yang baik. Aku teringat masa-masa osjur, betapa egois diriku, aku teringat betapa aku memilih menjauh ketimbang mendekat dan mengajak mereka yang mungkin sudah tidak mungkin aku temui lagi dalam waktu dekat ini, untuk waktu yang lama. Mungkin, kecuali kalau Allah berkehendak lain.

***

"Waktu kamu tanya, aku nulis dimana Bell. Alamat blogku apa," ucapnya. Aku menyimak, masih penasaran mengapa ia menggantungkan tanyaku di chat saat itu. Ia menjelaskan bahwa ia tidak ingin bagi-bagi alamat blog. Ia lebih menghargai, kalau orang lain menemukan blognya, baru kemudian mengetahui bahwa itu tulisannya. Ketimbang ia mempromosikan blognya kepada orang lain.

Saat mendengar penjelasan itu tiba-tiba saja aku teringat aku yang lalu. Sejujurnya, saat itu mungkin aku tidak banyak teringat tentang hal lain, kami saat itu bergegas ke sebuah gedung, untuk shalat ashar. Aku shalat ashar, ia memberi makan 'anak'-nya.

Tapi sebenarnya penjelasan itu menetap di otakku, terkadang terlintas lagi dan lagi di otakku. Aku sebenarnya dibuat berpikir ulang, tentang blogku, tentang tulisanku, tentang ketersembunyian, tentang berbagi tulisan, tentang banyak hal terkait itu semua.

***

Cuma itu... cuplikan kisah jalan menulisnya yang aku ketahui. Mungkin ada informasi yang salah, atau keliru, saya minta maaf. Hikmahnya apa dari tulisan ini? Izinkan aku tidak menyuratkannya di sini, semoga pembaca bisa memetik sendiri hikmahnya.

Aku takut memperpanjang tulisan ini hanya akan membuatku lebih banyak bercerita tentang diri. Jadi, kusudahi saja di sini.

Intinya mah, semangat menulis! Semangat beramal baik! Fastabiqul khairat^^

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya