Follow Me

Monday, May 27, 2019

Refleksi Ramadhan #22: Jangan Marah

Bismillah.


Entah karena hormon yang sedang berubah, atau karena diri yang belum bisa mengendalikan emosi. Tapi rasanya, jengkel, sebal, ingin berteriak, marah, menangis. Rasanya seperti zat reaktif, salah sedikit, bisa meledak.

Tiga kalimat diatas kutulis sore kemarin, tapi terhenti saja. Malam, sebenarnya ingat lagi, bahwa hari itu aku belum menulis. Namun aku lebih memilih lari, dan melakukan hal lain, yang berada di kuadran empat.

Sebenarnya aku bisa saja menyelesaikan tulisan kemarin. Aku cuma perlu sedikit bermain kata, untuk memperjelas tiga kalimat yang sudah kubuat. Bahwa meski tidak puasa, meski ada excuse sedang masanya sensitif, seharusnya aku bisa memilih tidak marah. Ya, selalu ada jeda antara stimulus dan respon. Apalagi kalau mengingat salah satu hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasalam. Bukan satu kalimat, tapi diulang tiga kali. Jangan marah, jangan marah, jangan marah.

Seharusnya juga... kemarin aku bisa menyelesaikan tulisannya. Aku bisa menuliskan tips yang kuketahui jika perasaan marah, ingin menangis, emosi menyergap. Jika sedang berdiri, duduk, tarik nafas dalam, istighfar. Masih ingin marah? Ambil air wudhu. Habis itu semoga reda emosinya. Kalaupun belum reda, lebih baik menangis saja, ketimbang melampiaskan marah ke orang lain dan kemudian menyesalinya.

Menulis ini, mengingatkanku juga. Bahwa biasanya, satu pelanggaran mengundang pelanggaran berikutnya. Seperti efek domino, tapi tidak selalu secepat efek domino. Ada yang pernah dengar, setan cuma perlu menggoda kita untuk mengikuti jalannya, selanjutnya tanpa sadar kita sendiri yang meneruskan berada di jalan tersebut. Apakah karena aku sudah skip tulisan sekali, jadi kemarin, rasanya lebih ringan untuk skip menulis lagi? Payah memang diriku.

Kalau sudah menyadari hal itu, yang harus aku lakukan satu. Mengingat kembali niat awal, kenapa harus ada proyek pribadi menulis setiap hari di Bulan Ramadhan meski hanya satu paragraf? Saat kita bertanya lagi tujuan awal, biasanya motivasi bisa muncul lagi. Selanjutnya, aku juga harus mengevaluasi, waktu mana yang kuhabiskan untuk hal tidak produktif, bagaimana agar waktu itu bisa menjadi produktif, bagaimana memotivasi diri agar tidak menunda, dst.

Terakhir, untukku... meski ada banyak alasan untuk marah, bukan berarti kamu bisa seenaknya memilih untuk marah. Kenapa? Karena marah tidak akan pernah jadi pelampiasan emosi yang tepat, saat kau marah dadamu sesak, dan perasaanmu tidak membaik. Saat dihadapkan pilihan untuk marah, justru pilihan terbaik, adalah mencari ketenangan, dengan mengingatNya, baik lewat dzikir, doa, dan Al Quran.

Allahua'lam.

23 Ramadhan 1439H | 8 Juni 2018
© BetterWord | Refleksi Ramadhan

***

Keterangan : Tulisan Ramadhan tahun lalu, dari facebook pribadi khusus Ramadhan.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya