Follow Me

Monday, February 19, 2024

Buah Simalakama

February 19, 2024 1 Comments

Bismillah.

#opini



Ada yang masih ingat tentang peribahasa buah simalakama? Buah yang dimakan atau tidak, dua-duanya sama-sama buruk buat kita. Ibarat terjebak, tidak bisa maju, juga tidak bisa mundur.


Bagiku, demokrasi, bak buah simalakama. Itulah mengapa aku sedikit banyak membenci politik. Bukan karena politiknya, tapi karena aku seringkali dibuat pusing jika mulai memikirkannya.


Aku teringat awal-awal mengenal politik. Bukan, bukan langsung ke ranah politik negara. Tapi lewat politik kampus. Kubu depan dan belakang, kubu timur dan barat.


Aku juga teringat pertama kali aku dihadapkan realita bahwa islam itu seolah terkotak-kotak dalam organisasi/harokah. Aku tidak bisa lupa saat aku menangis karena merasa dipaksa harus memilih kelompok. Terlebih aku mendengar curhatan teman, saat ia sudah memilih, dan perubahan sikap senior dari 'kelompok' lain. Saat itu aku masih belum banyak tahu, yang aku tahu aku merasa terpojok, dan pilihanku adalah lari. Tidak memilih salah satu pun dari keduanya. Alhamdulillah saat itu aku bertemu ustadz yang bijak, beliau menjelaskan awal mula mengapa terjadi 'perpecahan tersebut'. Tentang hadits muslim yang terbagi menjadi 72 golongan, lalu tentang pembagian zaman menjadi lima masa. Cita-cita yang sama ingin meraih kembali masa saat Islam berjaya dan menjadi pemimpin. Serta perbedaan cara untuk meraihnya. Singkatnya itu.

 

Dan karena sekarang demokrasi yang digunakan untuk memilih pemimpin, terbagilah jadi dua. Yang memilih berjuang dengan masuk ke dalam sistem, dan yang memilih berjuang di luar sistem. Masuk dalam sistem di sini maksudnya ya, ikut nyaleg, masuk ke partai, dll, dst. Di luar sistem, ya selain itu. Belum lagi perbedaan pendapat saat tahun pemilu, ada yang memilih, ada yang golput, ada yang abai/cuek.

 

Jujur, aku sebenarnya agak anti dengan politik. Padahal kan dalam hidup kita gak bisa lepas dari politik ya? Mungkin bukan anti diksi yang tepat. Aku hanya tidak suka saat kepalaku dibuat pusing akan permasalahan yang terus menerus muncul di politik. Kecurangan-kecurangan. Sikap yang terlalu berpihak tanpa mendahulukan rasionalitas. Debat-debat tak berujung. Dan masih banyak hal lain.

 

Demokrasi bagiku bak buah simalakama. Memakannya salah, tapi tidak memakannya juga salah. Dan kalau sudah bingung kaya gini, kita tidak bisa sekedar mengikuti perasaan, atau ego pribadi. Harus mau mendengarkan, membaca dan berdiskusi lebih banyak. Dengarkan pendapat para ulama, atau orang-orang yang lebih berilmu. Kemudian baru memilih sikap.

 

***

 

Terakhir, saat kita merasa dunia begitu gelap dan sistem demokrasi yang seperti buah simalakama ini membuat kita tak berkutik, kembalilah kepada Allah, Rasul-Nya, dan Al Quran. Bukankah setiap pagi dan sore Allah menyarankan kita untuk membaca ayat-ayat terakhir Al Baqarah?

 

Seperti malam yang berganti pagi, dan siang yang berganti malam, seperti itu juga kekuasaan Allah pergulirkan di tangan manusia-manusia. Jangan putus asa, dan bergantung pada buah simalakama. Tetap pegang erat iman kepada Allah, meski seperti menggenggam batu bara. Lalu lanjutkan langkah kita, perbaiki terus diri kita, bangun keluarga yang baik. Nanti dari keluarga-keluarga itu akan terbentuk masyarakat yang baik pula.

 

Aku teringat sebuah kutipan meski lupa dari siapa, tentang masalah sistemik, yang solusinya juga harus sistemik. Kau tahu artinya apa? Artinya, kita harus bekerja sama dan bahu membahu, bukan malah berpecah belah dan saling menyalahkan. Kalau kita semua balik dan fokus mempelajari Al Quran dan sunnah, dengan izin Allah, hati kita akan Allah satukan juga. Toh tujuan kita sama kan? Jangan jadikan perbedaan sebagai pemecah. Saat Allah menciptakan manusia menjadi laki-laki dan perempuan dan menjadi bangsa-bangsa, perbedaan itu.. tahukah apa yang ingin Allah ajarkan lewat perbedaan itu? Cek Al Hujurat! Supaya kita saling mengenal dan saling belajar dari kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Jadi, saat kita dihadapkan dengan buah simalakama, semoga kita tidak lupa pada pencipta buah simalakama. Saat Allah menakdirkan kita berada di sini, di saat ini, dengan segala keruwetan situasi ini, sebenarnya ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik. Semoga Allah memudahkan kita untuk melewati ujian ini, sehingga nanti saat bertemu dengan-Nya, kita termasuk orang-orang yang lulus ujian di dunia, ujian apapun, termasuk ujian buah simalakama ini.


Wallahua'lam bishowab.


***


Keterangan : Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Monday, February 12, 2024

Jarak Antara Biji dan Pohon yang Berbuah Manis

February 12, 2024 0 Comments

Bismillah.


 

Beberapa waktu belakangan ini, aku banyak memikirkan tentang jarak antara ilmu dan amal. Jarak antara biji menjadi pohon yang berbuah manis. Ada banyak waktu bertumbuh dan berproses yang aku tidak bisa bersabar. Rasanya seperti lebih lambat dari seekor siput.


Aku teringat buku-buku yang pernah kubaca, kemudian aku berkaca dan berusaha jujur pada diri. Berapa persen biji yang sudah ditanam dan tumbuh menjadi benih, berapa banyak yang layu, adakah yang masih bertahan dan mulai tumbuh tinggi dan berkambium? Adakah yang benar-benar menjadi pohon dan mulai berbunga? Adakah yang bertahan diterpa badai dan masih berbuah. Jikapun berbuah, apakah ia manis? Seperti jeruk? Semoga bukan buah Raihanah.


Aku bertanya-tanya, tentang buku yang kubaca saat masa-masa gelap dalam hidupku. Saat menulis ini, aku teringat 3 buku:

 

1. The Life-Changing Magic of Tidying Up- Marie Kondo

2. Amalan Penghilang Susah (: - Musthafa Sheikh Ibrahim Haqqi

3. 7 Habits of Highly Effective People - Stephen R. Covey


Sudah 5 tahun sejak buku-buku itu kubaca, apa kabar pada biji yang pernah kutanam? Benarkah sudah kutanam? Jika ada yang benar-benar ditanam, adakah yang sudah tumbuh menjadi pohon berusia 5 tahun?


Yang Berubah


Satu hal yang alhamdulillah berubah adalah mindset atau perspektif dalam melihat 3 topik di atas.

Pertama tentang topik bersih-bersih, dan kaitannya dengan mengubah hidup.

Baca juga: Berbenah yang Mengubah Hidup

Kedua tentang pandanganku terhadap kesedihan, bagaimana kondisi iman sangat mempengaruhi bagaimana sikap kita pada perasaan yang pasti aku kembali kita rasakan lagi dan lagi dalam hidup. Belajar ulang mengenal Allah lagi dan mengamalkan amal-amal "kecil" yang seperti janji Allah, kalau kita mau melakukannya dengan tulus, Allah pelan-pelan akan hapus kesedihan kita.

Baca juga: Quote Tentang Istighfar

Dan yang terakhir tentang topik 7 kebiasaan baik yang harus kita ulangi terus dalam hidup.

Baca juga: Daun - Akar; Perilaku - Cara Pandang  


Bagaimana dengan yang lain?

 

Tapi selain mindset, adakah hal-hal praktis yang kupelajari dari buku-buku itu benar-benar dilakukan sehingga berbuah manis? Atau lebih banyak yang tertinggal sebagai teori, menjadikanku seperti keledai yang membawa banyak buku? Beratnya terasa, tapi tidak manisnya.

Contohnya tentang ilmu tentang membuang sebelum membereskan, supaya kamar kita tidak menjadi gudang tempat hal-hal yang jarang dipakai, atau bahkan tidak pernah dipakai.

Atau ilmu tentang sedekah sebagai salah satu amalan penghilang susah, sudahkah istiqomah? Atau cuma dilakukan saat ingat saja? Pada momen-momen tertentu?

Atau tentang ilmu manajemen waktu dan prioritas. Sudahkah mayoritas hal yang dikerjakan di kuadran dua? Atau masih saja sibuk tenggelam dalam kuadran tiga, dan sering terjebak dengan stress di kuadran satu?

 

Jika Tidak Tumbuh, atau Lambat... 


Saat menengok dua hal tersebut, dari perubahan mindset yang alhamdulillah sampai saat ini dirasakan, juga melihat hal-hal praktis lain yang seolah menjadi teori saja.. aku bertanya-tanya. Jika "biji ilmu" yang sudah dibaca tidak tumbuh, atau lambat untuk tumbuh. Apa penyebabnya? Langkah apa yang tertinggal? Pengganggu apa yang harus disingkirkan?


1. Jika tidak tumbuh


Mungkin biji tidak tumbuh menjadi benih, karena dari awal kita tidak pernah menanamnya. Bijinya tersimpan saja di suatu laci, atau diletakkan jauh dari tanah.


Atau jikapun sudah ditanam, barangkali kita lupa menyiramnya, tanahnya terlalu kering untuk bisa menjadi media tanam. Jikapun tidak ada tanah, kan ada hidroponik, cari media tanam yang lain. Bagaimana dengan sinar matahari, adakah? Atau kita barangkali tidak tahu, bahwa ada biji yang tumbuh lebih baik di tempat gelap?


Baru saja, sembari menulis ini, aku membuka tumblr, dan menemukan kutipan ini dari akusore.tumblr.com



Poster sederhana di atas dipost di story seseorang, lalu dituliskan di tumblr orang lain, untuk kemudian di reblog dua kali, dan dari orang terakhir itu, aku menemukannya. Aku memang belum membaca tulisan lengkap yang direblog, tapi satu desain sederhana ini membuatku bertanya-tanya. Adakah barangkali aku terlalu sering mempublikasikan rencana, bergerak dengan suara berisik, dan itu mempengaruhi mengapa rencana-rencana masih menjadi rencana dan belum juga selesai direalisasikan?

 

Do I talk too much? Write too much, but then never busy in implementing what I said and what I wrote?


2. Jika lambat


Jika tumbuhnya lambat, sering terserang jamur, hampir mati kekeringan, dll. Apa yang harus diperbaiki? Ilmu apa yang perlu kucari agar aku mengenali cara merawat benih agar bisa tumbuh sehat dan cepat? Agar akarnya kuat, batangnya kokoh, dan buahnya manis? Gulma atau hama apa yang perlu aku perangi?


Ada banyak daun berpenyakit yang harus dipotong, supaya daun lainnya gak ikut sakit. Ada rumput-rumput liar yang harus disiangi, agar tidak menghambat pertumbuhan benih yang ditanam. Dan ada banyak hal lain.


Kata distraksi, distraksi dan distraksi begitu sering aku ulang. Aku tahu persis bahwa saat ini aku tidak fokus mengejar apa yang harus kuraih. Aku tahu distraksi-distraksi itu memperlambat bahkan tak jarang membuatku terdiam terlalu lama, membuatku makin jauh dari garis final. Tapi setelah menuliskan pengingat itu, adakah aku benar-benar berjuang untuk meningkatkan fokus dan mengabaikan distraksi? Atau lebih sering, hanya mencoba satu dua kali, kemudian segera menyerah dan tenggelam lagi dalam distraksi? Tidak cukupkah, rasa sakit saat itu untuk memberikanmu pelajaran dan membuatmu kapok? 


***


Aku bertanya-tanya tentang jarak antara ilmu dan amal. Aku menerka dan mencoba menuliskan jarak antara biji hingga menjadi pohon yang berbuah manis.

 

Aku berharap aku bisa bersabar, tapi sekaligus teliti dan tidak lalai. Karena memang benar,

 

"Pertumbuhan diri bersifat lembut. Hal ini jelas bukan perbaikan kilat."

 

Baca juga: Pertumbuhan Diri: Lembut; Bukan Perbaikan Kilat

 

Tapi aku harus teliti, karena bisa jadi aku menjustifikasi begitu banyak hal, supaya aku merasa nyaman saat benihnya lambat tumbuh, atau lebih parah lagi, saat bijinya tidak tumbuh. 


Terakhir, sebuah potongan ayat yang mengingatkanku untuk fokus menjadi lebih baik selangkah demi selangkah, sembari memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah. Ayat, yang minimal seharusnya dibaca satu pekan sekali di hari jumat.

 

عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًۭا

'asaa ayyahdiyani rabbi li aqraba min hadza rasyada [1]


Wallahua'am bishowab.


***


Keterangan:

 

[1] QS Al Kahfi ayat 24. Penjelasan tadabbur ayat yang membuat ayat ini istimewa buatku ada di https://youtu.be/7hmi5ck5ph8

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: Lama rasanya tidak membuat tulisan sepanjang ini. Terinspirasi dari tulisan teman di Medium. Eh, yang kemarin ditulis, juga panjang ya sebenernya? wkwkwk.

Monday, February 5, 2024

E-book yang Selesai Kubaca Tahun 2022 (part 3 - end)

February 05, 2024 0 Comments

Bismillah.

#bersihbersihdraft

 


 

Sudah di Februari 2024, kenapa baru nulis e-book yang dibaca tahun 2022 Bel? Wkwkwk. Terlalu memang hehe. Anyway, langsung aja. Ini e-book terakhir yang kubaca di tahun 2022.

Baca juga: Part 1 ; Part 2

 

5. Kitab Cinta dan Patah Hati

 - Sinta Yudisia, Indiva Media Kreasi

sumber: goodreads


Buku ini kubaca pada masa lagi semangat baca buku-bukunya Mba Sinta Yudisia. Karya fiksinya sudah, non fiksi tentang cinta juga sudah tahun 2021 yang judulnya cinta x cinta. Tapi yang sebelumnya, target pembacanya lebih ke remaja. Kalau buku ini lebih untuk umum. Selain target pembaca yang beda, jumlah halaman juga beda. Kalau yang untuk remaja cuma 138 halaman, dan tulisannya lebih ringan dibaca. Yang ini juga gak berat sebenarnya, seperti biasa ada banyak info dan fakta yang disajikan. Gaya penulisan yang berbeda dibandingkan buku tentang "cinta" ala Anis Matta atau Salim A. Fillah.
 
Meski buku ini tentang cinta, tapi baca buku ini dijamin gak baper. Karena isinya emang nggak dibuat mellow. Banyak tips dari buku ini yang membantuku untuk tenang sembari menjalani masa menunggu jodoh datang hehe. Oh ya, pas baca buku ini, aku juga sedang ikutan challenge 66 hari baca buku @menjadi.arketipe. Jadi banyak quotesnya yang aku share juga di story instagram. Tapi gak aku kategoriin sesuai buku sih, bisa cek aja di highlight baca buku tiap hari. Oh ya, sebenarnya aku re-post di sini juga, cuma baru sampai day 31. Karena niatnya, dibedain antara laporan dengan yang disini. Untuk di blog ini, insight aku perpanjang. Sekalian aku mengulang lagi belajar dari kutipan yang pernah aku baca, gituu.

Baca juga: 66 Hari Baca Buku 
 
Berikut ini beberapa kutipan dari buku Kitab Cinta dan Patah Hati

Salah satu tips supaya bisa bangkit dari patah hati:

"Orang besar mengajarkan hidup tidak terus berkubang pada masalah yang itu-itu saja, tetapi segeralah beralih melakukan pencapaian lain."

"Membaca biografi tokoh yang dikategorikan berhasil akan memperkuat semangat untuk berbuat lebih." - Sinta Yudisia
 
Sebelum mencintai orang lain, cintai diri. Dengan apa? Dengan menghargai prestasi diri, sekecil apapun.

"Prestasi akan sesuatu akan meningkatkan self respect. Setidaknya, bila orang lain tidak menghargai, kitalah yang harus menghargai diri sendiri. Prestasi, seberapapun kecilnya akan membawa kegembiraan sehingga seseorang tak hanya berkubang pada sisi negatif kehidupan." - Sinta Yudisia
 
Ini reminder banget untukku supaya tidak berhenti belajar dan berkarya. Kadang kita menyempitkan makna prestasi sekedar apa disebut prestasi di sekolah, ranking di sekolah, ikut lomba apa, dll. Padahal, kita bisa juga menjadikan pencapaian-pencapaian dalam hidup kita sebagai prestasi juga. Yuk coba cek, kalau misal belum nemu, coba buat. Setiap dari kita punya potensi untuk berprestasi. Semangaat! 

Satu lagi, kutipan terakhir dari buku ini. Jadi di buku ini diceritakan juga kisah cinta nyata yang perlu kita ambil pelajaran. Baik dari sahabat maupun dari non muslim. Cuma yang aku kutip di sini, yang dari sahabat. Ada yang mau nebak kisah cinta siapa? Ali dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma? Teng! Kurang tepat. Ini tentang kisah cinta Ustman bin Affan dan Nailah radhiyallahu 'anhuma. Kutipan yang belum pernah aku tahu sebelum baca buku ini.

"Sungguh kalian telah membunuhnya. Padahal ia telah menghidupkan malam dengan rangkaian Al-Qur'an dalam rakaat." - Nailah binti Al Farafisah pada hari dibunuhnya Ustman bin Affan

Dibahas dua hal, pertama kecintaan Ustman pada Al Quran, yang dibuktikan dengan momen terakhir beliau r.a, meninggal saat sedang membaca Al Quran. Dan juga kecintaan Nailah pada Ustman. Kalau penasaran, silahkan baca bukunya ya~

6. Rasulullah Sang Pendidik

- Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
 
sumber: myedisi.com

Aku baca e-book ini karena ada pekan tematik di the.ladybook kalau nggak salah ingat dalam rangka maulid Nabi. Pengen baca buku tentang Rasulullah tapi bukan sirah. Dan setelah searching di iPusnas, ketemu deh sama buku ini. Aku banyak belajar tentang Rasulullah dari sudut pandang topik pendidikan. Termasuk banyak diingatkan untuk bersabar dan berusaha istiqomah untuk mendidik diri.

Secara kepenulisan memang agak kurang, ada banyak kalimat yang terlalu panjang/tidak efektif. Tapi in syaa Allah tidak mengurangi esensi dari buku ini. Sistem penyampaian di buku ini seringnya menceritakan sirah Nabi, kemudian mengambil pelajaran tentang pendidikan dari sirah tersebut, ditambah beberapa referensi lain.

Langsung aja ke kutipan ya,

"Sebab, ada kebaikan di dalam diri manusia. Di dalam diri setiap orang ada potensi kebaikan, sebagaimana juga ada potensi keburukan. Jika orang-orang yang berperilaku buruk itu dididik, dibina dengan baik, maka potensi kebaikan dalam dirinya itu akan muncul ke permukaan, sebaliknya potensi keburukannya semakin tertekan dan tertutupi. Lalu kebaikan-kebaikan yang mulanya kecil, lama kelamaan semakin besar dan terus membesar, lalu mendominasi hati dan perilakunya, dan jadilah ia sebagai orang baik."
#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Lanjut, pengaruh faktor lingkungan terhadap pendidikan *kaya judul skripsi #eh 

Dr. Baqir Sharif al-Qarashi mengatakan, bahwa lingkungan merupakan salah satu aspek pendidikan yang paling utama. Kadang-kadang anak-anak mengikuti lingkungan mereka tanpa sadar. Lingkungan bisa dengan mudah dan cepat mempengaruhi pikiran lalu terbentuk menjadi kebiasaan pada anak-anak. Para pemuda seringkali mudah mengikuti pengaruh yang baik maupun yang buruk, dari lingkungannya. Faktor-faktor dari dalam diri manusia (internal) dan faktor dari luar dirinya (eksternal), saling berinteraksi dalam membentuk kepribadian."

#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Kalau dulu pas kecil, kita gak bisa banyak pilih tentang lingkungan. Tapi saat sudah dewasa, kita punya kebebasan untuk memilih dimana lingkungan kita ingin tumbuh. Maka penting untuk mengelilingi diri kita dengan lingkungan yang baik dan teman-teman yang baik. Kalau di tempat kerja gak dapet, minimal pastikan kita gabung komunitas atau cari network yang berisi orang-orang baik yang sevisi. Butuh effort lebih memang, tapi worth it!
 
Kutipan terakhir dari buku ini, pengingat tentang nikmat iman dan islam, yang hadir setelah proses perjuangan Rasulullah berdakwah.
 
"....hal ini mengandung hikmah yang sangat besar, di antaranya adalah menjelaskan betapa penting dan agungnya agama yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasalam, sehingga terasa berat mengembannya.

Selain itu juga menjelaskan kepada kaum Muslim, bahwa Islam yang kini dianutnya, adalah agama yang pada mulanya hadir setelah melalui sebuah proses yang amat melelahkan dan menyulitkan."

#daribuku *Rasulullah Sang Pendidik* - Al-Ustadz Muhammad Rusli Amin, AMP Press
 
Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan islam, dan termasuk orang-orang yang shalih aamiin. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus mendidik diri, agar tidak jatuh ke titik paling rendah, padahal Allah menciptakan kita dalam ahsani taqwim. PR: Tadabbur lagi surat At Tin! [1]

7. Dreaming Big - @fibkaramadhan & @vaLentfun21+

 

sumber: catalog.unugha.ac.id

 

E-book ini ditemukan saat aku iseng cari buku baru untuk dibaca dengan keyword "dream". Trus pas cek isinya, pas dengan keinginanku yang butuh bacaan ringan. Buku ini ditulis oleh dua orang, gaya penyampaiannya santai. Isinya tentang mimpi juga tentang cerita bagaimana penulis mencapai mimpi mereka. Jujur agak kaget buku ini ditulis oleh orang-orang yang domisili deket denganku. Purwokerto. M. Syah Fibrika, dosen di Unsoed kalau nggak salah ingat, sedang Valentinus Fun itu motivator.

 

Sebenarnya pas baca buku ini aku gak banyak catet quote, kecuali di akhir aja, karena ikutan program Teman Baca-nya @akademiliterasi.id. Tapi dari yang sedikit itu, semoga cukup buat kamu penasaran dan tertarik untuk membaca buku lagi. Boleh buku ini, atau buku lain yang ada di list TBR (to be read)-mu!

 

Tentang keberanian melewati proses.

"Tanamkan dalam diri bahwa menggapai kata 'sukses' membutuhkan 'proses'. Jika kita berani melewati proses, keberhasilan sebentar lagi akan menjemput kita. Percayalah bahwa banyak orang lain yang lebih berat kegagalan dan ujiannya dibanding kita."

 

Kutipan kisah nyata bahwa mimpi akan terwujud kalau kita melakukan usaha dan terus berjuang meraihnya. Bukan sekedar bermimpi.

"Bapak Taufik Effendi, peraih beasiswa Iuar negeri. Beliau memiliki kondisi buta sejak SMP. Beliau menceritakan blak-blakan mengenai beasiswa yang diraihnya. Ditolak berbagai beasiswa, diremehkan oleh banyak orang, hingga akhirnya beliau meraih semua dengan perjuangan yang membutuhkan waktu dan tenaga. Mereka adalah orang-orang yang berani bermimpi besar. Not only dream but they also do it. Mereka mengejar mimpinya bukan sekedar bermimpi saja."

 

Kutipan terakhir, sekaligus penutup tulisan ini.

"Buku ini akan menjadi hiasan lemari belaka jika kamu tidak mempraktikkannya."

 

Wallahua'lam.

 

***

 

Keterangan:

[1] Salah satu sumber referensi tadabbur yang perlu didengerin ulang "Illustrated At Tin NAKID FQE"

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Wednesday, January 31, 2024

SelfD #19: What do I feel strongly about?

January 31, 2024 1 Comments

Bismillah.

 


Hi! Let's finish the 30 question self discovery even it's so slow! J (smile) V (peace)

 

***

 

What do I feel strongly about?

 

Jujur, waktu aku harus menerjemahkan pertanyaan ini di postingan 30 Pertanyaan untuk Mengenal Diri, aku kebingungan.. hehe. Waktu itu sih aku terjemahin "Apa hal yang menarik bagiku?"

Tapi setelah 4 tahun berlalu, dan diingatkan untuk menulis lanjutan seri #SelfD, aku menemukan 2 definisi baru tentang frase "feel strongly about":


dan dari dua definisi diatas, aku ambil kesimpulan bahwa ini tentang opini kuat kita tentang sesuatu.


Nowadays, I feel strongly about Palestine.

 

It hurts everytime I saw the latest news. And it hurts even more, when I know I can only do a little. And it's tragic, when I see myself sometimes just forget about the situation there and become like a foam of a wave. Ya, busa di ombak air laut. Banyak, tapi mudah hilang dan hanyut. Kebenaran yang dikabarkan Rasulullah tentang ummat Islam di akhir zaman terlihat begitu terang saat ini. Dan aku takut, aku termasuk dari mereka yang terjangkiti wahn. Apa itu wahn? Cinta dunia dan takut mati.


Tapi kesadaran tentang itu, apakah cuma berhenti di situ? Ketakutan itu, apakah akan menghentikan kita melangkah, dan memilih untuk tenggelam? Tidak kan? Bukankah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita untuk beriman dengan dua sayap, rasa takut dan harapan? Karena dengan dua sayap itu, kita akan bisa menyeimbangkan diri dan terbang. Tentu saja, juga dengan cinta. Rasa cinta pada Allah, Rasul-Nya, din-Nya.

 

Maka mari tetap melangkah meski selambat siput. Belajar lagi tentang pentingnya Masjidil Aqsa, kiblat pertama, masjid kedua yang dibangun di bumi. Belajar lagi tentang keberkahan tanah syams. Di sana, Nabi-Nabi kita lahir dan berdakwah. Di Masjid Al Aqsa juga, Nabi Muhammad memimpin semua nabi shalat berjamaah. Mari belajar lagi hadits-hadits akhir zaman, bukankah kita juga ingin, kelak anak cucu kita termasuk dari orang-orang yang membebaskan Masjidil Aqsa? Tidakkah kita ingin menjadi bagian, meski sekecil apapun, membangun kembali peradaban islam, yang sudah Allah janjikan setelah habis masa mulkan jabariyyan?


Untuk cara dan metodenya, setiap orang mungkin punya pilihan masing-masing ya. Dulu pas pertama belajar islam, terus "ketabrak" realitas tentang organisasi/harakah yang banyak, bikin pusing dan nangis. Tapi alhamdulillah ketemu banyak ustadz dan teman-teman shalihah yang mengingatkan lagi untuk fokus ke mempelajari Al Quran dan sunnah, dan itu menenangkan banget.


Jadi, mari pdkt lagi sama Al Quran, baca lagi, hafalin, dengerin kajian tentangnya, tadabbur, mencoba mengamalkannya. Jadi, mari pelajari sunnah Rasul, sedikit demi sedikit. Coba praktikkan minimal sekali, syukur-syukur kalau bisa istiqomah. Belajar juga untuk terus memperbaiki diri secara pribadi, lalu jalankan peran sebaik mungkin dalam keluarga, teman, kalau bisa kontribusi lebih; ambil peran di komunitas atau masyarakat. 


Kelilingi dirimu dengan teman-teman yang bisa mengingatkan tentang hal di atas. Karena wajar sebagai manusia kita sering lupa, sibuk dengan 'dunia sendiri'. Sibuk bekerja dan menjalani rutinitas. Saat lelah, kemudian menenggelamkan diri dalam 'dunia: la'ib, lahwu, zina, dan... (cek al hadid ayat 20, dengerin ulang penjelasan ayatnya)'. Ada kalanya, atau seringnya kita lupa. Makanya penting untuk punya circle yang bisa ingetin kita kalau kita lupa. Buat yang laki-laki, mungkin dengan memaksimalkan peran shalat Jumat, cukup kah? Kalau buat perempuan, jadwalkan dateng kajian, atau ikut mentoring, atau ikut study group.


***


What else do I feel strongly about? The important of literacy.


Aku dulu pernah tidak mengenal diksi literasi, sebelum gabung ke Aksara Salman ITB. Dulu, aku cuma tahu aku suka menulis, pernah sangat menyukai membaca juga. Tapi sejak gabung Aksara, aku jadi paham satu diksi yang mengikat kedua aktivitas tersebut, dan bukan cuma dua hal tersebut, ada satu lagi: diskusi.


Lewat Aksara, aku belajar untuk tidak merasa cukup hanya menulis. Tidak merasa cukup hanya membaca. Tidak merasa cukup hanya menonton. Tapi perlu ada diskusi, perlu ada pertukaran pikiran. Dari diskusi itu, lahirlah tulisan-tulisan baru. Dari diskusi itu, kita jadi membaca buku-buku baru. Never would I ever knew, that watching movies can be a good activity for literacy too.. Aku ingat masa-masa saat duduk di ruangan paling luas di lantai 2 gedung kayu, menonton film pilihan, yang di dalamnya, bukan cuma berisi skenario cerita yang menghibur, tapi juga yang meninggalkan pesan-pesan, juga bahan diskusi. I miss them so much~ I might not be a good member, but I know I learn a lot from sitting around them, listening to their discussion, feeling the warmth spread from them. Bahkan sampai sekarang pun, aku masih merasakan manfaatnya, meski cuma jadi silent reader di grup wa Aksara[1]. Kita sudahi nostalgianya hehe, balik ke literasi.


Why I feel strongly about literacy? Karena saat ini kita digempur di literasi. Reels dan Short membuat attention span kita makin pendek. Baca berita, cuma baca judul dan beberapa kalimat awal, atau skimming. Baca buku? Kalaupun ada yang yang baca buku, banyak yang nggak bisa menuliskan ulang dari apa yang dibaca. Padahal menulis adalah bentuk kita mencerna informasi yang kita baca/tonton. Diskusi? Ada yang masih punya circle yang asik untuk diskusi berbagai macam topik, secara mendalam, dan gak cuma hal remeh temeh? Jangankan percakapan mendalam, sekedar sapa dan obrolan santai saja, kita sering terhalang sibuknya masing-masing orang dengan gadget masing-masing. Salut, untuk mereka yang punya energi dan kemampuan komunikasi baik dan sering membuka pintu percakapan.

 

Jadi intinya, mari semangat lagi ber-literasi! Step by step. Baca, nulis, diskusi, baca, nulis, diskusi.  

 

Sekian. Semoga tulisan SelfD lainnya segera ditulis. Semoga seri SelfD bisa kuselesaikan di tahun 2024. Aamiin. 11 tulisan lagi. Semangat!

 

Kamu juga tertarik menulis tentang self discovery? Coba buat versimu dan jawab pertanyaan-pertanyaan di 30 Pertanyaan untuk Mengenal Diri. Boleh share linknya ke aku, biar aku bisa baca juga ^^


Terakhir, selamat melanjutkan perjalanan mengenal diri!


***

 

Keterangan:

[1] Kalau bukan lewat grup wa Aksara, mungkin aku gak akan tahu isu tentang solusi pinjol untuk mahasiswa yang terhambat pembayaran UKT, diskusi tentang pendidikan, biaya mahal, operasional kampus yang gak tercukupi, dll.

[2] Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu *minggu. **masih ragu mau disetor ke 1m1c apa gak, soalnya tulisan ini versi free writing.


Baca juga:

 



 

 




SelfD #21: What are my priorities?

SelfD #22: My Top 5 Favorites Quotes 

SelfD #23: What Motivates Me? 



 

Thursday, January 25, 2024

Belajar Tentang Fokus

January 25, 2024 0 Comments
Bismillah.

Nukil Buku "Muslim Produktif | Mohammed Faris"

Bagaimana cara fokus? Dari mana harus memulai?

1. Kembali pada rutinitas spiritual Anda

Cek jadwal shalat, jadikan shalat sebagai tiang pengikat waktu Anda.

2. Kosongkan pikiran

Ambil kertas kosong, tuliskan apa saja yang terbersit di pikiran. Jika sudah selesai, kita akan merasa lega dan bisa melihat apa saja yang ada dalam pikiran kita.

3. Simpan informasi di tempat-tempat yang sesuai

Masukan janji2 pertemuan di kalendar, catat hal lain di buku catatan.

4. MIT (konsep yg dibuat Gina Tippani editor Lifehacker.com)

Jika sudah memetakan apa yang ada dalam pikiran, dan mengatur semua di tempat yang pas. Saatnya melenturkan otot fokus dan menuntaskan semua tugas!

Pilih 3 tugas yang sangat penting, lakukan.

5. Jadwalkan sesi-sesi fokus Anda.

Sesi fokus : periode selama 90menit dimana Anda tidak memberi kesempatan pada diri Anda sendiri untuk diganggu oleh apa pun saat sedang melakukan satu tugas tertentu.

Minimal 2 waktu: 1 waktu di pagi untuk MIT, 1 waktu lagi untuk tugas lain di luar MIT.

6. Terapkan Persamaan Fokus

"Putuskan + Sederhanakan"

***

Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu dari buku-buku yang kita baca. Aamiin.

Wednesday, January 24, 2024

Trust

January 24, 2024 0 Comments

Sumber: e-book Teropong Waktu - Rezky Firmansyah & Lucy Maryeni

Let me put it here first. Semoga nanti, ada waktu untuk menulis lebih panjang di sini.

It's almost the end of January. Yet I still haven't write anything yet in this "new" year.

Mohon doanya ^^
 
***
 
27.01.2024 | Tambahan tulisan, untuk diri.

Teropong Waktu adalah salah satu e-book yang sedang kubaca di awal Januari ini. Ini sebuah buku yang diterbitkan bersama undangan pernikahan mereka. Rezky Firmansyah adalah salah satu motivator menulis yang aku ikutin, awalnya baca materi menulis dari Rezky dari blog Teh Hajah, saat beliau ikut program 30DWC. Lalu saat gabung komunitas menulis 8PM di telegram.

 
Sejak itu, sering ngikutin instagramnya. Jujur awalnya agak minder gitu, karena Rezky seumuran, tapi karyanya sangat banyak, sedangkan aku, bisa dibilang nol. Tapi rasa minder, gak boleh jadi penghalang untuk belajar dan ambil inspirasi kan?
 
Meski gak ikut 30DWC, aku menikmati baca inspirasi dari para fighter.
 

I always love free e-book, that's why I love using iPusnas. Tapi beberapa bulan kemarin, gatau kenapa  iPusnas-ku sering error. Akhirnya aku milih untuk baca e-book yang sudah di download. Pertama e-book terbitan yuk.iqra "Berani Patah untuk Merekah", lalu lanjut e-book "Teropong Waktu" ini.

Meski e-booknya dipublish bareng undangan pernikahan mereka berdua, tapi temanya bukan tentang pernikahan. Dari sedikit yang aku baca, isinya lebih ke refleksi kehidupan masing-masing, dari masa kecil, hingga sebelum menikah. Jumlah tulisannya juga disesuaikan umur. 29 tulisan dari Rezky, dan 26 tulisan dari Lucy.

Buku ini jelas berbeda daripada buku "hadiah" pernikahan lain yang pernah kubaca. Buku "Melangkah Searah"-nya Kurniawan Gunadi dan Aji Nur Afifah yang lebih fokus ke pernikahan.

Kutipan yang ku-capture di atas adalah tulisan Lucy Maryeni saat menuliskan perjuangannya meraih beasiswa S2, kegagalan yang dialami, dan keputusannya untuk tidak menyerah. Dihantam masa covid, keputusan untuk daftar S2 tanpa beasiswa, dan skenario manis dari Allah.

Jujur aku malu dan merasa tersindir. Aku seolah dibawa untuk melihat teropong waktuku sendiri. Membuatku menyadari, mungkin memang itu salah satu alasan aku mulai membenci diriku. Berapa banyak janji yang kubuat pada diri, berapa kali aku sendiri yang mengingkarinya? 

2023 ini, tentang draft buku, baru terisi 107. Masih ada 93 halaman yang harus diisi. Mari belajar untuk memperbaiki rasa percaya pada diri sendiri dengan menepati janji pada diri. Jangan kalah sama distraksi. Jangan menyerah meski sudah "lewat" deadline. Jangan cuma banyak nulis di tempat lain, latihan fokus!

Semoga Allah memudahkan. Aamiin.

kutipan lain dari e-book yang sama.

Wallahua'lam.

Sunday, December 31, 2023

Ada yang Mau Dibagikan?

December 31, 2023 0 Comments

Bismillah.

 

#bersihbersihdraft

 

Pertanyaan serupa, dengan diksi berbeda pernah hampir tiap hari dalam sebulan kudengar. Saat itu, entah mengapa aku lebih sering menahan lidah dan menjawab dengan perasaan gamang, "belum ada".

 

Perasaan itulah, yang akhirnya mendorongku membuat draft tulisan ini. Saat itu aku menuliskan,

It's the second time that I become a participant in this kinda program. But this time, I feel for sure that I am not as enthusiastic as I was before.


Waktu berlalu, dan tulisan ini masuk ke antrian draft, lama tak diselesaikan. Dan saat waktu itu berjalan, aku menemukan diriku di situasi yang mirip dan pertanyaan yang sama. Alhamdulillah, kali ini jawabanku lebih antusias. Entah karena kondisiku yang lebih baik, atau karena bahasannya lebih familiar, dan orang di sambungan telepon kali itu energinya menarikku untuk ikut bersemangat. Ada banyak faktor. Tapi kutemukan lagi manisnya berbagi, meski sedikit, dari apa yang kupahami.

 

Oh ya, program yang aku ikuti saat itu mewajibkan peserta untuk membaca tulisan, kemudian berpasangan dan membagikan insight dari tulisan yang dibagikan tiap hari. Sifatnya "sunnah", jadi boleh juga tidak berbagi apa-apa, jika merasa cukup membaca saja.

 

***


Ada yang mau dibagikan?


Tentang memberi... aku pernah di posisi bertanya-tanya, bagaimana bisa berbagi, jika kita merasa tidak memiliki apapun yang dibagikan. Aku ingat saat itu aku menemukan diriku di situasi "tragis", saat aku berusaha membantu orang lain, akan hal-hal yang aku sendiri kesulitan dan butuh bantuan. (I'll search the old posts and share the link, in syaa Allah)


Tapi kemudian aku mendapat insight baru, setelah membaca buku antologi Ramadan seorang blogger. Pengalaman penulis buku tersebut membuatku menemukan hikmah baru. Bahwa bisa jadi lewat kita Allah berikan kesempatan untuk berbagi dan membantu kesulitan orang lain di "masalah yang mirip", justru dari situlah jalan kemudahan untuk urusan kita juga akan dibuka. Saat itulah aku mulai menyadari kesalahan pikiranku, betapa saat itu aku terlalu fokus pada kekurangan, dan lupa untuk mencari hikmah dibalik kejadian itu. Aku lupa, bahwa ada hadits yang mengajarkan kita, bahwa saat kita memudahkan atau membantu saudara muslim yang lain, Allah akan memudahkan dan membantu kita.


***


Ada yang mau dibagikan?

 

Bagaimana jika kita ragu? Apakah saat ragu itu, lebih baik kita menahan untuk berbagi, atau lebih baik tetap berbagi sambil berjuang di balik layar?


Jawabannya... tergantung konteks dan situasi. Untuk pertanyaan ini, aku harus hati-hati. Karena setiap case itu unik.


Kalau keraguan ini karena ilmu kita yang belum seberapa, ingatan yang buram, tidak yakin apakah yang kita sampaikan benar atau tidak, apa kita benar-benar tahu... maka lebih baik menahannya. Jangan terbawa ego untuk menjawab setiap pertanyaan. Ada kalanya kita harus mengakui bahwa diri ini tidak tahu.


Kalau keraguan ini karena dari pengetahuan itu, kita sendiri merasa masih belum bisa mengamalkannya. Ragu karena rasa takut dibenci Allah, mengatakan sesuatu yang belum kita kerjakan. Yang ini, aku masih 50:50. Ada kalanya aku tetap membagikan, sambil berjuang di balik layar, berdoa, semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya. Tapi... aku pun yakin, bahwa ada saatnya kita harus menahan diri dan menahannya. Karena urutan dari ilmu itu.. setelah menyimak, mencatat, dan memahami... adalah mengamalkan terlebih dahulu.


Pernah aku membaca di buku Tazkiyatunnafs ala Tabi'in, disebutkan bahwa saat itu ada yang meminta seorang tabiin/tabiin tabiut untuk khutbah tentang suatu tema. Namun beliau menunda menyampaikan topik tersebut sampai beberapa pertemuan. Jamaahnya pun bertanya kenapa baru disampaikan, beliau menjawab karena kemarin2 masih mengumpulkan uang untuk mengamalkan hal tersebut. Aku agak lupa amalannya apa, tapi kalau nggak salah tentang membebaskan budak.

 

Itu pertimbangan yang membuatku sering memilih diam dan menyimpan sendiri apa-apa yang kudapatkan. Karena aku tahu persis, aku masih terseok-seok dalam mengamalkan, atau lebih buruk, aku takut ternyata aku justru melakukan hal sebaliknya. Membuatku bertanya-tanya sendiri, berharap ayat ini ditujukan pada diri, ata'murunannassa bil birri wa tansauna anfusakum? wa antum tatlunal kitab...

 

۞ أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَـٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

[Surat Al-Baqarah (2) ayat 44]


Tapi di sisi lain, aku tahu betul betapa pentingnya saling menasihati dalam agama Islam. Sungguh, kalau semua orang memilih untuk diam dan tidak saling berbagi, tidak saling mengingatkan dalam haq (kebenaran) dan kesabaran, tentu kita semua dalam kerugian. Tenggelam dalam masalah masing-masing, tidak ada yang membantu saat was-was setan yang menyuruh kita menyerah dan terus membisikkan kebohongan-kebohongan yang membuat kita berputus asa dari rahmat Allah. Tentu kita juga tidak ingin begitu kan?


Semoga Allah memberikan kita kebijaksanaan, untuk tahu kapan kita harus diam dan memilih menyimak. Sibuk membenahi diri, berjuang untuk mengamalkan ilmu. Dan semoga Allah juga memberikan kita keberanian dan kekuatan, untuk berbagi, meski sedikit dari yang sampai pada kita. Sedikit hikmah, sedikit pelajaran, sedikit cerita, sedikit pemahaman, sedikit insight. Tidak mengapa sedikit, sesederhana membagikan satu ayat. Ayat yang "mutiara"-nya pernah kita "lihat" dan membuat mata kita berkaca-kaca karena keindahannya. Ayat yang mengingatkan kita lagi untuk terus berjuang mendekat pada-Nya.


Terakhir, sebuah pertanyaan untukmu: jadi, ada yang mau dibagikan? 

 

Wallahua'lam.

Wednesday, December 27, 2023

Delightful Time with Quran

December 27, 2023 1 Comments

Bismillah.

 


 

 

Judul ini terinspirasi sebuah program di komunitas quran @guidelight.id. Pernah hadir beberapa kali. Biasanya diadakan awal bulan. Sebuah forum diskusi tadabbur.


Sistemnya, peserta masuk kelas online. Lalu pembukaan, dan penjelasan teknis. Lalu personal tadabbur, masing-masing diberi waktu untuk tadabbur, bebas mau ayat apa, surat mana. Kalau bingung harus tadabbur bagaimana, butuh bantuan tambahan referensi, diberi juga beberapa referensi dan link bacaan dari panitia. Aku lupa berapa lama durasinya, 30 menit? Atau hanya 15 menit? Setelah selesai tadabbur masing-masing, baru dimulai sesi sharing. Dipersilahkan untuk membagikan hasil tadabbur masing-masing.


That's it. It's a delightful time with Quran. Berbeda dengan rutinitas membaca quran yang hanya baca text arab qurannya saja. Saat merasa membaca terjemah saja masih kurang. Sesi tadabbur ini membuat kita belajar untuk mengamalkan ayat "afala yatadabbarunal quran", semoga sedikit dari usaha kita menjadi bukti, bahwa kita masih punya hati, hati.. yang semoga tidak terkunci dari hidayah dari-Nya.


***


Delightful time with Quran itu bagiku, penting, banget. Bahkan untuk yang masih terseok-seok mengejar target tilawah dan hafalannya. Sebuah pengingat, bahwa quran ini, bukan seperti buku biasa, yang cukup dibaca. Ia bukan sekedar hafalan, yang cukup dihafal di lidah. Ada hati yang seharusnya bergetar tiap kali kita membacanya. Ada biji-biji niat amal kebaikan yang seharusnya tertanam di hati setiap kali kita menghafalkan ayatnya.


Mari meluangkan waktu itu. Kalau dari satu komunitas, tiba-tiba prokernya sudah tidak ada. Cari lagi dari komunitas lain. Ngafal Ngefeel-nya Kak Siti misalnya.

 


 

Kalau ini, programnya, baca insight, ngafalin, dan setor hafalan setiap hari ke mentor, oh ya, ada quiz juga tiap pekannya. Sistem pendaftarannya memang agak-agak spesial gitu sih. Karena cuma dibuka beberapa jam saja di tanggal yang ditentukan. Dan ada seleksi juga, jadi ya, kalau nggak diterima, mari cukupkan membaca insightnya aja, di web https://www.ngafalngefeel.com/ atau bisa dengerin insight dari podcastnya, ada dua channel : Ngafal Ngefeel dan Quranic Insight.


Oh ya, dari Ngafal Ngefeel, ada juga program komunitas "anak"-nya, namanya SNN. Bedanya sama Ngafal Ngefeel, di sini nggak ada mentor. Sistemnya tiap peserta dipasangkan, lalu saling setoran via telp dan sharing dari insight yang sudah dibaca. 


***


Tapi contoh di atas itu semua kegiatan online ya? Nggak ada yang offline aja?


Nah untuk kamu yang lebih suka kegiatan langsung tatap muka. Boleh banget segera bikin program delightful time with quran dengan teman-temanmu yang satu visi. Mereka yang sama-sama ingin mendekatkan diri dengan Allah lewat Al Quran. Nggak perlu banyak-banyak, cukup tiga-empat orang dulu. Carinya dimana? Cari dari temen-temen terdekatmu dulu. Kalau nggak ada, coba dateng ke kajian di masjid terdekat, kenalan sama temen yang duduk di sebelahmu. Jangan lupa minta tolong ke Allah juga, supaya dimudahkan dapet temen bisa diajakin tadabbur quran bareng, meski cuma satu bulan sekali. Semoga nanti Allah bukakan jalannya, bahkan lewat hal-hal yang nggak kita sangka.

 

Dan misal belum ketemu, bersabarlah berusaha dan berjuang sendiri, berjuang melawan nafsu, dan berusaha mengatur waktu, agar kita punya delightful time with quran. Semangaat...!


Semoga Allah memberikan kita kemudahan dan hidayah, agar tidak lupa menikmati ayat-ayat Al Quran, bukan cuma lewat membaca dan menghafalnya, tapi juga lewat tadabbur, dan berusaha mengamalkan ayat-ayatNya. Aamiin.


Wallahua'lam.


***


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.

Saturday, December 16, 2023

Buku Cinta, Buku Sejarah, dan Satu Novel

December 16, 2023 0 Comments

Bismillah.


Agustus-September (2021) yang lalu ada 3 buku yang aku selesaikan. Tiga buku ini aku pinjam dan baca dari aplikasi iPusnas.


Buku Cinta


sumber gambar


Judul: Cinta x Cinta = Cinta^2

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Indiva


Bukunya Mba Sinta lagi hehe. Temanya tentang cinta, dan ini buku Psikologi Remaja, sub judulnya "Biar Masa Remajamu Nggak Sia-Sia!". Meski ini buku untuk remaja, dibaca oleh orang dewasa masih cocok kok. Gak terlalu berasa age gapnya. Bahasannya juga bagus, ada beberapa contoh kisah cinta yang terkenal, dan dari situ kita belajar. Sebenarnya aku gak terlalu ingat isinya. Tapi pesan yang aku dapat sih, intinya jangan terlalu disibukkan dengan cinta, terutama untuk usia remaja, sibukkan dirimu dengan aktivitas positif lainnya, sibuk berkarya, dll.

 

Kutipan dari buku ini:

 

"Cari posisimu, posisi masing-masing di alam semesta. Pasti ada yang istimewa dari dirimu! Belum dapat? Coba pelajari dan temukan, juga asah bakat terpendam lain. . . . . . Hamka bahkan ditolak menjadi guru, karena tidak punya ijazah diploma. Tekad kuatnya belajar, menjadikannya ulama dan sastrawan yang dipuja, hingga sekarang. Love yourself, and find something amazing about you!"

#daribuku Cinta x Cinta = Cinta^2 - Sinta Yudisia, Penerbit Indiva


Buku Sejarah


sumber gambar


Judul: Sejarah Peradaban Islam (Sumbangan Peradaban Dinasti-Dinasti Islam)

Penulis: Saeful Bahri

Penerbit: Penerbit Pustaka Aufa Media (PAM Press)


Aku pinjam buku ini di iPusnas, karena merasa pengetahuanku akan sejarah islam yang bisa dibilang mendekati nol. Buku ini bukan buku sejarah yang mendalam, lebih ke overview, aku bahkan baru nyadar ketika mendekati akhir bab 1 bahwa buku ini adalah buku sejarah buat anak sekolah setara SMA kayanya. Karena di akhir bab, ada semacam pertanyaan-pertanyaan untuk mengecek apa yang sudah kita baca. Buku ini cocok untuk orang kaya aku, yang dari kecil sekolah negri, dan gak pernah dapet pelajaran sejarah islam, kecuali sirah nabawiyah. Buku ini cukup buat kita mengintip dan melihat secara sekilas, bagaimana sejarah kerajaan/dinasti islam, juga tahu karya/peninggalan apa yang ada di masa itu, baik secara pengetahuan/ilmu yang sampai sekarang kepakai, atau bangunan-bangunan, dll.

 

Kutipan dari buku ini:

 

"Motivasi penaklukan Andalusia didorong oleh semangat untuk membantu kelompok yang tertindas, yaitu seorang yang bernama Julian, Gubernur Ceuta (Sebtah) bersama pengikutnya yang terintimidasi oleh penguasa kawasan itu yang bernama Roderick."

#daribuku *Sejarah Peradaban Islam* (Sumbangan Peradaban Dinasti-Dinasti Islam) - Saeful Bahri, Penerbit Pustaka Aufa Media (PAM Press)



Satu Novel


sumber gambar

Judul: Sirius Seoul

Penulis: Sinta Yudisia

Penerbit: Pastel Books

 

Novel ketiga Sinta Yudisia yang kubaca dari iPusnas, setelah Reem dan Polaris Fukuoka. Lanjutan Polaris Fukuoka, karena karakter utamanya masih sama. Tapi kalaupun belum baca Polaris Fukuoka juga gapapa, tetep bisa kok menikmati novel ini. Bercerita tentang Sofia yang ke Korea untuk bertemu sepupunya. Aku suka novel ini karena banyak membahas tentang psikologi. Aku gatau gimana perasaan seorang anak perempuan yang tidak mengenal ayahnya, ditinggal ayahnya. Aku belajar lewat novel ini. Betapa pentingnya peran ayah pada anak perempuan. Agak kaget juga saat membaca bagian akhir novelnya. Sepertinya begitulah rasanya berbincang dengan mereka yang punya masalah mental, perlu kesabaran sampai ada saat mereka akhirnya mau membuka diri dan bercerita yang sesungguhnya.


Kalau di Polaris Fukuoka dibuka dengan puisi kematian, sesuatu yang sudah tidak bisa dicegah, karena Isao sudah pergi tanpa Sofia pernah benar-benar mengenalinya. Tapi di Sirius Seoul, setidaknya Sofia berusaha untuk bertemu dengan sepupunya, dan mencoba mengenali dan memahami jalan pikiran sepupunya itu. I wish there's another sequel of this novel. Aku ingin tahu bagaimana kisah lain di hidup Sofia.

 

Kutipan dari buku ini:

 

Dia belum pernah ke Gyeokbukgung, tetapi membayangkan kompleks istana dengan museum dan pusat sejarah di sampingnya, membuatnya iri untuk kesekian kali. Apakah sejarah kerajaan besar di Indonesia seperti Majapahit, Mataram, Sriwijaya, juga dijelaskan pada khalayak dengan berbagai bahasa dunia agar orang dapat mempelajari keunggulan sejarah Indonesia?

#daribuku *Sirius Seoul* - Sinta Yudisia, Pastel Books


***

 

Menyelesaikan draft ini sebenarnya sesuatu... hehe. Draft ini tadinya cuma berisi foto cover dan keterangan buku. Benar-benar menulis dari awal, dan sudah 2 tahun sejak aku membaca 3 buku tersebut.

 

Selain itu, menyelesaikan draft ini juga mengingatkanku bahwa tahun 2021, aku lagi semangat-semangatnya membaca dan membagikan apa yang kubaca. Berbeda sekali dengan tahun ini, ehm. Anyway, mari kita tutup tulisannya.


Semoga Allah memudahkan kita untuk terus membaca dan menulis, sesedikit apapun. Setidaknya kita berusaha untuk terus belajar dan mencatat hasil belajar tersebut, supaya kita tidak lupa. Semangat membaca dan menulis~


Wallahua'lam.

 

*** 


Keterangan: Tulisan ini juga diikutkan dalam komunitas #1m1c (Satu Minggu Satu Cerita). Berbagi satu cerita, satu minggu.


PS: Menemukan draft November 2021 saat hendak import tulisan tentang buku ke Medium. Alhamdulillah punya medium, meski cuma perpanjangan tangan dan reblog dari tulisan blog ini dengan niche buku. Setidaknya dengan itu, aku belajar ulang, apa yang pernah aku baca dari buku, dan juga, siapa tahu kaya gini: nemu draft yang belum diselesaikan setelah 2 tahun hehe.

Sunday, December 10, 2023

A31: Istikharah dan Musyawarah

December 10, 2023 0 Comments

 Bismillah.

 #menjadiarketipe #66haribacabuku

 


 

 

☑️ #DAY31-0090

📖 At-Tibyan, Imam An-Nawawi

 

📑 Quote:

Tidak akan rugi orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah. 


💡 Insight:

Hidup kita penuh dengan pilihan, dari yang sifatnya personal, sampai yang menyangkut urusan banyak orang. Dan saat kita bingung harus memilih yang sama, Allah sudah menyediakan bagi kita 2 cara yang baik untuk kita, istikharah dan musyawarah. Mari manfaatkan dua hal tersebut ^^

Karena akan ada banyak pilihan yang membuat kita bingung dan ragu. Semoga kita dihindarkan dari mengambil keputusan yang membuat kita rugi dan menyesal.

 

***

 

Keterangan: Tulisan ini merupakan bagian dari serial kutipan buku yang kulaporkan untuk program 66 hari baca buku @menjadi.arketipe 1 Februari - 7 April 2022. Tulisan lainnya bisa dibaca di #66haribacabuku atau di page 66 Hari Baca Buku 






Friday, December 1, 2023

Hi December~

December 01, 2023 0 Comments

Bismillah.


📸 sumber
 

Hi December~


Lama tidak membuat tulisan ringan yang isinya cuma sapaan.


Alhamdulillah, setelah lama tenggelam dalam perasaan negatif yang membuatku makin enggan menulis... Akhirnya aku berusaha dan mencoba untuk keluar dari tempurung. I don't want to be a frog hehe.


Bulan ini, penghujung tahun syamsiyah, semoga ditutup dengan hal-hal baik. Seperti biasa, ada banyak ekspektasi, rencana, dll. Semoga Allah memudahkan kita semua menjalaninya selangkah demi selangkah. Jangan terlalu tergesa dan panik, biasanya jadi mudah jatuh.


Semoga, melihat berita dan bantu share tentang Palestina, membuat kita lebih semangat menghidupi hidup kita. Malu sebenarnya dengan keimanan penduduk palestina. Tapi sekedar malu saja, lalu kembali tenggelam dalam distraksi, apa bedanya? Bukankah yang terpenting adalah mengambil pelajaran dan inspirasi dari mereka, kemudian menanamkan hikmahnya dalam hidup kita? Ayo bell! Banguun!! You've been asleep for too long.


Anyway, sekian. Mohon doanya, semoga bulan ini bisa produktif nulis, baca, dan berquran. Semoga Allah juga memudahkanmu untuk produktif dengan hal-hal yang menjadi fokus dan visi misi hidupmu. Aamiin.

 

Oh ya, kalau ada, ide atau kesempatan bisa kolaborasi kebaikan, jangan sungkan untuk kontak ya. Boleh komen di sini, atau dm @betterword_kirei. Aku tipe orangnya suka banget berkomunitas, dan ngerasa butuh banget temen biar ngejaga naik turun diri dalam banyak hal. Jadi jangan ragu.


Ini beneran sekian. That's all, and take care^^ Bye 5!


Wallahua'lam.