Follow Me

Tuesday, March 21, 2017

#19 Mencari Makna Puncak

Bismillah.

peak
Dan saat satu puncak telah kucapai, apa yang kemudian akan aku lakukan?

Puncak dalam kamus bahasa indonesia adalah bagian yang di atas sekali dari gunung, menara, pohon, dan sebagainya. Namun bagiku, puncak yang akan kujejaki bukanlah yang teratas.

Ya, seperti yang telah aku paparkan di tulisan ke-18, aku memiliki anak tangga yang sifatnya iterasi alias pengulangan. Maka saat satu buku berhasil diterbitkan, langkah berikutnya bukan istirahat, namun justru berjalan menuju puncak berikutnya.

Apa itu puncak berikutnya?

Puncak berikutnya adalah target baru yang dibuat lebih menantang. Target baru yang membutuhkan langkah yang lebih tegas, juga azzam yang lebih mengakar, juga doa yang lebih menjulang. Puncak berikutnya adalah anak-anak tangga baru, dengan kecuraman yang lebih terjal, terkadang berbentuk kesulitan, namun sering juga dalam wajah kesenangan.

Mengapa harus ada puncak berikutnya?

Karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput, dan saat ia datang, maukah kita dalam keadaan bersantai-santai ria? Padahal Allah menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Karena dosa-dosa kita kian menggunung, maka tidakkah kita ingin mengimbanginya dengan pahala? Bukankah yang masuk surga adalah yang amal shalihnya lebih berat dari pada dosanya?

Karena kita tidak pernah tahu, amal mana yang diterima olehNya. Karena kita tidak pernah tahu, amal mana yang berbobot berat di mataNya. Maka ketidaktahuan kita seharusnya terus memacu kita untuk mencari puncak lainnya setelah kita berada di puncak ini.

Karena itulah perintah Allah dalam kitabNya,
“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap.“ -kalamullah-

Maka tunggu apa lagi?

Saat puncak pertama kutapaki, izinkan aku tersenyum dan berucap hamdallah. Karena sungguh, kaki ini tak akan mampu melangkah jika tanpa kekuatan dariNya. Saat puncak pertama kududuki, izinkan aku tersenyum dan berucap syukur. Karena sungguh, jalan ini tak akan sanggup kutelusuri jika tanpa bimbinganMu.

Dan saat syukur telah membuncah, izinkan aku mencari puncak yang lain. Puncak lain yang kucoba daki untuk mendekatkan diri padaNya. Puncak lain yang kucoba kejar untuk mendapat ridhaNya. Puncak lain, yang kuharap menjadi penghantar menuju SurgaNya.
“Tiada suatu musibah*pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” -kalamullah
Allahua’lam.

***

Keterangan

*musibah dapat dalam bentuk kesulitan maupun kesenangan

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya