Follow Me

Thursday, September 21, 2017

Doa Apa dan Bagaimana

Bismillah.
-Muhasabah Diri-


*Keterangan: italic = fiksi



Seorang perempuan terduduk lama, dengan tangan tengadah di depan wajahnya. Bibirnya kaku, tidak bergerak apalagi mengeluarkan suara. Ia tidak pula sedang berdoa dalam hati. Matanya justru fokus menelusuri detail telapak tangannya. Garis-garis di sana, ada yang jelas dan dalam, ada yang tipis dan hampir tak terlihat jelas, ada yang panjang, ada yang pendek. Seketika, ia menyadari kekurangannya, mengapa ia 'lupa' bagaimana cara berdoa, dan kebingungan harus berdoa apa. Lalu selapis kaca muncul di bola matanya, menebal, untuk kemudian luruh dalam bentuk sebulir air mata.

***

Seseorang pernah bertanya padaku, ia kebingungan tentang doa apa yang harus ia ucapkan, ia lupa dan memilih tidak berdoa, karena tidak tahu harus berbicara apa di hadapan Allah. Masalah dalam hidupnya memang menggayut langkahnya, membuat bahunya membungkuk, matanya memang sering basah karena tangis, bibirnya jemarinya sering curhat ke sana sini tentang masalahnya. Tapi ia lupa, entah sejak kapan ia berhenti berdoa, pada Rabb yang Maha Mendengar.

Aku pernah ada di situasi seperti itu. I've been there, done that, feel that kinda confuse feeling. Memang tidak mudah memulai lagi komunikasi yang pernah terhenti. Entah itu komunikasi dengan manusia, apalagi komunikasi dengan Allah. Tidak mudah, tapi bukan berarti terlalu sulit sehingga tidak mungkin dilakukan. Karena sebenarnya pintu itu selalu terbuka, rahmatNya selalu mengalir, despite we never ask for it. Karena sebenarnya, mengangkat tangan dan bicara lirih berdoa kepadaNya, jauh lebih mudah, jauh.. jauh lebih mudah daripada saat kau jauh dan memilih mencari sandaran lain.

***

Tangan perempuan dengan mukena kain putih tersebut turun, ia belum bisa mengatakan apapun, bukan sebuah doa yang ia tuturkan dalam hatinya. Namun ia sudah melangkah lebih dekat, mencoba berdoa kepada Allah Yang Maha Mendengar.

'Aku lemah Ya Allah, sedangkan Engkau Maha Kuat. Aku tidak berdaya, sedangkan Engkau Maha berkuasa. Aku hina dan banyak dosa, sedangkan Engkau Maha Pengampun. Aku... aku malu, untuk memintamu sesuatu, setelah bertahun-tahun aku tidak pernah menemuiMu. Aku... aku tidak tahu cara berdoa, sedangkan Engkau Maha Mengetahui Segala Sesuatu. Aku.......' 

Tangan perempuan tersebut, sibuk membuka tasnya, mencari tissue, agar air matanya tidak mengotori mukena yang ia kenakan. Setelah ia menghela nafas, meradakan sedikit tangisnya, ia kembali menengadahkan kedua tangannya, kepalanya tertunduk, dan komunikasinya dengan Zat Yang Tidak Pernah Tidur berlanjut.

***

Saat seseorang tadi bertanya, atau mungkin hanya menyatakan keadaannya, sejujurnya aku bingung harus menjawab apa, tanggapan apa yang harus kujawab. Akhirnya aku hanya menjawab singkat, kalau kita cuma perlu ambil wudhu, shalat dua rakaat, kemudian duduk dan mengangkat tangan, curhat saja, semua hal yang ingin kita ucapkan, lalu doa akan mengalir, komunikasi dengan Allah akan terjalin, tanpa sadar pasti akan mrebes mili.

Lalu percakapan itu terhenti, berganti topik. Tapi pikiranku tidak pernah beranjak dari sana. Teringat masa-masa ku, saat belajar ulang bagaimana berdoa kepada Allah. Merasa apakah jawabanku salah?

Selain dengan cara jawaban pertamaku, aku pernah belajar berdoa lagi, lewat pengingat dari kakak (Mba Ita). Bagaimana Mba ita mengingatkanku untuk banyak doa Nabi Yunus, doa singkat. Beberapa kali, setelah diingatkan, setiap kali aku merasa hatiku tidak tenang, atau saat aku berjalan dan pikiranku seolah ingin meledak karena satu persatu pikiran buruk muncul. Aku paksakan lisanku dan hatiku untuk membaca doa itu,  la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzholimin.

Lalu doanya berganti, saat aku membuka kembali Quran sudah lama tertutup. Kutemukan doa yang dulu sudah kuhafal, namun amalnya terkikis. Doa Nabi Adam, Doa Nabi Musa, Doa Pemuda Al Kahfi, Doa ketika lupa mengucapkan In syaa Allah, dan doa-doa lain. Mungkin bukan selalu kuucapkan saat tanganku naik, atau bukan juga setelah shalat. Mungkin justru sering kuucapkan saat sedang berjalan, atau saat duduk menunggu, atau saat di dalam angkot, tapi lewat itu aku belajar ulang, kalau cuma doa, doa kepada Allah yang bisa benar-benar menenangkan hatiku. Bukan curhat lewat blog ini, bukan curhat ke temen dekat, bukan nangis, bukan nulis di selembar kertas, bukan jalan kaki, bukan yang lain.

***

Perempuan yang tadinya bermukena putih itu, kini sedang berjalan. Ia memakai kemeja panjang biru, dengan kaos putih, serta celana jins hitam. Rambutnya dikucir layaknya ekor kuda, tidak tertutup sehelai kain. Ia berjalan pelan menuju tempat peminjaman mukena, untuk mengembalikan mukena yang tadi ia pakai untuk shalat dua rakaat pendek dhuha, dan untuk berdoa pertama kalinya, pertama kalinya, setelah dua puluhan tahun.

Saat ia sedang menali sepatu sneaker berwarna merahnya, sebuah suara memanggil namanya. Bertanya apakah ia akan masuk ke kelas suatu mata kuliah, ia mengangguk. Kemudian keduanya berjalan bersama, disertai obrolan ringan yang merekahkan senyum.

The End.

***

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya