Follow Me

Sunday, December 18, 2016

Empat Macam Galau atau Gelisah

#catatankajian

Bismillah.

layout rainbow cake, from canva.com, with some changes from me^^

Disampaikan oleh Ustadz Yani, di MQT (Mata Quranic Talk) kalau ga salah, 15 November 2016 yang lalu dengan tema aslinya tentang ghirah/cemburu karena Allah. Di sesi pertanyaan, ada yang bertanya tentang galau. Ini jawabannya:

***

Gelisah/galau ada empat macam menurut Imam Alghazali
1. Gelisah karena hubuddunnya (cinta kepada dunia)
2. Gelisah karena terlalu mengejar cita-cita / karena tidak tercapainya cita-cita
3. Gelisah karena takut menghadapi takdir esok
4. Gelisah karena terlalu banyak dosa

1. Hubud dunya - benci mata/ terlalu takut mati.

Takut mati itu boleh, tapi terlalu takut mati tidak boleh. Solusi galau karena hubuddunya adalah zuhud. Ketika kita terlalu cinta dengan sesuatu atau seseorang, kita jadi takut mati.

2. Ambisius Tendesius

Ambisinya menjadi tekanan/stress. Seharusnya, ambisi itu menjadikan motivasi, spirit/semangat, ghirah. Kalau jadi tekanan, bisa buat hidup kacau.

3. Ketakutan berlebihan terhadap takdir

Waspada boleh, tapi ga boleh gelisah karena takdir. Solusinya, persiapkan dirimu menghadapi takdir, jangan persiapkan untuk melawan takdir. Facing, not fighting. Siapkan plan A, B, C.

Dalam Al Hikam, Ibnu Ath Thoilah menuliskan, "Terkadang pemberian yang terasa tidak terkabul, padahal itulah pengabulan Allah."

4. Orang banyak dosa tidak akan tenang

Solusinya, menghindari sesuatu yang dilarang. Taubat.
***

Izin nambahin sedikit merangkai kata ya, hehe. Tapi yang asli dari kajian cuma yang di atas.



Galau jenis satu itu, ketika kita mencintai dunia, mencintai apa-apa di dunia. Termasuk terlalu mencinta seseorang, atau terlalu mencintai jabatan, atau terlalu mencintai harta. Ketika kita terlalu cinta, otomatis kita jadi posesif, sifat posesif ini membuat kita selalu gelisah/galau. Galau... gimana kalau si X ternyata malah menikah sama akhawat/ikhwan lain dan bukan kita wkwkwk. Galau... gimana kalau jabatan kita direbut orang lain. Galau.. kalau uang kita dicuri, dll.

Galau jenis satu itu, somehow mengingatkanku pada salah satu quotes di buku JCPP-nya Ustadz Salim.

"Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, tapi engkau akan mati. Berbuatlah sekehendakmu, tapi engkau akan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapa pun yang kau dambakan, tapi kau pasti kan berpisah darinya." -Jibril 'alaihi salam

Kita, aku maksudnya, diingatkan lagi lewat quotes tadi, kalau kenyataannya, kita akan mati, semua yang kita lakukan akan ditanya pertanggungjawabannya, dan kita akan berpisah dengan yang kita cintai. Mengingatkanku agar tidak terlalu mencintai dunia, dunia tuh, ibarat sandal, yang kita pakai untuk berjalan, letaknya di kaki, bukan di hati. Allahumma la taj'alaiddunnya akbari hammina.

desain sama, dengan keterangan lapisannya hehe
Galau jenis dua itu, semacam terlalu terobsesi terhadap sesuatu tapi sampai stress. Aku ingin itu, ingin ini, ingin semua, tapi keinginan itu cuma jadi beban pikiran, ga membuat kaki melangkah atau tangan bekerja, justru membuat ambruk. Memiliki keinginan yang tinggi itu baik, seperti yang ada dicatatan di atas, tapi kalau efeknya stress, kita tertekan, jangan. Jangan. Apa yang 'terlalu' itu memang tidak pernah baik untuk diri manusia. Kalau yang di galau jenis satu tentang 'terlalu' cinta, kali ini 'terlalu' ingin.

Galau jenis dua itu, somehow mengingatkanku pada kasus bunuh diri yang banyak terjadi di jepang. Keinginan sangat tinggi, ingin sukses, ingin A, ingin B. Tapi ketika itu tidak tercapai, cita-cita itu jadi tekanan, ia merasa gagal, sampai akhirnya merasa hidupnya tidak berarti karena cita-nya tersebut tidak tercapai. Terjadilah. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah, agar seburuk apapun keadaan kita, selemah apapun iman kita, semoga kita bisa kembali bangkit dan bertaubat, mati dalam keadaan terbaik menghadap Allah.

Galau jenis tiga itu, gelap, rasanya gelap, karena terlalu takut pada apa-apa yang ghaib, pada takdir, yang tidak kita ketahui. Aku gamau komen banyak tentang ini. Ga mau... Cuma ingin mengingatkan diri sendiri aja. Seharusnya iman kita, membuat ketakutan itu sirna. Seharusnya... Keimanan kita, membuat kita tenang. Karena kita tahu persis ilmu-Nya, Allah tidak pernah menginginkan hal-hal yang berat untuk hamba-Nya. Allah knows best. But sometimes, you're blinded, and you feel like... *gatau harus jelasin gimana hehe. Maaf gantung.

Galau jenis tiga itu, somehow mengingatkanku pada masa-masa diriku galau tentang itu hehe. Yang rajin baca di sini, pasti paham lah. Ga paham sih, tahu lah.. Tulisan-tulisan dimana aku menggambarkan kegalauanku tentang yang satu ini hehe. Rasanya saat itu seperti ditepi tebing jurang dan ingin jatuh saja, tapi gamau jatuh wkwkwk, gajelas. Padahal jika kita mau melangkah hati-hati menghindari tebing curam itu, ada tangan yang siap menolong kita, menarik kita, memeluk kita, agar tidak jatuh ke jurang itu. *maaf cuma bisa beranalogi, mengabstrak hihihi.

Galau jenis empat itu, ga bisa lepas dari diri manusia. Pasti akan terjadi, lagi dan lagi. Karena manusia banyak salah dan lupa. Pasti ada saat dimana kita merasa begitu hina dina berkubang dosa. Dan hidup kita jadi tidak tenang, galau, merasaa... Perasaan gelisah. Pasti ada rasa takut, takut taubat karena takut jatuh lagi. Takut dosa kita sudah terlalu besar untuk bisa diampuni Allah. Ketakutan itu, kegelisahan itu kalau dosa kita banyak.

Galau jenis empat itu, somehow mengingatkanku untuk tidak menyerah pada diri sendiri. Az Zumar, ayat berapa? Jangan memutuskan rahmat Allah dengan tanganmu sendiri. Rahmat Allah begitu luas, selama masih bisa bernafas, selama nyawa belum di tenggorokan, bertaubatlah. Mengingatkanku akan manusia yang sifatnya khoththoun, akan ada dosa/kesalahan yang berulang-ulang kita lakukan, meski berulang-ulang taubat. Saat itu.. Kita mungkin merasa ragu dan marah pada diri. Sama. Jangan menyerah pada diri sendiri. Lakukan apapun, lakukan semua hal, agar kita tidak terjatuh lagi di lubang yang sama. Berdoa, minta bantuan Allah, lalu hindari trigger.. Ok?

Allahua'lam.

***

PS : Rekaman ala kadarnya, ga full, di sini.

No comments:

Post a Comment

ditunggu komentarnya