Follow Me

Wednesday, March 24, 2021

Berselimut Sifat Introvert

March 24, 2021 0 Comments
Bismillah.

Aku ingin bercerita lebih banyak tentang diri, mengobrol lebih banyak tentang buku-buku yang kubaca, mengajak bicara lebih banyak orang.

Tapi aku... Aku akhirnya memilih berselimut sifat introvert.

Cukup, cukup pemantik saja. Sisanya letakkan di blog, jalan sepi ini lebih nyaman (:

Aku takut, aku terlalu banyak bicara dan lupa untuk lebih banyak bekerja.

***

***

#unsentmessage

Aku tuh dulu pernah ikutan gerakan semacam ini juga..

Namanya GMIB, yg ngadain P3R-nya (panitia ramadhan) masjid UGM.

Kalau ga salah targetnya 25 halaman tiap hari.

Tapi boleh sifatnya gak wajib gitu. Kalau ga tercapai, lapor aja seadanya, hr itu baca buku apa dan halaman brp sampai berapa.

Cuma sebulan programnya, tapi efeknya lumayan lama. Beberapa bulan selanjutnya habitnya masih nempel.

Sampai akhirnya "negara api menyerang" wkwkwk.

Sejak itu, meski masih berusaha jaga habit baca tiap hari, tapi rasanya hambar. Trus biasanya cm baca 1-4 halaman aja.

Gak bisa fokus, atau cepet ngerasa bosen.

Sering begitu longgar ke diri, mengaku, bahwa aku memang slow reader.

Padahal mah, kalau mau muhasabah, tahu banget ada banyak waktu yang sebenernya bs diisi dengan membaca.

***

Aku ingin bercerita tentang cara supaya bisa laporan SERI lebih awal. Ternyata membaca novel itu, 10 halaman itu ringan wkwkwk. Aku empat hari ini mulai baca novel Reem karya Sinta Yudisia.

Tahu gerakan baikberisik? Membaca novel Reem banyak mengingatkanku bahwa aku belum banyak membaca buku-buku tentang Palestina. Maka pertanyaan Reem pada Kasim membuatku terdiam. Mungkin perlu dicatat judul-judul buku di sana.

Aku malu, aku sering mengaku hobiku membaca dan menulis. Tapi waktu luangku lebih banyak disita hal lain, yang bukan membaca, yang bukan menulis.

Hiks. Apa kabar blog ini? Maret? Berapa tulisan?

Sebagian diriku ingin melempar excuse.

"Aku masih jatuh bangun, aku belum bisa banyak menulis"

"Aku masih jatuh bangun, tapi bukan berarti aku menyerah"

"Aku menulis, di dalam kepalaku, dalam monolog tanpa ujung"

"Ada yang menahanku untuk menulis, ada amanah yang belum tertunaikan, TT"

***

Sebelum makin ngalor-ngidul. Mari akhiri tulisan ini.

Terimakasih Arketipe, sudah membersamaiku, menyemangatiku, menjadi support system-ku agar makin suka membaca. Agar bisa membaca minimal 10 halaman tiap hari. (:

Last, but not least.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah 🌼🌼

Thursday, March 18, 2021

SS Week 8 - Ayat-ayat Favoritku di Surat Yasin

March 18, 2021 0 Comments

 SHARING SESSION

Week 8 (25 Desember 2020)

#guidelight

Perbuatan Syirik/Menyekutukan Allah

Syaikh Dr. Shalih Bin Fauzan Al Fauzan dalam buku Kitab Tauhid menyebutkan, ada empat macam syirik besar:

1.      Syirik Da’wah (Doa) yaitu disamping dia berdoa kepada Allah, ia berdoa kepada selainNya.

وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ ٱلْإِنسَـٰنُ كَفُورًا

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. [Surat Al-Isra (17) ayat 67]

2.      Syirik Niat, Keinginan, dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu bentuk ibadah kepada sealin Allah.

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَـٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. [Surat Hud (11) ayat 15]

أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَـٰطِلٌۭ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. [Surat Hud (11) ayat 16]

3.      Syirik Ketaatan, yaitu menaati selain Allah dalam hal bermaksiat kepada Allah.

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًۭا ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. [Surat At-Taubah (9) ayat 31]

4.      Syirik Kecintaan (Mahabbah) yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًۭا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّۭا لِّلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ إِذْ يَرَوْنَ ٱلْعَذَابَ أَنَّ ٱلْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًۭا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعَذَابِ

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). [Surat Al-Baqarah (2) ayat 165]

Karena bentuk kesyirikan bisa begitu banyak, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, penting bagi kita untuk senantiasa memohon perlindungannya, dengan mengamalkan doa,

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ , وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan (syirik) yang menyekutukan-Mu sedangkan aku mengetahuinya; dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa-apa yang tidak aku ketahui.” [1]

Sedangkan jika menyangkut orang lain, maka penting untuk memperhatikan cara kita menyampaikan nasihat. Biasanya mereka yang melakukan perbuatan syirik, karena tidak mengetahui ilmunya. Ajak untuk mengenal dan mencintai Allah, ajak untuk bersama ikut kajian tentang akidah. Dari sana, ia akan mulai menyadari letak kesalahannya sendiri.

Ayat Berkesan di Surat Yasin

Ada begitu banyak ayat yang berkesan saat mempelajari tafsir dan mentadabburi maknanya. Diantaranya:

·         Ayat 2. Allah menjadikan Al Quran Al Hakim sebagai sumpah, penekanan dan bukti tentang kerasulan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam. Ayat ini mengingatkan saya untuk selalu dekat dengan quran, menggali hikmah di dalamnya dan mendapatkan pelipur sedih dengan berinteraksi dengan quran.

·         Ayat 25. Pengakuan iman seorang laki-laki tanpa nama. Bahwa iman yang ada di dada, jika ia benar, maka akan terpancar dalam lisan dan berbuah dalam amal. Sehingga tidak mungkin kita tidak mengajak orang lain untuk ikut merasakan manisnya iman.

·         Ayat 39. Tentang bulan dan fasenya. Selain terdapat fakta saintifik di dalamnya, ada juga pelajaran ruhiyah. Bahwa manusia pun begitu, seperti bulan ada fasenya. Imannya naik dan turun. Manusia seperti bulan, memiliki sisi gelapnya. Penting untuk tahu ini, agar tidak berputus asa kala iman sedang terpuruk dan merasa dalam kegelapan. Harus berbaik sangka dan terus berusaha meningkatkan iman, agar bisa purnama lagi cahayanya.

·         Ayat 44. Makna illa rahmatam minna. Jangan sampai keliru. Allah selalu menginginkan yang terbaik untuk kita. Allah ingin kita masuk surga. Tapi kebanyakan manusia justru kufur. Default kapal itu tenggelam, tapi karena rahmatnya, ia bisa berlayar. Keinget hadits tentang betapa laut ingin menenggelamkan manusia, bumi ingin membenamkan manusia, tapi Allah menahannya, karena bahkan pada manusia yang terus menerus bermaksiat, Allah masih membuka lebar pintu taubat. Bahkan pada Fir’aun yang Allah tahu akhir hidupnya seperti apa, Allah masih kirimkan Nabi Musa untuk berkata lembut mengingatkan, barangkali Fir’aun hendak mensucikan dirinya (bertaubat).

·         Ayat 60. Makna menyembah setan. Bahwa mematuhi hawa nafsu dan was-was dari setan adalah bentuk dari menyembah setan. Pengingat juga, bahwa setan itu musuh kita, jadi jangan dijadikan teman.

·         Ayat 80. Fa idza antum minhu tuqidun. Ada dua ayat tentang pohon, satu pengingat surge, satu pengingat neraka. Allah ingin kita masuk surga, tapi manusia justru bersusah payah untuk ke neraka. Semoga Allah melindungi kita dari adzab neraka. Aamiin.

Catatan Hasil Diskusi

·         Cara agar terhindar dari perbuatan syirik:

o    Mengenali Allah

o    Melaksanakan perintah Allah

o    Memperbanyak mengingat Allah

o    Menunaikan Shalat

o    Menjauhi hal-hal berbau syirik

·         Cara mengingatkan orang lain terkait perbuatan syirik: dekat terlebih dahulu, sampaikan argument logis, sampaikan dengan cara baik bukan dengan sikap judgemental.

Keterangan

[1] https://almanhaj.or.id/9809-memohon-perlindungan-dari-syirik.html

Purwokerto, 27 Desember 2020

Isabella Kirei

Kasih Sayang-Nya

March 18, 2021 0 Comments

Bismillah.

-Muhasabah Diri-


Seperti saat kamu bisa hadir di sebuah forum, kemudian sebuah ocntoh disebutkan, dan contoh itu... begitu mirip dengan keadaanmu.


Tidakkah kamu merasakan hangatnya kasih sayang Allah? Tidakkah kamu melihat betapa terang ayat-ayat-Nya mengajakmu untuk beranjak dari kegelapan?


Bukankah seharusnya air mata jatuh? Kamu seharusnya bersedih, merasa bersalah, kemudian berlari kepadaNya.


Tapi mengapa sampai hari ini, masih kulihat kamu berkubang dalam gelap, membiarkan hatimu mengeras, meski hujan berkali-kali mengetuk jendela kacamu?


Bukankah seharusnya air mata jatuh? Kamu seharusnya bersedih, merasa bersalah, kemudian berlari kepadaNya.


***

"Cinta yang paling agung dan sempurna adalah cinta yang abadi. Sebuah cinta di saat kita merasakan ketentraman dan kedamaian yang luar biasa pada setiap harinya. Sebab, pihak yang dicintai tidak pernah meninggalkan yang mencintai.

Bahkan, Dia selalu memaafkanmu jika engkau bersalah. Dia tetap bersabar, ketika engkau berpaling dari-Nya. Dia tidak pernah bosan bersamamu, hingga engkau sendiri merasa bosan.

Tidakkah engkau melihat, adakah di sana cinta yang lebih mulia dan agung dari cinta-Nya?"
- Dr. Khalid Jamal, dalam buku "Ajari Aku Cinta"

Allahua'lam.

Wednesday, March 10, 2021

Mengeja Rasa Menjadi Kata

March 10, 2021 0 Comments

Bismillah.



Untukmu, yang mampu mengeja rasa menjadi kata.


***


Beberapa hari yang lalu, aku berkunjung dan membaca barisan kata darimu. Ada yang berbeda di sana.


Entah apa yang terjadi di balik layar, tapi aku membaca bagaimana kau mengeja rasa menjadi kata. Ya, kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Kalimatmu sederhana, dan narasimu pendek. Tapi aku tahu, butuh kekuatan yang besar untuk bisa melakukannya. Karena aku sedikit banyak tahu, tentang sulitnya mengkomunikasikan perasaan, terutama perasaan negatif. Lebih mudah untuk menguburnya, atau membiarkannya tertumpuk di alam bawah sadar. Tapi kamu mengejanya, rasa itu, kamu mengejanya menjadi kata. Dan aku, membaca itu, tersenyum. Bukan karena aku senang atas perasaan negatif yang kau rasakan, tapi karena aku merasa kau sudah melakukannya dengan baik. Kau mengeja rasa menjadi kata dengan sangat baik. *berbeda denganku yang sering hiperbol dan muter-muter haha 


Rasanya, aku ingin menepuk bahumu pelan dan memujimu. Tentu, aku juga bisa saja diam lebih lam, untuk menyimak dan berusaha berempati (*meski yang satu ini aku masih perlu banyak belajar).Tapi perasaan pertama yang muncul saat itu, yang pertama, bukan empati, tapi semacam perasaan bangga, seolah aku ingin berterima kasih, karena kamu sudah mengeja rasa menjadi kata.


Selamat! Untukmu yang mengeja rasa menjadi kata. Kau berhasil mengeja sakit, menjadi sakit. Mengeja sulit menjadi sulit. Mengeja sesal menjadi sesal.


Karena aku tahu, tidak mudah mengekspresikan itu, tidak mudah mengkomunikasikan hal itu dengan baik. Dan kamu melakukannya, kamu mengeja rasa menjadi kata, kata yang mungkin tidak berwarna cerah, tapi kata tersebut bebas dari racun. Ada banyak orang yang kesulitan untuk mengeja rasa menjadi kata, sehingga yang keluar adalah kata-kata umpatan dan cacian. Tapi kau mengejanya dengan sangat baik. Kalimatmu pendek dan sederhana.


Terima kasih telah mengeja rasa menjadi kata, sehingga aku dengan mudah mengerti dan mengangguk pelan. "Hm... ternyata seperti itu, ternyata kau merasakan itu."


The last but not least. I might not fully understand your feeling. But because you write it so well, I can fully understand the word you spell. You express it well, you communicate it so well. And I'm happy that you're brave enough to spell it out loud. I learn a lot from you.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


A Word from The Other Language

March 10, 2021 0 Comments

Bismillah.

I've been 'learning' other language, and even use it often in my inner thoughts. I do a lot of monologue both in Indonesia and other language (english included). And as I gasp and fill my vocabulary, I often find myself finding it difficult to translate a word from other language to Indonesia or even to english. I can find a synonym of it, but I feel like it doesn't do justice to translate the "nuance" of the word itself.

Sejak itu, aku menyadari kalau kurang banyak membaca. Bank kosakata bahasa indonesia di otakku cuma sedikit, sepertinya aku perlu baca tulisan-tulisan sastra lama yang diksinya lebih unik dan berwarna.

***

Aku menulis ini. karena ada sebuah topik yang belakangan ini ingin sekali kutulis. Dan aku membuat draft tulisannya di otakku, melalui monolog. Hingga kemudian aku tersendat di sebuah kata. Kata tersebut maknanya seperti ungkapan bangga, tapi bukan bangga juga sih. Sebuah pujian. Mirip "proud of", tapi bukan juga. Perasaan seorang guru yang melihat muridnya belajar dan berkembang. Perasaan orangtua yang melihat anaknya menjadi lebih dewasa. Sebuah pujian yang seorang teman berikan, saat melihat temannya melakukan hal baik, atau berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Ada sedikit rasa bangga, sedikit kagum, sedikit puas, dan lebih banyak apresiasi akan bertumbuhnya seseorang yang kita kenal.

It actually could be easier if I want to write it in the other language. Tapi aku ingin menuliskannya dalam bahasa indonesia.

Monday, March 8, 2021

About Failure (from Bertumbuh)

March 08, 2021 0 Comments

Bismillah.

Akhir 2020 yang lalu, ada satu buku yang aku targetin selesai sebelum berganti tahun. Dan itu adalah buku Bertumbuh. Sejujurnya, aku gagal terhadap rencanya. Bukunya baru selesai dibaca di awal Januari hehe. Tapi meski begitu, sebenarnya aku berhasil juga, karena kecepatan membacaku meningkat saat ada target tersebut. Entah sudah berapa lama aku baca buku begitu pelan dan begitu tidak bersemangat wkwkwk. Sebenarnya buat grup baca tiap hari itu, untuk diriku, karena butuh pengingat, dan butuh teman baca. Alhamdulillah ada teman-teman yang mau membersamai ^^

Oke, pembukaannya udah. Sekarang ke isi, dan mungkin gak akan panjang. Ada satu hal tentang kegagalan di buku Bertumbuh yang membuatku speechless. Kehabisan kata karena ngerasa yang disebutkan di sana benar, dan juga jleb, dan juga... kok aku gak kepikiran ya?

Penulisnya Iqbal Hape, yang menyebutkan tentang kegagalan ibarat analogi main game angry bird. Harusnya tuh begitu, sama seperti saat kita main game, trus kalah kan? Trus saat ditanya retry or quit, kita pilih mana? We try again, and again, and again.

Yang biasa main game, mungkin bisa mengganti angry game dengan game yang kamu sukai. Dan mengingat berapa kali kalah dan coba lagi.

Saat membaca itu, aku speechless tapi juga "kesel", kenapa sesimpel itu ya? Dan kenapa aku gak kepikiran tentang itu? Meski benar, kegagalan dalam hidup ga bisa disamakan kaya main game, I mean our life is not a game. But we should really have this mindset to move on from a failure. Prosesnya mungkin gak seinstan kaya main game. Terutama jika kegagalan tersebut kegagalan besar bagi kita. Akan ada proses menerima, mungkin juga healing, kalau kegagalan tersebut membuatmu babak belur. Baru kemudian kamu bersiap untuk maju lagi, dan mencoba lagi.

***

Membaca bagian itu di buku bertumbuh mengingatkanku pada suatu waktu aku mengisi google form, agenda give away-nya Heal Yourself, trus disana ada pertanyaan pengen Teh Novie nulis/bahas apa. Saat itu aku bertanya tentang bagaimana bangkit dari kegagalan. Trus gatau kenapa aku ngebayangin Teh Novie menjawab dalam hati agar aku membaca buku Bertumbuh, dan belajar dari sana.

And I read it, finally. Sekarang, saat sudah selesai membaca, pertanyaannya tinggal balik ke diriku.

Apakah kamu bertumbuh? Sudahkah, kamu move on dari kegagalan yang tidak kecil itu? Maukah kamu meninggalkan hal-hal yang menghambat langkahmu?

Doakan aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik ya. Aku juga... aku juga akan berdoa, untuk siapapun, dan untuk orang-orang yang terlintas di benak di sore gerimis senin ini. Semoga Allah memudahkan menguatkan langkah kaki kita dalam bertumbuh, melaju dari kegagalan yang pernah dan mungkin masih menggayuti langkah. Barakallahu fiikum. 

Saturday, March 6, 2021

Pertanyaan Apa Kabar

March 06, 2021 0 Comments
#SERI #Day6 #Arketipe

"Menjawab pertanyaan apa kabar memang bukan perkara mudah. Kenyataannya, ada bagian tidak baik-baik saja pada semua orang, sehingga yang tidak baik dianggap wajar. Dan disebut baik.

Tapi ada yang lebih susah daripada menjawabnya, yaitu menanyakannya.

Terkadang dua manusia terlalu sering bersama sehingga lupa untuk saling bertanya dan bertukar kabar. Terkadang dua manusia terlalu sering tidak bersama sehingga bertanya dan bertukar kabar kehilangan makna."

Teman Imaji - Mutia Prawitasari, CV IDS

***

Hanya kutipan. Tadi udah nulis panjang tentang arketipe, tapi ke close dan gak otomatis save dong ><

Salah sendiri nulis di app wkwkwk. Yasudahlah, lain kali aja ceritanya.

Hari ini share kutipan aja.

***

Penutup gombal.

Hei kamu! Iya, kamu. Apa kabar?

Monday, March 1, 2021

Google+ dan WhatsApp

March 01, 2021 0 Comments

Bismillah.


Gak nyambung sih, tapi bisa disatukan karena keduanya merupakan semacam sosial media. Whatsapp ga bener-bener sosmed sih, lebih ke aplikasi kirim pesan, meski di dalamnya ada fitur status wa, yang mirip-mirip fungsi sosmed juga.


Akhir-akhir ini aku merindukan google+ dan "membenci" whatsapp. Yang kedua mungkin gak pas, bukan benci sih, cuma gak suka, cuma banyak menghindar. Tapi masih tetap pake karena butuh, dan ya.. sedikit banyak terpaksa.


Aku rindu google+ karena aku rindu tulisan-tulisan dua orang ukhti yang biasanya nulis pemikiran dan perasaannya di sana. Kangen, tapi cuma bisa diem aja dari jauh. Sebenarnya bisa aja mencoba memulai percakapan, menyapa, bertanya kabar. Tapi aku gak pandai memulai dan mengalirkan percakapan. Aku takut terlalu banyak bertanya hingga terasa meninterogasi, juga takut terlalu banyak berbicara curhat gak penting, atau takut terjebak pada pertanyaan-pertanyaan klise.


Aku lebih suka membaca saja diam-diam, kemudian memetik hikmah dari buah pemikiran dan perasaan yang tertulis di sana. I want to know their story, I miss them, and I miss reading their thoughts, their feelings. Banyak nasihat dan hikmah yang kudapat dari membaca tulisan teman. Terkadang rasanya seolah mereka berbicara denganku, menasihatiku. Terkadang, membaca keresahan mereka membuatku merasa dimengerti, they feel it too, like the way I felt it too.


I feel like I'm just being emotional nowadays. Padahal kalau lagi biasa aja, aku mungkin dengan ringan akan menyapa.


Kepada dua ukhti yang mungkin sedang sibuk mengamati tumbuh-kembang anak laki-lakinya. Semoga kalian baik-baik saja, semoga Allah melindungi kalian. Barakallahu fiik. Dari seorang sahabat yang rindu.

SelfD #6 : What Would My Perfect Day Look Like?

March 01, 2021 0 Comments

Bismillah.

Ideal day, perfect day, sebelum bahas tentang itu, pertama-tama,... hore~ akhirnya seri ini dilanjutin hehe. Doakan bisa selesai sampai pertanyaan ke 30. *gatau kenapa motivasi nulisnya lagi turun **tahu sih sebenernya kenapa

***

Menurutku hari yang ideal itu,

1. Bangun tidur paling enggak 30 menit sebelum shubuh, baca doa bangun tidur, alhamdulillahilladzi ahyana ba'dana amatana wailaihinnusyur, ambil air wudhu, shalat/baca quran, kalau lagi haid, dengerin murotal atau baca buku atau nulis

2. Shalat 2 rakaat sebelum shubuh, trus shalat shubuh jamaah. Habis shubuh ga tidur lagi, tapi ngerjain hal-hal produktif entah itu dzikir pagi, nulis, masak, dll.

3. Jalan-jalan pagi, menghirup udara segar. Syukur-syukur olahraga kecil, entah itu senam sendi, atau ngulang-ngulang PG, atau lari kecil meski cuma satu putaran.

4. Mandi, sarapan nasi/minum susu+buah.

5. Sebelum dzuhur udah beres kerjaan harian, biar habis dzuhur-ashar bisa santai-santai

6. Mandi, ashar jamaah, lanjut ngerjain kewajiban dan mengisi waktu dengan kegiatan produktif. Sebelum magrib sudah makan minimal 2 kali, kalau bisa sih 3 kali. Family time jangan lupa.

7. Magrib jamaah. Quran time -- dan gak terdistraksi meski tetep harus connect internet. Buka whatsapp seperlunya, menjaga komunikasi dan silaturahim dengan yang jauh.

8. Isya jamaah. Gak buang-buang waktu meladeni "distraksi" yang harusnya diabaikan. Kerjain yang harus dikerjain. Tidur.


***


Udah, itu aja hehe. Simple ya ternyata, karena banyak yang gak aku buat detail. Ada target harian yang harus dipenuhi, tapi ada juga target pekanan. Sementara menulis masih jadi target pekanan. Harusnya sih, kalau niat jadi penulis, tiap hari nulis/edit. Tapi sampai saat ini belum aku agendakan waktu khusus buat nulis. PR nih buat aku.

Selain itu, mungkin perlu juga dibuat semacam ideal week, ideal month juga haha. Karena ada hal-hal yang pengen kita lakukan ga tiap hari, tapi tiap pekan, atau bahkan tiap bulan. Misal tiap bulan pengen wisata kemana gitu... *tapi kan lagi covid bell. **iyaa tahu kok.


***


Ada dua tipe orang, ada yang tipe biasa buat jadwal harian. Ada juga yang lebih fleksibel. Aku ... entahlah hehe. I have my schedule in my head, but I sometimes forget it. Ada hari yang aku nulisin target, terutama waktu Ramadhan. Tapi aku pribadi merasa aku masih PR besar sih dalam hal ini. Menjadi lebih produktif, menjaga agar tidak merugi, itu akan selalu jadi PR yang berulang. Kadang tahu teori, tapi gak gerak di praktek. Kadang lupa prioritas, lalu menjadi sedih di akhir hari saat menyadari hal tersebut. Yang jelas, untuk menjalani hari yang ideal, menurutku manusia butuh bantuan, baik bantuan alat maupun orang-orang sekitar dan sistem.


Semoga kita bisa mewujudkan hari ideal kita. Step by step. Butuh banyak belajar dan latihan, dan juga jangan menyerah. Semangaat~


***


Keterangan :

Tulisan ini termasuk rangkaian 30 tulisan mengenal diri.





Felt Desserted (2)

March 01, 2021 0 Comments

Bismillah.


I've been keeping it to myself, all the negative feelings. Bahkan tidak juga menuliskannya di sini, atau di diary, atau di blog magicofrain. I've been supressing the tired, exhausted, despair, and a lot of other negative feelings. And it exploded that night, saat tiba-tiba sebuah pesan masuk memintaku mematuhi aturan, dimana aku harus pergi, dan keluar dari "rumah", "zona nyaman", sesuatu yang aku rasa jadi penguatku sembari menekan perasaan negatifku.


So the emotion bomb exploded. Dan baru pernah aku nangis sampai dua hidungku mampet. There's something wrong with my nose too manybe. But I feel panicked, cause I can only breath through my mouth, and it doesn't felt right at all.


So I stop writing, and try to control my emotion. Mencoba bernafas sembari banyak beristighfar. Trying to distract my mind, cause somehow the feeling of desserted keep the water flowing, and it makes things worst. Seketika kerasa banget nikmatinya bernafas lewat hidung. Aku googling cara mengatasi hal tersebut, mencoba melakukan beberapa diantaranya.


Emosiku sudah mereda, masih mengalir sih satu dua tetes, tapi sudah tidak seheboh saat menulis unfilter-version dari felt desserted. Hidung masih belum berfungsi dengan normal, ga bisa tidur sampai jam 2, padahal besoknya harus bangun pagi >< tapi alhamdulillah jam 2 aku sudah bisa bernafas pakai salah satu lubang hidung, mampetnya tinggal sebelah. Banyak mengingat nikmat sehat, dihitung-hitung udah lama banget aku gak flu, gak ngerasain gejala macem itu. Malem itu rasanya persis kaya orang flu, kepala pening, hidung mampet sebelah, but Allah put me to sleep, and He woke me up before shubuh too..


Rasanya... hmm.. susah jelasinnya. Tapi intinya kerasa banget curahat nikmat dari Allah. Bayangin kalau malem itu aku ga tidur, entahlah akan seperti apa kondisi fisik dan emosiku. Kalau ga tidur kan otomatis otak ga berhenti berpikir, bisa kambuh penyakit overthinkingnya. Tapi alhamdulillah Allah kasih nikmat tidur, Allah juga kasih nikmat bangun gak kesiangan. Paginya aku makan nasi sebelum shubuh dong, hehe, entah karena laper, atau memang keinget untuk jaga kesehatan, jadi pengen segera ningkatin imun. Pagi itu masih kerasa banget kondisi fisik yang ga sesehat biasanya.


Trus... pagi setelah shubuh, setelah ngelakuin beberapa hal, dan setelah memastikan kalau agenda google meet-nya di cancel, aku memutuskan untuk jalan-jalan. Berharap ketemu matahari dan itu bisa membantuku bernafas lebih lega. Dan meski pagi itu mataharinya ngumpet dibelakang awan, jalan-jalan yang cuma sebentar itu cukup untuk menghangatkan badan, dan aku juga bisa menghirup udara yang lebih segar. Berdiri di bawah pohon, dan menghirup banyak oksigen dari sana. Keinget hari-hari sebelumnya yang banyak kuhabiskan di kamar dengan sirkulasi udara yang ga baik. Sebenarnya bisa baik sirkulasinya kalau jendelanya di buka, tapi karena ada kucing yang baru melahirkan, anaknya 6, dan dia sering banget masuk lewat jendela, cari kesempatan buat mindahin anak-anaknya ke dalam rumah, jadi deh, pekan itu kamarku bener-bener sering tertutup, baik jendela maupun pintu. #gabaik #janganditiru


Banyak banget info ga penting haha. Balik lagi ke judul. I still learn to accept the decision that I have to leave. Belum pamit, cuma memutuskan mau jadi silent reader aja. Harusnya hari ini beneran "pindahan", tapi belum berkemas. Tapi realita itu harus diterima kan, jadi kupastikan bulan ini "aku resmi pindah". Tanda kutip. Karena tulisan ini bukan bicara tentang pindah secara fisik. Aku masih tinggal di rumah yang sama kok, di purwokerto, di jalan ...... nomer 67 haha, jalan yang letaknya di "belakang" pendopo alun-alun purwokerto.


Kejadian malam itu, mengingatkanku pentingnya nulis dan curhat. Maka saat ada yang japri, lalu mengajak ngobrol, *dari divisi kekeluargaan kayanya* haha, sepertinya sih begitu. Soalnya, tiba-tiba aja, japri, trus tanya-tanya. And I open myself, my feeling, how I felt desserted. How ... reactively I want to quit and go away. But I still hold on. Karena jika aku mau mengesampingkan ego dan perasaanku, dan membiarkan logika yang jalan. Aku tahu, aku cuma harus menjalaninya. And everything will be fine, it'll work out, all iz well, semacam itu. Lagian, ada begitu banyak hal baik yang kuterima, jadi ga pantes banget kalau aku ngambek dan pundung cuma karena hal itu.


Yang saat ini aku masih ragu... I'll probably will never say bye properly. Selalu begitu, gatau kenapa aku hampir tidak pernah left dari suatu grup *ups, jadi ketahuan dikit ya settingnya dimana hahaha. Anyway, I'll just secretly be there, terlupakan eksistensinya. *sedih banget nulisnya. Rasanya ingin menulis hahahaha supaya menghilangkan perasan mellow dan hiperbol di sana. Ya, sepertinya, aku akan tetap diam, I'm really good becoming silent reader. Aku masih proses adaptasi juga nerima keputusan yang rasanya dadakan itu. Nanti... when time's come, sure I'll move on.


Terakhir, untukku, terima kasih untuk ga memilih dikuasai emosi. Bahkan malam itu kau tahan jemari untuk posting tulisan unfilter. Terimakasih juga, udah berusaha untuk bertahan, meski hempasan ombak membuatmu berkali-kali tenggelam. You've done well. You've worked hard. And you can keep doing it! I'm sure you can do it, with Allah's help of course. Satu lagi, berceritalah, jika tidak bisa lewat lisan, kau tahu kata selalu bisa menjadi temanmu, di sini, atau di magicofrain, atau di diary, atau bahkan di secarik kertas. Don't let it exploded like that night, cukup malam itu saja. Jangan diulang. Ok? 



(Unfilter) Felt Deserted

March 01, 2021 0 Comments

Bismillah.


21.02.26


***


#sensiMe #nitipbentar #nantidibalikinkedraftlagi


Mungkin bahkan itu bukan istilah yang tepat. tapi entahlah >< why? rasanya kaya diusir. lama merasa ridak disimak, kemudian mulai merasa nyaman dan merasa ada yang menyimak. lalu tiba-tiba diusir pergi. lalu seketika rasa khawatir, takut sedih, mengepung.... tak bisakah? sebulan saja aku tetap di sini?


kalau mau mengikuti emosi. rasanya ingin pergi sekalian saja, meninggalkan semua >< termasuk beban yang rasanya begitu berat dipikul. rasanya menyesal mengambil sesuatu yang..... rasanya ingin lari dan ngambek sendiri.


they didn't know how hard it is for me. aku bahkan beberapa kali pernah melampiaskannya dalam tulisan, di sini, dan di blog magicofrain.


buka tulisannya, trus sebel sendiri. kok nulisnya kaya sambil senyum sih >< kok bisa lapang dada sih? padahal seingetku rasanya berat, dan berulang lagi dan lagi setiap kali aku bertemu dengan orang yang tidak mau menyimak.


should I really leave...? buat apa berharap pada sesuatu yang tidak pasti?


or should I calm myself down...? belajar berbaik sangka bahwa ada yang akan mau meluangkan tiga menit yang mahal itu.


***


I am having a very hard time right now... so ... can I stay here a month.


Tidak bisakah aku diusir 1 bulan lagi saja? Dan bukan sekarang?


Allah... help me. I felt so strange tonight, the emotion felt like exploding inside of me. Laa haula walaa quwwata illa billah.