Follow Me

Wednesday, June 27, 2018

Nothing Last Forever

Bismillah.

Masih terinspirasi dari serial dunia hujan di blog-nya Teh Mentari Pagi.

Membaca serial tulisan pendek itu.. membuatku ingin menulis ini. Nothing last forever. Whatever it is. Termasuk relationship. I don't mean, we must give up and end the relationship we cherish because one conflict. Aku cuma ingin menuliskan, bahwa kita tetap harus menyadari bahwa ga ada yang abadi. Bahkan ibu dan anak, saling menghindar di hari dimana semua orang sibuk memikirkan diri sendiri. 

***

Itu yang pertama, nothing last forever. Yang kedua.. saat sebuah hubungan layu, apa kita harus berhenti menyiraminya? Aku pernah blogwalking, yang aku komentari dengan kesensian diri.

Saat ada yang salah, hubungan kita dengan manusia, entah itu sahabat, orangtua atau bahkan kekasih, pertanyaan pertamanya harus sama dan ditujukan ke diri, bagaimana hubungan kita dengan Allah?

Karena saat kita melukai orang lain, kita salah mengucapkan kalimat berduri, artinya ada yang salah di diri kita. Ukhuwah itu buah iman, saat ukhuwah kering dan radang, apa kabar iman kita? Bukan berarti kita melupakan inti permasalahannya, tapi sebelum beranjak ke teknis penyebab semua itu layu, kita perlu melihat dulu ke dalam diri kita. 

Lalu sembari memperbaiki iman kita, kita jalani juga usaha untuk memekarkan lagi hubungan yang layu. Bagaimana caranya? Lewat doa. Lewat membuka pintu komunikasi. Lewat memberikan hadiah kecil. Terus saja begitu.. tekniknya ada banyak. Kita coba satu persatu. 

Seperti tanaman yang layu, kita coba sirami, kita coba cabuti gulma, kasih pupuk, berikan sinar mentari pagi. Sambil doa juga.. 

Yang menggerakkan hati itu Allah. Diam dan jarak itu mungkin akan lama kita rasakan. Sedih, iya. Tapi kalau kita berusaha memperbaiki diri, mencoba memperbaiki komunikasi, serta sering-sering melangitkan doa untuknya. Suatu saat Allah akan memekarkan lagi hubungan itu. Atau kalaupun tidak mekar di dunia, bukankah.. sama-sama reuni di Jannah itu cukup? Itu bahkan lebih penting, ketimbang mekar dan berbuah hanya di dunia. 

Allahua'lam 

***

PS:

Aku pernah tahu rasanya... saat hujan dan samudra tidak pernah bertemu. Saat itu hujan sedang sakit, samudra.. entahlah, mungkin jauh lebih sehat. 

Aku pernah jadi yang melukai, pernah juga yang terluka. Tapi lepas dari semua luka itu... aku merasa... doa dari teman-teman berhati tulus lah, yang membuatku mampu mengeratkan lagi ukhuwah yang pernah putus. 

Atau jika itu tentang justru ikatan yang tak bisa putus.. tapi karena terlalu erat justru melukai. Aku juga masih belajar, bagaimana agar tidak menjadi yang melukai, dan tidak terlalu sensitif dan selalu merasa dilukai. 

Ah.. tiga paragraf ini mungkin sebaiknya tidak perlu ditulis. Sok tahu, sok abstrak. Di hide aja ya hehe. 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya