Follow Me

Wednesday, September 6, 2017

Perasaan Reaktif ; Emosi Sesaat

Bismillah.
#hikmah

Tahukah kamu perasaan sesaat, emosi reaktif yang tiba-tiba muncul karena perubahan rencana? Atau perasaan sesaat, emosi reaktif saat teman yang kau tunggu tiba-tiba tidak jadi hadir. Atau perasaan sesaat, emosi reaktif saat semua orang tidak setuju dengan opinimu. Atau perasaan sesaat, emosi reaktif lainnya. Kalau mau dibawa ke tema baper juga bisa. Misal perasaan sesaat, emosi reaktif, ketika tiba-tiba ada lawan jenis yang suka jailin kamu. Atau tiba-tiba perhatian sama kamu. Semacam itu.

Mungkin saat itu kamu tidak tahu, kalau itu cuma perasaan sesaat. Ya, kamu belum tahu kalau itu cuma emosi reaktif saja. Mungkin kamu memilih untuk menunjukkannya, tanpa tedeng aling-aling, meluapkannya. Mungkin kamu memilih untuk membiarkannya berada di hatimu, sampai perasaan sesaat itu, emosi reaktif itu memilih untuk menetap jauh lebih lama dari seharusnya.

Perasaan sesaat itu.. emosi reaktif itu.. Aku juga pernah begitu, menunjukkannya, meluapkannya, membuat orang lain tidak nyaman karenanya. Aku juga pernah begitu, membiarkannya tersimpan di hati, lalu yang seharusnya cuma sesaat, jadi menetap satu dua hari, atau bahkan satu dua pekan. Kemudian, setelah pilihan itu, aku dibuat menyesal. Seharusnya dulu perasaan sesaat itu ga aku tunjukkan, seharusnya aku ga biarkan emosi reaktif itu menetap lebih lama.

bahan kimia
***

Perjalanan dua malam satu hari kemarin, membuatku menyadari. Betapa nyamannya, betapa leganya, kalau kita memilih untuk tidak menunjukkan perasaan sesaat itu. Membuatku belajar, ah.. ternyata senyaman ini, selega ini, kalau kita tidak membiarkan emosi reaktif itu mencuat apalagi di simpan lebih lama. Rasanya nyaman dan lega kala perasaan sesaat atau emosi reaktif tersebut kita salurkan lewat hal lain, tidak ditunjukkan, namun bukan berarti disimpan lebih lama.

Jujur rasanya agak kesel, saat akhirnya perjalanan tersebut hanya sekedar perjalanan. Aku ga jadi 'kendaraan' untuk kembali kemudian mengurus berbagai hal di sana. Tapi sekedar perjalanan, lalu aku kembali ke rumah. Rasanya berlipat kesal hehe, apalagi, saat menentukan gamis dan kerudung mana yang hendak kupakai, Ibuku melarang pakai ini dan ini, menganjurkan pakai itu dan itu. Rasanya ingin nangis aja, atau ngambek ke Ibu, juga ke Ayah. Tapi malam itu, aku entah kenapa menjadi yang mengalah. Perasaan sesaat, emosi reaktif ingin menangis, marah dan ngembek, Allah bimbing agar tidak ditunjukkan, bukan berarti pula disimpan. Aku mengalah, nurut saja pakai gamis A dan B, milih kerudung X dan Y. Ikut perjalanan, yang artinya sekedar perjalanan, ga jadi kendaraan penggantar.

Itu yang pertama. Yang kedua juga ada. Kejadian detailnya ga aku ceritain ya, takutnya, malah jadi curhat. Tapi intinya, kemarin siang aku digerakkan hatinya oleh Allah agar tidak memilih meluapkan perasaan sesaat, juga tidak menyimpan emosi reaktif. Disalurkan, dengan kegiatan lain, berusaha mengalihkan fokus. Alhamdulillah sama Allah disediakan pula sarana/alat penyalurnya. Sebuah buku yang berada di rak, agak kusam dan berdebu memang, namun berhasil membuatku menetralkan perasaan sesaat dan emosi reaktifku siang itu.

Hasilnya? Alhamdulillah jauh lebih nyaman dan lega. Perjalananannya jadi damai, banyak hikmah yang bisa aku petik karena aku tidak terbawa perasaan sesaat dan emosi reaktif. Sampai bisa dengan pelan aku bergumam pada diri, mungkin ini memang yang terbaik untuk saat ini. Berada di rumah dulu, sampai nanti Ayah dan Ibu izinkan pergi lagi untuk menyelesaikan beberapa hal yang harus diurus.

Hasilnya? Alhamdulillah jauh lebih nyaman dan lega. Selepas membaca buku itu, aku jadi lebih tenang menemani Ibu dan Ayah jalan dari satu lantai ke lantai di bawahnya, lalu memilih kendaraan yang lebih nyaman, yang mengantarkan ke parkiran bis yang akan membawa kami kembali ke kota Satria.

***

Kejadian tentang emosi sesaat dan perasaan reaktif ini.. bagaimana menanganinya, pilihan yang harusnya diambil. Somehow mengingatkanku pada kejadian lain di masa lampau. Dulu aku memang memilih menunjukkannya, lewat tetesan embun *wkwkwk. Tapi Alhamdulillah, karena saat itu aku sendiri, dan jalan kaki menjauh dari banyak orang. Efeknya, efek buruk meluapkan emosi reaktif tadi, ga terkena pihak lain. Aku membuat tulisannya kok, tapi lupa udah di publish atau belum. Saat itu aku berkesimpulan, kalau aku ga berhak marah. Iya, aku ga berhak malah cuma karena menunggu lalu ditinggal pergi. Karena sebenarnya, ada jauh banyak hikmah yang aku dapat. Karena toh, paginya, justru ia yang sudah rela menjemputku dan menungguku. Karena intinya, aku ga berhak marah. Dan Alhamdulillah aku berhasil menyampaikan perasaanku padanya. Semoga sedikit kalimatku saat itu membuat perasaan bersalahnya hilang. Karena ia tipe yang kepikiran seharian kalau ada hal yang menurutnya adalah sebuah kesalahan yang ia lakukan.

***

Wah, jadi panjang banget ya? Hehe. Tambahin lagi lah, biar makin panjang *jail hehe.

Kalau mau bahas dari segi vmj. Percaya gak sih, perasaan itu cuma sesaat dan seringkali cuma emosi reaktif saja? Mungkin kamu pernah memilih menunjukkannya, atau menyimpannya dan efeknya jadi menetap satu dua bulan, bahkan tahun. Lalu karena pilihan itu kamu jadi sakit hati. Ya, menunjukkan vmj, atau menyimpan vmj ga akan berbuah hal baik untuk hatimu *imho. Ya, ngapain ditunjukkin, nanti juga hilang, dan virus itu, harusnya bukan ditunjukkin tapi disembuhin. Juga ngapain disimpan, kaya kamu sakit flu tapi membiarkan flunya, ga minum obat, ga minum madu, berdamai dengan flu, padahal flu itu pasti menganggu hari-harimu.

Jadi kalau perasaan sesaat ini, emosi reaktif ini, tentang vmj, harusnya gimana? Dibiarkan, jangan dipupuk, jangan disirami, jangan disimpan. Kan sesaat, kan reaktif, harusnya bisa segera hilang. Atau disalurkan ke hal lain, yang ini aku bingung kasih contohnya apa, mungkin dengan menyibukkan diri, atau dengan hal lain. Ahh.. kalau ada yang tanya, perasaan vmj ga ada obatnya deh, ya.. aku juga gatau sih ada obatnya apa ga. Tapi kan kita punya Allah, banyak doa dan curhat ke Allah, banyak minta dibersihkan hatinya, apalagi kalau vmj sampai membuat waktu kita tersita cuma mikirin satu orang yang belum tentu jodoh kita. Waste of time. Bahkan kalau itu jodoh kita pun, banyak memikirkannya juga tidak menyelesaikan apapun.

Intinya, kalau perasaan sesaat, dan emosi reaktif dikaitkan dengan vmj. Intinya sama sih kaya sebelumnya, jangan ditunjukkan atau diluapkan. Jangan pula di simpan. Sedangkan kalau ada yang mau tanya case per case, jangan sama saya, ga ahli tentang ini. Hehe. Tanya sama yang ahli. Hehe.

***

Semoga ga ada yang salah fokus ya. Hehe. Aku biasanya menghindari bahasan vmj, tapi kali ini gatau kenapa malah dilanjutkan meski tulisannya jadi makin panjang.

Intinya, aku senang, perjalanan dua malam satu hari itu, membuatku berhasil memetik hikmah ini. Hikmah yang seharusnya aku petik jauh-jauh hari karena hint-nya sudah Allah berikan beberapa saat yang lalu. Tidak apa-apa, mungkin aku bukan tipe pembelajar cepat. Selama masih mau belajar, dan harus ditingkatkan semangat belajarnya.

Selamat menjalani hari-hari berwarna (: Semoga tulisan ini bisa memberi warna lain di harimu. Zai jian!

Allahua'lam.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya