Follow Me

Sunday, November 6, 2016

Sebagai Ujian Satu Sama Lain

#fiksi #cerpen

Bismillah. 

what reason?
"Terus?" tanya Aster dengan mata berbinar-binar.

Zelika (Ze) menjauhkan jemarinya dari keyboard kemudian menolehkan wajahnya ke Aster dengan mata yg memicing. Aster membalas dengan tatapan yang seolah bertanya, "Kenapa?"

Ze  mengalihkan pandangannya ke layar LCD di hadapannya, jemarinya kembali ke kesibukan awalnya, menari di atas keyboard.

"Oh," tiba-tiba Aster teringat sesuatu. Buru-buru ia minta maaf.

Ze dan Aster memang berbeda, tapi uniknya, persahabatan mereka justru makin erat karena perbedaan diantara mereka. Ze yang suka rasa coklat, dan Aster yang suka rasa strowbery. Ze yang dingin, dan Aster yang superduper ramah.

"Jadi kalian papasan, trus udah? Saling lewat aja? Ga ada sapaan, ga ada sekedar menganggukkan kepala atau saling lempar senyum?"

"Hm.." jawab Ze singkat.

Aster yang mendengar jawaban Ze langsung heboh. Aster mulai menjelaskan satu persatu imajinasinya, tentang berada di dimensi waktu yang berbeda. Tentang waktu yang terasa somehow lebih lambat saat Ze dan Abqari berpapasan. Seperti slow motion, seperti di film-film. Wajah Ze memang masih menatap layar, tapi tanpa Ze sadari, jemarinya memelankan temponya, pikirannya melayang ke beberapa jam yang lalu saat ia bertemu Abqari.

"Tapi kan ini bukan yang pertama kali Ze," ucap Aster masih dengan nada berapi-api. Seolah-olah ia jadi saksi insiden terhebat di tahun ini.

Aster mulai menjelaskan satu persatu kejadian serupa tapi tak sama tentang pertemuan Ze dan Abqari. Pertemuan yang tidak di sengaja, di tempat-tempat yang posibiliti mereka bertemu sangat kecil.

"Ini ga mungkin kebetulan Ze," ucap Aster berusaha meyakinkan.

Ze menelungkupkan tangan kanannya di depan matanya, kepalanya tertunduk. Ia menyesal telah menceritakan pertemuan mengejutkan tadi sore dengan Abqari. Ze salah, seharusnya ia tidak pernah menceritakan tentangnya dan pertemuan-pertemuan mengejutkan dengan Abqari sejak 3 tahun yang lalu.

"Tunggu dulu, kamu kan ga percaya sama kebetulan ya?" tanya Aster, mengingat salah satu keyakinan Ze.

Ia masih antusias membahas kemungkinan-kemungkinan kisah romantis antara Ze dan Abqari, meski reaksi Ze justru reaksi orang yang tidak mau lagi mendengar perkataan Aster. Ze bukan menjawab pertanyaan, namun justru meraih headset, dan menyumpal kedua telinganya. Aster masih tidak menyerah, ia mencoba mengulang kalimat yang pernah Ze ajarkan padanya. Bahwa apa yang terjadi di dunia ini tidak pernah suatu kebetulan. Penciptaan alam semesta ini bukan suatu kebetulan, ada tujuan dan makna dibalik itu.

"Termasuk bertemunya aku dan kamu, meski kita hampir selalu beda pendapat, itu juga bukan kebetulan," ucap Aster setelah menarik headset yang menutup telinga kanan Ze.

"Kamu sendiri yang bilang ke aku gitu kan. You can't shallow what you've been said," ujar Aster kali ini dengan nada tegas, meminta respon 'kalimat' dari Ze.

Ze menghela nafas berat.

"Ya... Pertemuanku dengan Abqari hari ini juga bukan kebetulan, itu takdir Allah. Juga pertemuan-pertemuan tak sengaja dan mengejutkan yang berulang beberapa waktu yang lalu. Trus kenapa?" Respon Ze meninggikan suaranya.

Ze memang dingin, ia selalu menjawab dengan satu kata. Ya, hm, atau tidak menjawab. Tapi ketika ia meninggikan suaranya, apalagi dengan kalimat sepanjang itu, artinya Ze sudah berada di titik klimaks.

Awalnya Ze cuek, cuek saja seperti saat satu dua kali tanpa sengaja Ze berpapasan dengan Abqari. Termasuk hari ini, tapi entah mengapa, penjelasan demi penjelasan Aster beberapa menit yang lalu benar. Ze memang merasa ada di dimensi waktu berbeda waktu sore tadi, tanpa sengaja berpapasan dengan Abqari. Waktu yang hanya beberapa detik itu, seolah terjadi dalam beberapa menit. Slow motion, seperti di film-film. Ze yang tadinya tidak ada rasa simpati apapun pada Abqari, malam itu otaknya dibuat bekerja keras. Sebagian dirinya menolak, mengatakan kalau itu hanya prasangkanya.

"Em... m... Gini Ze.. Aku.. Aku ga bermaksud gitu kok. Gini.." Aster terbata menjelaskan argumennya. Ia berhati-hati agar Ze tidak meledak, jika Ze sampai meledak, maka mereka akan diam-diaman selama 3 hari. Dan Aster yang cerewet nan ramah harus menghadapi perang dingin dengan Ze pasti kalah. Tiga hari adalah siksaan terberat jika harus diam-diaman dengan satu-satunya sahabatnya. Ze yang mendengar kegagapan Aster melunakkan pandangan matanya, seolah berkata lembut pada sohibnya untuk melanjutkan argumennya dengan tenang.

"Jadi, pertemuan kalian sore ini bukan kebetulan kan? Karena bukan kebetulan, maka ada yang Tuhan rencanakan untuk kalian kan? Hikmah, atau tujuan. Ada kan?" tanya Aster lancar, namun nadanya tidak seantusias sebelumnya.

Ze mengangguk. Aster buru-buru ingin menegaskan lagi opiniya, bahwa Ze dan Abqari mungkin memang ditakdirkan untuk bersama.  Tapi kali ini, Aster kalah cepat.

"Tapi bukan selalu tujuannya seperti itu," tangkas Ze.

Aster masing menganga, kaget karena Ze yang pendiam dan dingin itu bisa mengalahkan kecepatan lidahnya yang terkenal supercerewet dan superramah.

"Mungkin Allah mempertemukan kami sebagai ujian satu sama lain," lanjut Ze.

Aster menggigit kuku ibu jarinya sembari memandang langit-langit kamar Ze. Ini bukan pertama kali-nya Ze menyebut tentang ujian sebagai hikmah bertemunya dua orang. Aster ingat, saat Ze menghibur dirinya yang nangis super depresi karena dosen killer yang tega memberi nilai E padanya, padahal ia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Aster tidak tahu, setelah ia keluar ruangan ujian, seolah mahasiswa membalik lembar jawabnya dan menyalinnya. Saat itu Ze memeluk Aster, mengingatkannya, untuk bersabar. Mungkin kejadian itu adalah bentuk ujian dari Tuhan, agar Aster semakin dewasa, agar Aster berani menghadap ke dosen killer tersebut dan menjelaskan kronologisnya. Dan ucapan Ze benar, Aster merasakannya, kejadian itu, takdir itu, adalah ujian baginya.

"Jadi bagaimana kalian jadi ujian bagi satu sama lain? Dalam sisi apa?" tanya Aster

Ze tersenyum, melepas headset di telinga kirinya, "Ini panjang loh penjelasannya, kamu yakin mau dengerin?"

Aster mengangguk. Ia selalu penasaran, mengapa Ze selalu merasa terbebani saat ada kakak tingkat yang berusaha PDKT dengannya. Kalau Aster jadi Ze, pasti ia senang karena ada cowok yang mengerjar-ngejar dia. Aster selalu penasaran, mengapa Ze menangis diam-diam, saat suatu hari ia dipaksa pulang membonceng seorang laki-laki yang bukan saudaranya, karena tidak ada pilihan lain. Memangnya, semenyakitkan itu kah, ketika satu prinsip Ze terlewati karena situasi darurat? Aster penasaran, ia masih belum mengerti, bagaima bisa pertemuan Ze dan Abqari sore tadi, merupakan ujian bagi masing-masing mereka.

To be continued...

***

Baca lanjutannya :
Sebagai Ujian Satu Sama Lain (2)
Sebagai Ujian Satu Sama Lain (3) 

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya